Beato Rutilio Grande Garcia, SJ (1928 – 1977): PEMBUKA JALAN KEMARTIRAN EL SALVADOR

35
Pastor Rutilio Grande García SJ (paling kanan) saat mendampingi Mgr. Óscar Romero (www.elsalvador.com)
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM Raga imam itu bersimbah darah di jalanan berdebu. 12 timah panas bersarang di tubuhnya. Kemartirannya menyulut perlawanan terhadap ketidakadilan.

(www. plazapublica.com.gt)

“CINTA sejati dibawa Rutilio dalam kematiannya. Gereja juga amat mencintai dia. Ketika ia berjalan bersama umatnya, di sanalah ia jatuh, mati dengan dipenuhi peluru. Ia tak hanya menjadi inspirasi revolusioner. Tetapi, saudara-saudari, ia adalah inspirasi cinta. Dia mati karena cinta, dan untuk itulah dia menjadi inspirasi,” ujar Uskup Agung San Salvador, El Salvador, Mgr. Óscar Arnulfo Romero Galdámez.

Sang uskup agung menyampaikan homili penuh emosi dalam ritual pemakaman Pastor Rutilio Grande García, SJ yang dibunuh secara sadis. Pastor Rutilio adalah sahabat, teman diskusi Mgr. Romero. Pastor Rutilio dibunuh bersama dua rekannya katekis awam Manuel Solórzano yang berusia 72 tahun dan Nelson Rutilio Lemus yang masih berumur 16 tahun.

Peristiwa kemartiran itu menjadi salah satu titik balik bagi Mgr. Romero. Menjadi batu loncatan perlawanan terhadap rezim penguasa yang menindas. Tiga tahun setelah kemartiran Pastor Rutilio, Mgr. Romero pun menjemput kemartirannya.

Panggil Tilo

Sabtu, 23 Mei 2015, di tengah kerumunan umat, Paus Fransiskus membeatifikasi Mgr. Romero, 35 tahun setelah pembunuhannya. Peristiwa itu dianggap sebagai penanda arah langgam pastoral Paus Fransiskus, Gereja bagi orang miskin. Oscar Romero adalah simbol perlawanan sekaligus pembebasan kaum miskin, terutama di kawasan Amerika Latin.

Tapi, sebelum “dupa memudar” usai Misa beatifikasi Mgr. Romero, terdengar bisikan, “Selanjutnya adalah Rutilio.” Rutilio yang dimaksud adalah Pastor Rutilio Grande García, SJ.

Kisahnya memang jarang diceritakan. Namun, bagi Paus Fransiskus, yang juga berlatar belakang pengikut Santo Ignatius Loyola, kisah Pastor Rutilio amat membekas di hatinya. Apalagi, Paus pernah bersua dengan Pastor Rutilio kala keduanya masih imam muda.

Rutilio lahir di El Paisnal, El Salvador, 5 Juli 1928. Pada usia 12 tahun, ia masuk gerbang seminari kecil di San Salvador. Hembusan Konsili Vatikan II menembus dinding seminari. Angin perubahan dalam Gereja itu juga mengubah cara pandang Rutilio yang kala itu masih dalam formasi Jesuit.

Kaum miskin menjadi fokus utama pastoral Pastor Rutilio sejak ditahbiskan sebagai imam pada 30 Juli 1959. Bahkan, ketika merayakan Misa perdana bersama penduduk desa di El Paisnal, ia berujar, “Panggil saja saya Tilo!” Ia tak menjadi istimewa atau diistimewakan, lantaran telah menjadi seorang imam. Dia ingin melayani bersama kaum petani yang miskin.

Kaki Injil

Imam, bagi Pastor Rutilio, bukanlah status sosial. Imam adalah pelayanan; menjadi pelayan bagi semua orang, terutama bagi mereka yang miskin, sakit, menderita, dan terpinggirkan. “Saya tidak mau menjadi seorang imam yang makan dengan mengorbankan rasa lapar orang lain. Seekor ayam lebih baik diberikan untuk anak-anak petani yang kekurangan gizi!” tegas Pastor Rutilio suatu hari.

Selain melayani umat paroki, Pastor Rutilio juga terlibat dalam formasi para Jesuit muda. Pada pertengahan 1960-an, ia yang pertama kali memiliki ide “mencemplungkan” para Jesuit muda ke dalam realitas sosial. Hal ini untuk mendekatkan para calon imam Jesuit dengan persoalan-persoalan sosial yang ada di sekitarnya, terutama soal kemiskinan dan ketidakadilan. Bagi Pastor Rutilio, metode ini akan membuat Injil “memiliki kaki”, bukan hanya di atas awan.

