Berjuang Menyerupai Kristus: Segala Sisi Diubahnya demi Mengangkat Martabat Orang Papua

74
Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – TIDAK terhitung berapa jumlah tanaman yang tumbuh di sekitar Wisma Keuskupan Agung Merauke (KAMe). Tanaman yang terdiri dari bunga-bunga, pohon mangga, tumbuhan di pot-pot, menjadikan lingkungan KAMe menjadi asri dan rapi.  Sepertinya di mana kaki Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC berpijak, di situlah tumbuh keindahan dan kebersihan.

Beberapa imam mengisahkan kepada HIDUP, sejak berkarya di tanah Papua Selatan, banyak perubahan yang terjadi dimulai dari hal-hal yang sederhana. Sekarang, ia telah resmi menggembalakan KAMe sebagai Uskup Metropolitan Merauke setelah pada hari Minggu, 7/8/2022, Nunsio Apostolik, Mgr. Piero Pippo mengalungkan Pallium kepadanya dalam sebuah Perayaan Ekaristi meriah.

Nunsio Apostolik Mgr. Piero Pioppo mengalungkan Pallium kepada Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC (kanan)

Apa saja yang sudah diperjuangkan uskup asal Desa Kamangta, Minahasa ini? Berikut petikan wawancara wartawati HIDUP, Karina Chrisyantia dengan Mgr. Mandagi di Wisma Keuskupan Agung Merauke, Papua, Rabu, 10/8/2022.

Langkah apa yang dilakukan Monsinyur setelah resmi menjadi Uskup Agung Merauke?

Saya melanjutkan apa yang sudah direncanakan. Kalau dihitung dengan menjadi Administrator Apostolik sede plena dan sede vacante, ya sudah tiga tahun saya di KAMe.  Jadi sekarang saya melanjutkan apa yang sudah ada dan direncanakan.

Pertama kali tiba di KAMe, apa yang Monsinyur buat?

Pertama-tama yang saya buat adalah mewujudkan persaudaraan dengan para imam. Cara mewujudkannya, saya dan imam menghabiskan waktu rekreasi bersama. Saya mengunjungi para imam di kevikepan, merayakan ekaristi dalam perayaan Krisma, pemberkatan gereja. Sengan begitu maka terbentuklah kebersamaan. Selain antarimam, saya juga selalu himbau mereka harus bersaudara dengan lingkungan setempat.

Pondasi yang kuat dari persaudaraan para imam yakni mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya. Karena itu sesuai dengan  moto saya: “Nil Nisi Christum” (Galatia 2:20). Sehingga para imam juga harus melaksanakan doa harian, membaca Kitab Suci melaksanakan Ekaristi.

Ketika umat melihat hal tersebut, kami sebagai imam sudah menjadi model bagi mereka.  Misalkan model dalam berkeluarga dan bertetangga. Saya tegas dengan perihal ini, jadi imam-imam yang mau lari dari persaudaraan itu bukan imam yang tepat. Imam adalah man of brotherhood, man of love.

Bidang-bidang apa saja yang Monsinyur perhatikan sejak berkarya di KAMe?

Pertama adalah pendidikan untuk calon imam maupun awam. Itu yang menjadi perhatian saya sejak tiba di sini. Mengingat KAMe terlalu lama kekurangan imam, dan hanya berharap imam-imam dari luar. Saya mau mengangkat pendidikan anak-anak Papua serta mencari bibit baik untuk imam.

Ada empat seminari kecil yang telah kami bangun, satu di Kumbe, satu di Kimaam, satu di Tanah Merah dan satu di Kepi. Setidaknya mereka mendapatkan pendidikan di wilayah tersebut. Jadi bisa diandaikan tamat SD, kami bina di seminari kecil. Lalu setelah tamat SMP, mereka datang di seminari menengah yang ada di Kota Merauke. Kami sempat merelokasi Seminari Menengah Pastor Bonus Merauke. Kenapa? Karena yang sebelumnya kurang layak! Kami usahakan tempat pendidikan yang layak bagi anak-anak di sini.

Sekarang sudah ada Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) St. Yohanes Paulus II di Merauke. Dulu untuk TOR, semua dikumpulkan di Nabire, karena saya mau mengangkat anak-anak Papua Selatan, saya bangun juga di sini.

Mereka yang tidak melanjutkan seminari menengah pun tidak apa-apa, setidaknya mereka sudah dapat pembinaan karakter kemudian bisa menjadi kepala desa di kampungnya dan sebagainya. Mereka sudah mendapatkan pendidikan awal yang bagus. Saya ingin mengembangkan masyarakat Papua. Pendidikan seminari memang diutamakan tetapi sekaligus pendidikan para awam melalui pendidikan di seminari.

