Johanes Agus Soesanto dan Susana Wening Hendarjati : Melihat Wajah Tuhan

87
Johanes Agus Soesanto dan Susana Wening Hendarjati.
[HIDUP/Karina Chrisyantia]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Selama 19 tahun membina rumah tangga, suami-istri ini menjalani dengan rendah hati dan selalu bersandar pada doa.

Orangtua merupakan guru pertama dan utama pembinaan iman anak. Pesan Paus Fransiskus ini menjadi landasan bagi pasangan suami istri (pasutri) Johanes Agus Soesanto dan Susana Wening Hendarjati dalam mendidik ketiga buah hati mereka.

Setiap hari, sebelum matahari menampakan wujudnya, Agus dan Susi serta ketiga anaknya menyiapkan diri untuk mengikuti Misa harian. Itulah yang menjadi sumber kekuatan bagi Agus dan Susi dalam menjalani kehidupan. “Rencana Tuhan senantiasa indah. Kami dikaruniai tiga anak. Anak pertama dan ketiga kami, puji Tuhan unggul dalam akademik dan yang satunya lagi adalah berkat luar biasa dari Tuhan,” kata mereka sambil tersenyum.

Kedatangan Berkat
Pada bulan Maria, Mei, tahun 2000, Agus dan Susi mengikat janji suci. Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Senang bukan main rasanya bagi Agus dan Susi melihat sang buah hati. Rupanya Tuhan mempunyai kejutan untuk pasutri ini.

Susi kembali hamil. Namun, karena sibuk membantu bisnis catering, ia belum sempat memeriksa kandungannya. Setelah usia kandungan empat bulan, Susi memutuskan untuk check lab ke dokter. Ia amat terpukul begitu mendengar keterangan dokter. Dalam kandungannya ditemukan virus tokso plasma. “Dokter bilang, ‘Kemungkinan fisik bayi kami tidak sempurna’. Dia menyarankan istri saya untuk aborsi,” kenang Agus.

Tidak mau menerima kenyataan tersebut, pasutri ini sepakat untuk mencari second option dengan mendatangi dokter lain. Ternyata saat diperiksa dengan USG 3D oleh dokter yang lebih ahli, diperkirakan anak yang ada dikandungan Susi akan lahir secara normal. Hanya saja, dokter tidak memprediksi matanya. “Pilihannya ada dua, bisa melihat atau tidak,”ujar Susi.

Dengan anjuran untuk minum vitamin, Susi mendapat lampu hijau untuk meneruskan kandungannya.

Selama hamil, Susi kerap mendengarkan komentar negatif untuk janinnya. Namun, semua tak ia hiraukan. Ia menumpahkan segala perasaan dan pengalaman kepada Susi mengikuti Misa tiap pagi. Berbeda dengan sang istri, Agus lebih berpasrah. “Lahir dengan kondisi sehat ya syukur, kalaupun sebaliknya ya tidak apa-apa” katanya.

Hari yang dinanti tiba. Doa Agus dan Susi terjawab. Semua hal yang mereka takutkan tidak terjadi. Putri kecil mereka, Monica Bianca Saraswati Soetanto lahir dengan kondisi normal. Tanpa kurang sedikit apa pun. Ini membuat Susi semakin percaya bahwa mukjizat Ekaristi membantu mereka. Sejak kejadian itu, Susi dan keluarga tak pernah absen Misa harian setiap pagi.

Ada sebuah ungkapan, manusia boleh berencana namun Tuhan yang memutuskan. Putri mereka yang akrab disapa Monica mulai menunjukan kesulitan belajar sejak mencecap bangku sekolah. Monica, yang saat itu berumur empat tahun, direkomendasikan guru TK untuk masuk Sekolah Luar Biasa (SLB).

Wajah Tuhan
Hati orangtua mana yang tidak retak mendengar buah hatinya disarankan masuk SLB. “Kami kaget. Sungguh. Dan kami tidak terima anak kami dianggap seperti itu, karena secara fisik, Monica normal” tegas Agus.

