Anak Merahasiakan Password Handphonenya

60
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh terkasih, saya memiliki dua remaja putri di rumah. Dua anak saya itu mulai menggunakan password untuk mengakses telepon selular mereka. Mereka beralasan, teman-temannya di sekolah kerap usil membuka HP mereka tanpa izin. Bedanya, putri saya yang masih SMP tak seperti kakaknya. Anak bungsu saya itu masih mau memberikan password kepada saya. Sementara putri sulung saya sama sekali tak mau memberikan password teleponnya kepada saya. Saya sempat marah kepada anak pertama saya karena menutupi sesuatu dari saya. Di sisi lain, mungkin saya harus menyadari bahwa ia sudah remaja dan mulai membutuhkan privasi. Tapi terus terang, ada juga kekhawatiran dalam batin saya, jangan sampai hal yang menjadi privasinya itu terkait dengan informasi yang tak sesuai dengan usianya. Seberapa pentingkah privasi remaja hingga harus disembunyikan dari orangtuanya sendiri? Mohon saran dari pengasuh.

Agatha Melani, Bandung

Dear Ibu Agatha Melani, saya dapat memahami kekhawatiran Ibu. Putri-putri Ibu telah tumbuh besar dan mengalami perkembangan yang mempengaruhi sikap dan perilaku sehari – hari. Perkembangan itu menyebabkan perubahan yang mempengaruhi kehidupan anak-anak Ibu.

Perkembangan individu akan mengalami penyesuaian sosial dengan lingkungan di luar keluarga maupun sekolah, termasuk menyesuaikan diri dengan lawan jenis, dan memiliki nilai baru dalam dukungan maupun penolakan sosial. Remaja juga ingin mandiri dan menemukan jati diri.

Pada tahap ini juga terjadi perkembangan moral. Ini dilakukan dengan menggantikan konsep moral umum dengan membuat unsur nilai moral yang akan dipakai secara pribadi. Terdapat pula perkembangan emosional yang dapat muncul sebagai perasaan senang, tak senang, atau terkadang tidak jelas. Perubahan tersebut bisa menjadi refleksi pribadi untuk membangun optisme Ibu dalam menghadapi sikap anak.

Kepribadian juga dapat menjadi salah satu faktor untuk memahami perilaku seseorang. Putri pertama lebih ingin menjaga privasi dari Ibu. Berbeda dengan kepribadian si bungsu. Ia lebih terbuka. Sedikit terlihat kesan putri sulung memiliki ciri lebih introvert. Tampaknya ia lebih senang melakukan kegiatan sosial secara sendiri. Hal ini dapat dieksplorasi lagi dengan beberapa ciri introvert yaitu merasa lebih nyaman ditemani sedikit orang atau lebih banyak berpikir sebelum berbicara.

Berbeda dengan putri bungsu. Ia terkesan ekstrovert, yakni lebih antusias dan senang berinteraksi dengan dunia luar. Ia juga senang berkelompok. Kepribadian seperti itu berperan untuk menggerakkan keseluruhan pemikiran, sikap maupun tindakan dalam pengambilan keputusan seseorang.

Menurut saya, ada baiknya Ibu menggunakan cara pandang putri bungsu. Ada sebuah teori yang menjelaskan, saat seseorang tak mampu mengendalikan suatu situasi pada umumnya, akan muncul pemikiran untuk mempengaruhi konsekuensi atas perbuatannya. Untuk itu ia melakukan sesuatu yang terkontrol. Pada konteks yang Ibu hadapi, upaya putri sulung untuk merahasiakan password HP-nya dari Ibu dapat bersumber dari kontrol pribadinya.

Bisa jadi Ibu tak mudah atau mungkin sama sekali tak mendapatkan informasi dari HP putri sulung. Tapi bagi saya yang terpenting adalah memelihara emosi positif dalam berkomunikasi dengan anak. Sebaiknya Ibu menunjukkan kasih dan dukungan secara tulus terhadap setiap perkataan, sikap, maupun keluhan anak. Dengan begitu tak tercipta jurang nan lebar antara relasi orangtua dengan anak.

Modernisasi, yang salah satunya ditandai dengan kemajuan teknologi, seharusnya diikuti pula dengan pola pikir dan pendampingan dalam keluarga. Semakin dekat hubungan antara orangtua dengan anak, akan mempengaruhi cara pandang serta nilai-nilai moral yang dianut buah hati.

Mulailah membangun komunikasi yang terbuka dan empatik dengan anak. Usaha ini memang kadang tak mudah tapi perlu terus diupayakan. Selain itu, sebagai orangtua penting pula menghargai kebebasan anak menuju kedewasaan. Ini salah satu bentuk memberi kepercayaan kepada anak untuk semakin bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Anastasia Ursila Nilamsari, M.Si., Psi.

HIDUP NO.20 2019, 19 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here