Anak Sulung Keuskupan Agung Medan

468
Mgr Kornelius Sipayung OFM Cap bertemu Paus Fransiskus.
[NN/Dok.Pribadi]
Anak Sulung Keuskupan Agung Medan
4.3 (86.67%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Mgr Kornelius Sipayung tidak saja menjadi sulung dalam keluarga. Kini dia menjadi sulung bagi Gereja Keuskupan Agung Medan.

Hongmailim Rosa Tamsar berlutut, membungkuk badan, dan mencium kaki anaknya. Dalam budaya Batak Simalungun, apa yang dilakukan Hongmailim tidaklah sebuah tindakan biasa. Seorang anaklah yang seharusnya mencium demi hormat kepada sang “inang”.

Namun, hari itu Hongmailim tak mempedulikan apa yang lazim dan tidak lazim. Baginya, figur yang berdiri di hadapannya bukanlah lagi anaknya. Si anak, Kornelius Sipayung, telah dipilih menjadi Uskup Agung Medang. Sebagai seorang Katolik, Hongmailim paham, anaknya kini telah menjadi Gembala Utama di sebuah keuskupan di Utara Pulau Sumatera itu.

Perasaan haru bercampur bangga dirasakan Hongmailim. “Anakku, Bapakku!” kata itu keluar dari mulutnya. Saat melihat apa yang dilakukan ibunya, Mgr Kornelius Sipayung OFM Cap pun cepat-cepat membopong tubuh sang ibu. Dipeluknya tubuh rentan itu dengan terenyuh.

Inilah pertemuan pertama Mgr Kornelius Sipayung OFM Cap dengan sang ibu, setelah ia ditunjuk Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung Medan pada 8 Desember 2018 lalu. Hanya selang beberapa hari, Mgr Kornelius menemui keluarganya. Tiba di rumah, ia tidak lagi dipanggil “Nelis”, seperti biasa sang ibu memanggilnya. Kini, ia dipanggil “Bapa” atau “Opung” (sebutan khas umat Keuskupan Agung Medan (KAM) untuk seorang uskup).

Nasib Si Sulung
Hari itu, seisi rumah pun banjir air mata. Merinding, haru, dan tak percaya mereka telah memeluk buah hati yang kini jadi uskup. Para saudara-saudari yang yang berdiri memadati rumah masa kecil uskup menjadi kikuk. Biasanya mereka bersenda gurau bila bertemu kakak pertama mereka itu. Kali ini, suasana sedikit kaku. Seorang keponakan angkat bicara, “Sekarang aku panggil apa tulang (paman)? Tulang pastor atau uskup?” perkataan yang mencairkan suasana.

Hongmailim mengingat saat-saat ia merawat kedelapan anaknya. Setiap hari, ia menyiapkan santapan harian bagi mereka. Ia mengingat, sebagai anak tertua, ia menuntut Nelis mampu menjadi contoh kepada adik-adiknya. “Kalau sekolah, ganti baju, dan langsung ke ladang untuk makan siang. Jangan terlambat. Dia bisa bekerja apa saja: menanam, memanen, dan menjual hasil kebun.”

Di masa kecilnya, Nelis harus sudah bangun jam empat pagi. Ia harus menemani ibunya menyemprot tanaman di kebun. Ia harus membantu sang ibu, sebab ayahnya, Fransiskus Hotman Sipayung, harus bekerja sebagai guru agama di Sordang Raya, Mariah Nagur, Kecamatan Tapian Dolog, Simalunggun. Dengan jarak sekitar 70 kilometer, Fransiskus harus berangkat pagi-pagi untuk sampai di sekolah. Karena itu, Nelis harus menggantikan peran sang ayah untuk menemani ibunya di ladang sebelum ia berangkat ke sekolah.

Kembali dari sekolah, pekerjaan cuci piring dan pakaian, masih menjadi pekerjaan si sulung. Hongmailim menuturkan, boleh jadi inilah yang membentuk Nelis menjadi orang rapi dan bersih. Sang ibu ingat betul akan peran si sulung. Tanggung jawab itu membuat dia kuat.

Semangat juang inilah yang memberanikan Nelis masuk Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar. Meski kedua orangtuanya menginginkan dia masuk ke SMA Negeri, namun Nelis berkeras ingin masuk ke seminari. Fransiskus mengingat, hal ini dipengaruhi juga oleh peran Bruder Kudadiri yang saat itu bertugas di Paroki St Fransiskus Asisi Saribudolok. Bruder itulah yang mengajari agama dan kesenian di SMP RK Bunda Mulia Saribudolok, tempat Nelis belajar. “Kami ingin dia masuk SMA Negeri Saribudolok tetapi dia ingin masuk seminari,” jelas Fransiskus.