Pastor Rutilio juga seorang pengkhotbah. Ia berani dan lantang meneriakkan persoalan sosial yang dihadapi umatnya. Kemiskinan dan ketidakadilan yang dialami umat dan rakyat El Salvador selalu menjadi tema-tema khotbahnya. Ia bahkan tak segan melontarkan kritik kepada rezim pemerintah yang sedang berkuasa.

“Banyak orang di negeri ini yang telah menerima baptisan, tapi tak melaksanakan pesan-pesan Injil. Cara berpikir dan hati mereka tak berubah; menempatkan bendungan keegoisan di hadapan pesan-pesan Yesus Juru Selamat kita!” kata dia suatu hari.

Pastor Rutilio juga sempat belajar di Quito, Ekuador, di Institute for Pastoral Ministry yang didanai keuskupan-keuskupan di Amerika Latin. Di sana, ia belajar membangunkan komunitas miskin, yang tertindas bermodal kekuatan sosial di sekitar mereka.

Sepulang dari Ekuador, ia mulai membangun komunitas basis masyarakat miskin di sekitar kota kelahirannya. Ia masuk melalui pintu-pintu Alkitab. Ia memberikan kesadaran, bahwa kemiskinan bukanlah kehendak Allah.

Perlahan, masyarakat miskin mulai mengubah pola pikir mereka dan menyadari, penindasan mereka bukanlah kehendak Tuhan tetapi sebenarnya bertentangan dengan kasih Tuhan.

Hal ini tentu mengundang ancaman bagi Pastor Rutilio dan komunitas yang ia layani. Ancaman itu muncul dari para tuan puan tanah yang merasa terancam, lantaran Pastor Rutilio mendorong para pekerja di desa, untuk mengatur kehidupan ekonomi yang lebih baik.

Sepak terjang Pastor Rutilio ini terus diamati Sang Uskup Agung,  Mgr. Romero. Apa yang dikaryakan Pastor Rutilio merupakan amanat Ajaran Sosial Gereja dan Konsili Vatikan II.

Yang Diberkati

Ancaman demi ancaman silih berganti menguntit Pastor Rutilio. Ia telah menerima ini sebagai risiko panggilan. Hinga hari itu pun akhirnya datang.

Sabtu, 12 Maret 1977. Ia bersama katekis Manuel Solórzano dan Nelson Rutilio Lemus menuju ke El Paisnal, desa kelahiran Pastor Rutilio. Sebenarnya, mereka pergi untuk merayakan Novena San José. Saat itu, mereka mengendarai Volkswagen Safari dari Aguilares.

Beato Rutilio Rutilio García, SJ bersama martir Manuel Solórzano (kanan) dan Nelson Rutilio Lemus. (www.elsalvador.com)

Di tengah perjalanan, mereka bertemu tiga anak kecil. Ketika hendak memberikan tumpangan kepada anak-anak, tiba-tiba sekelompok pria bersenjata api menyerang mereka. Rentetan tembakan bagaikan angin puyuh menerjang raga Pastor Rutilio dan rekan-rekannya. Seketika itu, nyawa mereka melayang.

Pastor Rutilio tercatat sebagai imam pertama yang dibunuh sebelum perang saudara di negara itu meledak. Ia seperti membuka jalan kemartiran bagi para tenaga pastoral di El Salvador.

Mendengar kabar kematian Pastor Rutilio, Mgr. Romero amat bersedih. Tapi, kemartiran Pastor Rutilio juga melapangkan jalan perjuangan Gereja Katolik El Salvador menentang ketidakadilan.

Proses penggelaran kudus Pastor Rutilio mulai dibuka pada Maret 2014 hingga Agustus 2016 oleh Uskup Agung San Salvador, Mgr. Escobar Alas. Hasilnya dibawa ke Kongregasi Penggelaran Kudus Vatikan untuk diselidiki.

Pada Jumat, 21 Februari 2020, Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus, Kardinal Giovanni Angelo Becciu mengumumkan, Paus Fransiskus telah menyetujui dekrit kemartiran Pastor Rutilio. Dekrit ini pun melapangkan jalan mendiang Pastor Rutilio menuju beatifikasi.

Pastor Rutilio menjadi teladan seorang imam yang berani memeluk kemiskinan dalam panggilan suci imamat. Ia menghadirkan Gereja yang bersahabat dan mau berjalan bersama dengan kaum miskin, tertindas, dan terpinggirkan.

Y. Prayogo

HIDUP NO.19, 10 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here