Tetap Hidup Meski Berkalang Luka

207
Mawar, yang diperankan oleh Ria Probo, terbelenggu oleh kepedihan dan kebencian.
[HIDUP/ Marchella A. Vieba]
Tetap Hidup Meski Berkalang Luka
2.7 (53.33%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Pertunjukan drama musikal ini terinspirasi dari kisah nyata, tragedi ’98. Tak melulu menyuguhkan kesedihan, tapi lebih perjuangan korban untuk bangkit dan menjalani kehidupan.

Perempuan itu dianiaya, disiksa, dan diperkosa. Orangtua, suami, dan satu dari dua orang anaknya tewas dalam tragedi itu. Sementara buah hatinya yang lain tak diketahui di mana rimbanya. Jiwa Mawar terguncang. Apa yang dialami betul-betul membuat dirinya jatuh dalam lubang yang paling dalam. Semua yang milikinya telah direngut secara paksa. Air matanya terkuras hingga tak lagi menetes. Roman wajahnya tak lagi memancarkan cahaya kehidupan. Hanya pucat yang tersirat.

Mawar menjadi korban kekejaman tragedi ’98. Peristiwa keji itu membut hidup dan imannya terpuruk. Ia tak lagi percaya kepada Tuhan, Sang Maha Kuasa. Jika memang Dia berkuasa, mengapa rasa sakit dan pahit yang amat tak terperi harus ditanggung Mawar?

Hati Mawar telah remuk. Amarahnya pun berkecamuk. Ia meratap, mengutuk penuh kebencian. Terlebih ketika ia mengetahui, ada benih kehidupan yang bersemayam di dalam rahimnya dari peristiwa terkelam di hidupnya itu. Ia tak lagi menghargai tubuhnya. Rasanya ingin mati.

Demikian sepenggal kisah drama musikal Kemuning: Mempelai Berkalang Luka, yang berlangsung di Ciputra Artpreuner Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu dan Minggu, 11-12/5.

All cast Drama Musikal “Kemuning – Mempelai Berkalang Luka” saat menggelar konferensi pers.

[HIDUP/ Marchella A. Vieba]

Kisah Nyata
Penulis naskah sekaligus sutradara Kemuning, Pastor M. Harry Sulistyo, mengaku, cerita dalam drama musikal tersebut terinspirasi dari kisah nyata tragedi ’98. Selama menuangkan ide-ide yang berkecamuk dalam kepalanya, tak jarang ia meneteskan air mata, membayangkan sekaligus merasakan pergulatan hidup sang tokoh utama, Mawar.

Menurut Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Jakarta itu, menjadi pribadi yang tangguh serta memiliki kualitas iman yang baik membutuhkan proses panjang. Itu tak mudah, apalagi saat menghadapi dan mengalami langsung persoalan maha dasyat, yakni menjadi korban kekejaman.

Kemuning tak sekadar menyuguhkan kisah sedih dan pedih yang dialami Mawar. Namun, yang utama dari seluruh cerita pementasan ini adalah mengajak umat untuk berani bangkit dari keterpurukan dan kesedihan mendalam.

Pementasan ini menggandeng sejumlah bintang sebagai pemeran. Selain, drama musikal ini juga melibatkan para pemeran dari beragam profesi mulai dari pastor, biarawati, dokter, hingga pembawa berita. Artis senior Yatti Surachman menjadi Sr Sesil CB; Ria Probo sebagai Mawar, dan Susan Bachtiar sebagai dr Tika. Presenter Christian Reinaldo menjadi pasien RS jiwa. Sementara pemeran Kemuning adalah Widi Dwinada. “Ketika menulis sudah terpikir siapa yang akan memerenkan tokoh-tokoh dalam pemeran ini (drama musikal),” ujar Pastor Harry.

Tata cahaya nan apik serta lantunan aransemen musik Almarhum A. Riyanto membuat pertunjukan drama tersebut semakin megah dan berkesan. Sepanjang pementasan drama tersebut, lagu-lagu yang digunakan merupakan karya A. Riyanto. Penamaan tokoh Mawar dan Kemuning pun tak lepas dari syair milik almarhum.

Pertunjukan drama ini sekaligus hendak mengenang 25 tahun berpulangnya komposer sekaligus penyanyi terkenal Tanah Air itu. Dalam beberapa scene, lagu-lagu tersebut dinyanyikan langsung oleh buah hati almarhum, Lisa A. Riyanto. “Baru pertama lagu-lagu ayah dipakai dalam drama musikal. Semoga bisa memberi warna, menggerakkan kita untuk bisa selalu mensyukuri semua rahmat Tuhan,” tutur Lisa.

Lisa A. Riyanto menyanyikan lagu dari almarhum sang ayah, A. Riyanto dalam salah satu adegan.

[HIDUP/ Marchella A. Vieba]

Satu Abad
Pementasan drama musikal ini juga untuk memperingati satu abad (100 tahun) RS St Carolus, Jakarta. Penekanan tokoh dalam drama musikal ini tak lepas juga dari karya RS St Carolus itu sendiri. Pastor Harry mengungkapkan simbol yang dipakai dalam penokohan yaitu dokter, suster, dan imam. “Tiga simbol itu adalah apa yang mencerminkan tiga pilar RS St Carolus,” ungkapnya.

Selain itu, latar belakang salah satu adegan yang terdapat dalam drama juga terinspirasi dan merepresentasikan karya pelayanan RS St Carolus, yakni merawat dan memulihkan jiwa pasien. Di RS St Carolus, perawatan khusus untuk pasien dengan keluhan tersebut terdapat di Ruang Pius.

Salah satu fokus pastoral Tarekat Suster-suster Cinta kasih Carolus Borromeus (CB) adalah menjaga dan merawat keselamatan jiwa dalam karya kesehatan, pendidikan, sosial, dan pastoral.

Hasil pertunjukkan drama musikal ini, menurut Provinsial CB Indonesia Sr Yustiana Wiwiek Iswanti CB, akan dialokasikan untuk karya kesehatan, yakni membangun Klinik Pratama St Carolus di Desa Siana’a, Nias Barat. Dalam karya tersebut, Tarekat CB juga akan bekerja sama dengan Ordo Salib Suci.

Selain kesehatan, Tarekat CB juga berencana untuk mengembangkan pelayanan di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, serta sosial pastoral. “Mengingat kebutuhan dana yang tidak sedikit untuk kepentingan sarana dan prasarana, maka kami menyelenggarakan berbagai kegiatan pengumpulan dana. Salah satunya drama musikal ini yang bekerja sama dengan Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Jakarta,” kata Sr Yustiana CB dalam sambutannya.

Marchella A. Vieba

HIDUP NO.20 2019, 19 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here