Buah Iman
Buah hidup rohani yang berkembang dalam diri Mgr Kornelius turun dari sang ayah. Dalam keyakinan sang ayah, hidup harus seimbang antara doa dan kerja. Sang adik, Erwinson Sipayung menuturkan, ketekunan Nelis berdoa sama dengan apa yang dihidupi ayahnya. Bahkan di Paroki Saribudolok, Fransiskus dikenal sebagai katekis ulung. Ia menuturkan, sang ayah ingin, agar anak-anaknya menjadi imam. “Mendaftar ma ho ambia, (mendaftarlah ke seminari kamu nak)?” tanya sang ayah kepada Nelis tahun 1997.

Di seminari, Nelis bukan pribadi yang diunggulkan. Ia juga tidak terlalu menonjol dalam akademik. Pastor Angelo PK Purba OFM Cap menceritakan, ia melihat sahabatnya itu memiliki kepribadian yang unggul. “Dia baik, bicara sopan, dan taat pada tugasnya,” jelas kepala Paroki Saribudolok ini.

Keinginan yang kuat menjadi biarawan membuat Nelis kadang lupa keluarga. Fransiskus mengingat, suatu kali ia membawa hadiah ke seminari. Namun, melihat kedua orangtuanya, Nelis malah berujar, “Untuk apa ke sini? Saya sudah punya bapak dan ibu di sini.”

Di seminari, Nelis termasuk anak yang memiliki banyak teman. Salah seorang temannya, Brayen Markos mengingat, Nelis sering melawak. Pernah, Nelis masuk kelas memakai sepatu bola lalu diamdiam maju ke kelas menghapus papan tulis. “Awalnya hening menjadi ribut,” cerita sang teman.

Saat di Novisiat Kapusin Parapat, terdengar kabar Nelis akan keluar. Kabar ini sampai ke telinga kedua orangtua. Tak percaya isu ini, keluarga pun menemui Nelis. Fransiskus meminta anaknya untuk mengingat Pastor Elpidius van Duijnhoven OFM Cap atau yang lebih dikenal sebagai “Ompung Dolok”. Fransiskus mengungkapkan, bahwa apa yang dialami Misionaris Kapusin yang bertugas Tanah Simalungun itu masih lebih berat dari apa yang saat itu dialami Nelis. “Belum apa-apa tantangan yang kamu hadapi. Ompung Dolok punya tantangan lebih besar dengan meninggalkan negara dan keluarganya.”

Di tahun ketiga masa pendidikan itu, semua temannya keluar dan tersisa dirinya. Geliat panggilan itu menjadi nyata saat Frater Nelis ditahbiskan diakon di Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Kabanjahe. Perjalanan ini berlanjut hingga ia ditahbiskan imam tahun 1999. Ketika itu, Pastor Kornelius adalah satu-satunya Kapusin yang ditahbiskan bersama Saudara- saudara Ordo Conventual di Delitua.

Uskup Kecil
Perjalanan panggilan si sulung ini terbilang penuh misteri. Suatu ketika, Fransiskus dan anaknya, Nelis, bertandang ke Pastoran Saribudolok. Mereka ingin bertemu pastor untuk minta berkat bagi bibit cabe yang akan mereka tanam di ladang. ternyata, pastor tidak ada, di sana hanya ada Uskup Agung Medan saat itu, Mgr Alfred Gonti Pius Datubara OFM Cap. “Aha nakkan ai pah? (ada perlu apa pak ?)” tanya sang uskup. “On do nean uskup nami, (saya membawa bibit untuk didoakan),” timpal Fransiskus.

Karena tidak ada pastor, maka Mgr Datubara pun bersedia memberkati bibit cabe itu. “Tidak ada orangnya tapi saya bisa mendoakan.” Setelah ia memberkati, ia pun bertanya kepada Nelis. “Apa cita-citamu?” Agak grogi, Nelis hanya terdiam. namun, sesaat kemudian, Mgr Datubara melanjutkan, “Jadilah pastor biar kelak menggantikan saya menjadi uskup.” Kornelius pun mencium tangan bapak uskup dan mengatakan, iya!

Ternyata nasib bisa ditentukan di masa lalu. Saat kabar pemilihannya sebagai Uskup KAM, keluarga tidak percaya. Butuh waktu dua hari untuk meyakinkan kabar itu. Adalah Pastor Jonam Sipayung OFM Cap, adik Mgr Kornelius, yang menelepon untuk memberitahu keluarga. Sang ibu setelah mendengar kabar itu pun menceritakan firasat yang sebelumnya ia rasakan.

Pastor Sirilius Manalu lebih menohok. Ia tidak heran Kornelius jadi uskup. Bila menarik ke belakang, ia mulai mengenal Mgr Kornelius saat menjalani masa TOP di Paroki Saribudolok tahun 1990-1991.

Permintaan Berat
Mgr Kornelius mengatakan, keterpilihannya karena campur tangan Tuhan. Ia sudah merasakah sinyal menjadi uskup sejak satu setengah tahun lalu. Segalanya dia gantungkan pada Tuhan. Apalagi saat itu ia sedang mengalami sakit jantung dan kaki bengkak mendadak membuatnya pasrah pada kehendak Tuhan. Ia memasrahkan pada Deus Meus et Omnia, “Tuhankulah Segalanya dan Mengatur Segalanya.”