Beberapa waktu kemudian, Susi mengetahui, sang putri ternyata kesulitan menangkap pelajaran Ia tertinggal dari teman sekelas. Monica depresi. “Ia berontak. Ngambek selama tiga bulan enggak mau ke sekolah”.

Hasil konsultasi dengan psikolog, Monica mengalami light mental retarded yang bisa disebut juga slowly learner. Slowly learner adalah seseorang yang memiliki fungsi kecerdasan dan intelektual di bawah rata-rata. “Selain itu, perkembangnnya Monica juga terganggu. Lima tahun lebih lambat dari umur sebenarnya. Seharusnya sekarang umur 16 tahun, tapi sikapnya masih seperti anak SD,” terang Susi.

Agus dan Susi mengingikan sang putri tetap bersekolah. Mereka mengikuti saran psikolog. Mereka mencari sekolah yang menyediakan shadow teacher dengan jumlah murid maksimal 20 orang di kelas. Lagi-lagi, Tuhan sudah menyiapkan jawabannya. Ia menuntun Agus dan Susi ke Yayasan Marsudirini, Bogor, sekolah yang memadai special need education.

Lantaran jarak sekolah dengan rumah amat jauh, Agus dan Susi memutuskan untuk pindah. Mereka yang sebelumnya berdomisili di Jakarta Selatan, lalu tinggal di Cirendeu. Riano, kakak Monica pun ikut pindah sekolah. Di sekolah tersebut, Monica berhasil menamatkan pendidikan dasar. “Setelah lulus, psikolognya Monica bilang, lebih baik Monica mengasah skill daripada harus berusah payah dalam bidang akademik, jadi kami putuskan saat itu Monica belajar di rumah bersama kami,” kata Susi.

Sejak Monica lulus, Agus dan Susi membimbing untuk hidup mandiri di rumah. Seperti melakukan hal-hal rutin dengan membereskan tempat tidur, membantu ibu membereskan rumah, hingga membantu nenek memasak. “Monica suka sekali memasak,” puji Susi.

Susi pun kagum, Monica rajin Misa harian. Doa-doa pun sudah ia hafal di luar kepala. “Anak yang normal belum tentu mau loh,”ujarnya.

Agus dan Susi memang sudah mempunyai kesepakatan memberi bekal masa depan anak-anak berupa pendidikan dan spiritualitas. Dan sebagai seorang ibu, Susi mempunyai cara yang berbeda dalam mengasuh ketiga buah hati.

Pasutri ini juga tak sungkan mengajak Monika bertemu dengan client. Hal ini dilakukan agar Monica belajar bersosialisasi. Agus dan Susi tidak menyembunyikan kenyataan, bahwa salah satu anak mereka berkebutuhan khusus. “Dikaruniai anak berkebutuhan khusus, seperti melihat wajah Tuhan. Dari situ, kami belajar rendah hati dan bersabar,” ungkap Susi.

Monica adalah sosok pengingat yang baik di rumah. Penglihatan dan pendengarannya cukup tajam. “Jadi misalnya saya lupa taruh kunci, dia ingatkan. Papa kayaknya taruh di sini deh,” ujarnya.

Terus Berproses
Agus juga merasakan perubahan sejak kehadiran Monica “Ya saya sebagai seorang ayah, pasti punya sisi egois dan saat itu kurang mau menerima apa adanya,” akunya.

Melihat perjuangan dan keyakinan sang istri, ternyata ada pelangi di balik rintangan ini. Hati Agus pun luruh. “Saya berproses untuk menerima. Dan di kondisi ini, saya, istri, kakak dan adiknya Monikalah yang harus menyesuaikan. Kami yang harus berubah, bukan dia,” tutur kelahiran Semarang ini.

Tidak ada anak yang sempurna, begitu juga dengan orangtua. Rasa syukur selalu dipajatkan oleh Agus dan Susi setiap pagi, saat Ekaristi. Dengan kerendah hati, mereka terus berproses dengan ketiga buah hati. “Karena jadi orang tua itu, tidak ada bukunya,” tutup mereka.

Karina Chrisyantia

HIDUP NO.31 2019, 4 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here