PUKAT: Transformasi Pemberdayaan yang Menumbuhkan

36
Suasana Sidang Pleno Konvensi Nasional Pukatnas di Makassar, Sulawesi Selatan, 28-29/5/2022 (Foto: Dok HIDUP)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Agar makin bisa berakar, bertumbuh, dan berbuah, Pukat perlu menggali spiritulitas yang mampu menjawab tantangan kekinian para profesional dan usahawan.

DUA bibit kelapa ikut disertakan dalam perarakan persembahan Misa Pembukaan Konvensi Nasional Profesional dan Usahawan Katolik (Pukat) di ballroom, Hotel Claro, Makassar, Sabtu, 28/5/2022. Ditaruh di atas nampan, bibit kelapa itu merupakan lambang tananam yang berakar banyak dan kuat, batang yang keras, bisa menjulang tinggi, dan menghasilkan tandan buah yang banyak pula. Bila angin berhembus kencang, pohon kelapa umumnya tidak gampang rubuh. Ia hanya ikut berayun-ayun menahan terpaan tesebut. Batang kelapa yang kuat dapat pula dipergunakan untuk bahan pembuatan kapal sebagaimana banyak dilakukan masyarakat Sulawesi Selatan. Siapa yang tak kenal dengan kapal-kapal pinisi yang termasyur itu. Seluruh ‘tubuh’ kelapa dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, mulai dari akar hingga daun-daunnya. Tak jarang, buah kelapa muda menjadi penawar dahaga tatkala menusia kehausan. Meminumnya seketika dahaga akan terpuaskan.

Konvenas IV Pukat ini memang mengambil tema Membangun Ekonomi Inklusif yang Berkeadilan Sosial, Bersaudara dan Berkelanjutan. Subtema, Berakar, Bertumbuh, dan Berbuah. Tema besar inilah yang mewarnai pembicaraan baik dalam khotbah Misa, Pleno, dan percakapan para peserta Konvenas. Mereka adalah para pengurus Pukat Keuskupan dari keuskupan-keuskupan di Indonesia.

Bermula dari Keuskupan Surabaya, kehadiran dan peran Pukat baik secara nasional maupun di masing-masing keuskupan kian dirasakan. Kehadiran lima uskup yang dengan setia mengikuti seluruh rangkaian Konvenas ini dapat menandakan bahwa Pukat ini perlu dan berguna bagi Gereja Indonesia dan bangsa ini.

Perarakan persembahan pada Misa Pembukaan Konvenas Pukat di Makassar. (Foto: Dok HIDUP)

Kelima uskup itu adalah Uskup Agung Makassar, Mgr. John Liku Ada; Uskup Agung Kupang, Mgr. John Liku Ada; Uskup Banjarmasin, Mgr. Petrus Boddeng Timang; Uskup Tanjung Selor, Mgr. Paulinus Yan Olla; Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San. Selain itu, saat pembukaan, hadir pula secara virtual memberikan sambutan, Sekretaris Eksekutif KWI, Pastor Paulus Christian Siswantoko. Dari jajaran pemerintahan, pada pembukaan hadir memberikan sambutan Wakil Menteri Perdagangan, dan dari Pemerintah Provinsi Sulsel mewakili Gubernur Sulawesi Selatan.

Tanda Kehadiran

Dalam khotbah pada Misa Pembukaan, Mgr. John Liku Ada’ menekankan pentingnya kehadiran Pukat di tengah umat dan bangsa ini. Kehadiran yang harus mampu menampakkan wajah dan kasih Allah. Menurutnya, di dalam komunitas kategorial profesional dan usahawan ini, orang-orang yang tergabung di dalamnya harus mampu memacarkan wajah Allah dan mengalami suatu pembaharuan hidup alias metanonia atau pertobatan. Kendati dalam dunia bisnis kerapkali diwarnai oleh pelbagai praktik yang masih jauh dari etika bisnis, namun para pebisnis Katolik harus terus menegakkan kebenaran dan keadilan.