Dalam perjalanan pastoral dari Stasi Haranggaol, Paroki Saribudolok. Pastor Kornelis tiba-tiba ditelepon dari Kedutaan Besar Vatikan. Ia juga menemukan sebuah pesan di handphone-nya, “Segera balas jika ada waktumu”.

Dalam perjalanan menuju Nagahuta, Pematangsiantar, Pastor Kornelius lalu menelepon Nunsius Apostolik untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo. Dalam perbincangan itu, Mgr Pioppo hanya berpesan. “Segera datang ke Jakarta kapan saja ada waktu.”

Akhirnya, Pastor Kornelius datang ke Nunsiatura pada hari Rabu 28 November 2018. Meski begitu, ia merasakan panggilan itu masih samar. Saat ia bertemu Mgr Pioppo, intinya disampaikan bahwa Paus Fransiskus telah menunjuk Pastor Kornelius sebagai Uskup Agung Medan. Saatnya menjawab menerima atau tidak.

Mendadak terjadi pergulatan pribadi. Alur pikiran tak jelas, sesak dan buntu. Tanggungjawab tiada tara ini membuatnya kikuk. Nunsius mengatakan, “Tidak dijawab segera. Tetapi jangan lagi bicara soal jantungmu.”

Di tengah kekikukkan itu, Pastor Kornelius diminta berdoa. Ia melewati sebuah lorong di kedutaan yang terpampang foto Paus Fransiskus. Seakan Paus meminta tolong kepadanya soal penggembalaan ini. Ada rasa berdebar dan cenderung luluh. Ada ketakutan dan keinginan untuk menerima permintaan Paus bercampur menjadi satu dalam doanya.

Setidaknya bila Pastor menerima, maka akan ada yang hilang soal kenyamanan pribadi. Kebiasaan blusukan, berjalan tanpa kawalan, makan di pinggiran jalan dengan menu harga murah, bermain bola pelan-pelan ditinggalkan. Usai berdoa, Nunsio bertanya, bagaimana? “Saya menerima,” jawab Kornelius. Mgr Pioppo pun sontak mengucapkan selamat dan langsung menyapa Pastor Kornelius dengan sebutan “Monsinyur”. “Selamat Monsinyur,” ungkap Mgr Pioppo.

Sebelum itu semua, Nunsio sudah menyampaikan berbagai alasan mengapa Mgr Kornelius layak dipilih. Ada kelebihan yang membuatnya layak. Tentu disebutkan juga kelemahan Kornelius. “Anda itu keras dan terlalu tegas, coba dipertimbangkan untuk umatmu kelak,” jelas Nunsio.

Maka jadilah semua itu, tugas perutusan baru Uskup Agung Medan Mgr Kornelius Sipayung OFM Cap. Engkau kini bukan saja anak sulung keluarga, tetapi “Anak Sulung” bagi umat KAM.

Mgr Kornelius Sipayung OFM Cap

Lahir : Bandar Hinalang, 26 Agustus 1970
Orang Tua : Fransiskus Fransiskus Sipayung dan Hongmailim Rosa Tamsar
Saudara/i : Elisabeth Sipayung, Esron Sipayung, Erwinson Sipayung, Liem Siswati Sipayung, Jonam Sipayung, Jimmi Sipayung, dan Romasni Sipayung

Pendidikan :
– SD Katolik Don Bosco Saribudolok
– SMP Katolik Bunda Mulia Saribudolok
– SMA Seminari Menengah Pematangsiantar
– Novisati Kapusin
– Studi Teologi di STFT St Yohanes Pematangsiantar
– Pastoral di Paroki Aekkanopan (1996-1997)
– Studi Teologi di STFT St Yohanes Pematangsiantar
– Tahbisan Diakon Juli 1999
– Tahbisan Imam 11 Desember 1999
– Studi di Universitas Gregoriana, Roma (2002-2005)

Pelayanan:
– Pastor rekan di Paroki St Perawan Maria Kabanjahe (1999-2002)
– Anggota DIKAM (2015-2018), Anggota Konsultores KAM (2015-2018),
– Ketua Harapan Jaya Pematangsiantar (2208-2013)
– Misionaris Kapelan Indonesian Catholic Family di Brisbane (2005)
– Caritas PSE KAM (dua periode 2012-2022)
– Anggota Komisi Teologi KWI (2006-2011)
– Pengurus Yayasan JPIC Kapusin
– Ketua Komisi Pendidikan Ordo Kapusin Provinsi Medan (2012-2015)
– Wakil Minister Provinsial Kapusin Medan (2012-2015)
– Ministeri Provinsial Kapusin Medan 2 periode (2015-2018, 2019-2022)

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP NO.04 2019, 27 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here