Imam Jangan Rampas Tugas Umat

826
Empat diakon yang ditahbiskan menjadi imam di Gereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius Keuskupan Agung Merauke.
[NN/Dok.Pribadi]

HIDUPKATOLIK.com – Peran umat seringkali diambil alih oleh imam. Mgr Nicolaus Adi Seputra MSC mengajak para imam untuk tidak menjadi caleg dan merampas tugas umat.

Tarian Cakalele dari Kepulaun Kei, Maluku Tenggara membahana di depan Gereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Keuskupan Agung Merauke. Dengan parang di tangan dan ikat kepala berwarna merah, enam pria melompat-lompat sambil berpekik. Sesekali terdengar genderang berukuran besar dan tipa ditabuh.

Keramaian dan sukacita ini terlihat dalam prosesi penjemputan empat diakon yang akan ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agung Merauke Mgr Nicolaus Adi Seputra MSC, Sabtu, 23/2. Misa inkulturasi ini tidak saja menampilkan kebudayaan Kei tetapi juga budaya-budaya lain sesuai etnis para imam baru. Ada empat imam yang ditahbiskan pada hari itu. Mereka adalah imam Keuskupan Agung Merauke dan imam dari Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC) Indonesia. Keempatnya adalah Pastor Simon Petrus Takahanem Kaize MSC, Pastor Everardus Resubun MSC, Pastor Frengky Frans Pong, dan Pastor Ayustus Erasmus Liem.

Hak Umat
Mgr Nicolaus dalam khotbahnya mengatakan, dalam pendidikan dan pembinaan imam, akademik menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi seorang calon imam. Namun, akademik bukan satu-satunya. Ia menuturkan, masih terdapat unsur-unsur lain yang perlu disempurnakan yaitu kepribadian dan semangat pelayanan.

Seorang imam harus semakin dekat dengan altar juga dekat dengan Yesus Sang Gembala Baik. Mgr Nicolaus mengatakan, menjadi imam itu selamanya, sekali ditahbis untuk selamanya. “Olehnya, saya minta pastor, agar tak menjadi calon legislatif maupun calon bupati. Kalau itu dilakukan, pasti mendapatkan suspensi atau hukuman. Kalian sudah sekolah dengan baik dan didoakan umat Allah menjadi imam untuk seumur hidup. Bukan lima tahun atau sepuluh tahun,” tegas Mgr Nicolaus.

Dihadapan sedikitnya 800 umat yang hadir, Mgr Nicolaus mengatakan para pastor di tahun politik ini harus menjadi pemersatu. Bukan pemersatu warna partai politik entah merah, kuning, biru, dan lain-lain. “Kalau pastor mendoakan caleg di panggung, tak dilarang. Karena sebagai pelayan. Tetapi ingat untuk tidak diusung dan dijemput dengan bendera parpol. Kita adalah gembala umat untuk melayani masyarakat,” ajaknya

Di momen tahbisan ini juga, Mgr Nicolaus mengkiritik budaya pelayanan para pastor yang meyalani di Regio Papua. Ia menyampaikan agar para imam tidak melupakan tugas utama mereka sebagai gembala.

Dalam tahbisan ini, hadir juga Bupati Merauke Frederikus Gabze yang menyampaikan selamat dan turut berbahagia atas empat imam baru. Senada dengan Uskup Merauke, Frederikus meminta agar para pastor terus menjadi pemersatu di tanah Papua, khususnya menghadapi tahun politik yang menawarkan perpecahan.

Provinsial MSC Pastor Jhony Luntungan MSC dalam pesannya mengatakan, menjadi pejabat apa saja sangat mudah, tetapi menjadi imam Allah yang baik sangat susah. “Para imam dituntut konsisten, menjadi pelayan rendah hati, baik hati dan siap jemput bola atau tidak menunggu dilayani. Menjadi imam adalah kepercayaan dari Allah dan jangan digunakan untuk kepentingan diri sendiri,” ucapnya.

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan: Eusebius Kazbe (Merauke)

HIDUP NO.09 2019, 3 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here