Hal senada disampikan pula oleh para uskup dalam talkshow. Para uskup meminta Pukat untuk hadir bukan sekadar karya karitatif tapi lebih-lebih pemberdayaan umat.

Mgr. Petrus Turang bahkan meminta agar sebelum melakukan pemberdayaan di salah satu keuskupan misalnya, Pukat terlebih dahulu membuat suatu analisis atau kajian mendalam. Berdasarkan analisis itulah Pukat bersama dengan orang-orang setempat atau pihak-pihak yang akan melakukan pemberdayaan tersebut bergerak dan berjalan bersama. Ia bahkan meminta agar aspek transformasi menjadi basis Pukat untuk melakukan perubahan dunia profesi dan usaha secara berkelanjutan.

Penekanan yang sama juga disampaikan Mgr. Petrus Boddeng Timang dalam khotbah pelantikan Pengurus Pukatnas yang baru di Kapel Seminari Menengah St. Petrus Claver, Makassar. Selain itu, ia juga mengajak para awam Katolik masuk dalam semua profesi, birokrasi, pemerintahan, parlemen dan lain-lain, tentu saja dalam dunia ekonomi dan bisnis. Namun, kehadiran dan keberdaan yang membawa dampak sebagai orang Katolik yang baik.

Penguatan Spiritulitas

Secara keseluruh rangkain Konvenas belangsung dengan suasana persaudaraan. Di luar sidang Konvenas, para peserta tampak akrab. Tak jarang, dalam lobi-lobi mereka membicarakan pelbagai isu-isu menarik dan terkini. Salah satunya adalah soal kepindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan, bagaimana dampaknya terhadap Gereja Katolik sendiri.

Namun, satu hal yang juga penting menjadi perhatian adalah bagaimana meningkatkan kehidupan rohani atau spiritualitas para pukaters. Dalam salah satu pleno, Magda Nangoy, salah satu pendiri Pukat dari Surabaya meminta agar masalah ini tetap diperhatikan. Jangan sampai melupakan visi dan misi awal komunitas rohani usahawan ini. Menurutnya, hierarki Gereja Katolik perlu memberikan perhatian kepada para usahawan agar kehidupan rohani mereka bisa terjaga. Bukan pula meminta atensi khusus tetapi ada apresiasi. “Gereja jangan datang saat meminta bantuan saja kepada para usahawan,” ujarnya disambut tawa peserta yang juga dihadiri para uskup.

Terkait dengan hal ini, salah satu peserta, Hendry Wigin, Ketua Pukat Keuskupan Agung Medan, mengatakan, pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang rapuh. “Tanpa Tuhan menusia akan mudah jatuh. Hanya bersama Tuhan, usahawan dapat berakar, bertumbuh dan berbuah. Maka sudah tentu, usahawan sangat butuh penguatan spiritualitas tersebut,” ujarnya kepada HIDUP.

Par uskup, imam, dan peserta Konvenas berfoto bersama usai Misa Pembukaan Konvenas. (Foto: Dok HIDUP)

Dalam wawancara, Ketua Umum Pukatnas, Julius Yunus Tedja, mengakui bahwa bidang pendalaman spiritulitas ini akan menjadi salah satu aspek perhatian utama dalam kepengurusan tiga tahun ke depan. Menurutnya, dari pengalamannya, para usahawan perlu mendapat pendampingan dari Gereja di tengah tantangan ekonomi dan bisnis di Indonesia.

Acara Konvenas diakhiri dengan kunjungan ke Seminari St. Petrus Claver. Di sana, setelah Misa Pelantikan, para pukaters melihat keadaan seminari dan bertatap muka dengan para seminaris dan pembimbing. Seminari ini adalah salah satu seminari menengah di Indonesia yang mendapat perhatian dari Pukat.

F. Hasiholan Siagian (Makassar)        

HIDUP, Edisi No. 23, Tahun ke-76, Minggu, 5 Juni 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here