Menurut saya kalau kita ingin menguasai masa depan maka perhatikanlah pendidikan. Kalau ingin mengubah masyarakat, pendidikan harus diutamakan.

Kedua, saya sangat memperhatikan kesehatan dan kebersihan. Saya memberikan contoh bahwa rumah uskup dan pastoran itu bersih dan asri. Saya himbau untuk mulai memperhatikan kebersihan lingkungan, diri sendiri juga memelihara kesehatan, khususnya untuk para imam. Kalau kita bersih, kita berbudaya. Kebersihan berkaitan dengan kemanusiaan, karena manusia diciptakan dari awal bersih.

Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC dalam satu kunjungan di Kevikepan Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel.

Ketiga, memang kita mementingkan hidup rohani tapi perlu hidup jasmani. Ini terkait dengan pengelolaan keuangan. Keuskupan menjadi sangat berat ketika tidak dikelola dengan baik.  Sehingga dalam bidang keuangan saya ubah dengan open management. Keuskupan mempertanggungjawabkan uang yang telah didapatkan. Jadi kami terbuka kepada imam dan umat berapa dana keuskupan. Seperti di keuskupan yang sebelumnya, saya juga membuat sistem dana mandiri dari umat. Jadi jangan terus menerus minta dana ke luar negeri! Hasil dana mandiri tersebut untuk bidang pendidikan, kesehatan para tenaga pastoral, operasional Keuskupan dan lainnya.

Keempat, Gereja tidak boleh menjadi Gereja yang tertutup, harus terbuka dengan lingkungan, kelompok agama lain dan pemerintah. Menurut saya, Gereja tidak bisa mengisolasikan diri terhadap pemerintah. KAMe senantiasa bekerja sama dengan pemerintah setempat. Kami mencoba keluar dari tempurung, berelasi terhadap lingkungan dan pemerintah.  Bagi saya, Gereja dan pemerintah, sama-sama melayani kemanusiaan. Kenapa kami tidak bekerja sama dan saling terlibat!

Tantangan seperti apa yang selama ini dirasakan Monsinyur sejak tiba di sini?

Setiap hidup ada tantangannya. Saya malah bersyukur ada tantangan. Tantangan yang saya rasakan paling utama adalah menjaga karakter para imam. Apakah mereka berkarya karena cinta atau mencari keuntungan? Jangan sampai mereka ini menyusahkan umat. Saya selalu punya prinsip: “Amor Omnia Vincit”. (Cinta mengalahkan segala-galanya). Inilah karakter dari seorang pelayan.

Selain itu potensi di sini besar. Hasil alam yang baik namun belum dikelola dengan baik pula. Pelayanan ke daerah-daerah yang tadinya sulit, sekarang mulai ada kemudahan. Pengembangan juga terjadi di daerah ini dan itu baik, pilihan transportasi mulai bervariasi, jalan-jalan ke beberapa daerak pelosok mulai diperbaiki.

Kenapa tulisan Panca Vita (Displin, Senyum, Bersih, Hijau, dan Harmoni)  mulai di pasang di setiap sisi KAMe, di rumah uskup hingga di pastoran-pastoran?

Supaya orang lihat, toh. Saya percaya, sebelum seseorang merealisasikan sesuatu, dia pasti melihatnya terlebih dahulu. Saya mengamati itu sekarang orang itu mulai foto-foto, disimpan di smarphone misalnya, lalu kemudian harapannya mulai sadar akan nilai-nilai dalam Panca Vita.

Sebetulnya, apa cita-cita Monsinyur untuk KAMe?

KAMe adalah Gereja bukan negara. Apa inti Gereja? Selain merayakan liturgi, adanya persaudaraan, kepedulian seperti orang Samaria, kemudian mewartakan cinta kasih tanpa harus menjelekkan orang lain. Ini mendidik kaum awam menjadi pewarta di dalam keluarga dan tempat kerja. Jadi kita hadir sebagai saksi Kristus. Jangan takut!

Pesan Monsinyur untuk umat di KAMe

Sederhana saja, marilah kita berjuang menyerupai Kristus! Karena Kristuslah pokok anggur kita. Di luar Kristus, kita tidak bisa hidup, maka bersama semua imam, biarawan-biarawati dan awam berjuang menyerupai Kristus hingga kita pada akhirnya akan mengatakan, “Nil Nisi Christum!”


Karina Chrisyantia (Merauke)

HIDUP, Edisi No.35, Tahun ke-76, Minggu, 28 Agustus 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here