Forum Komunikasi Mahasiswa Katolik Keuskupan Purwokerto (FKMKKP): TUMBUHKAN PERSAUDARAAN LEWAT BAHASA

28
Anggota FKMKKP dalam acara Sambat tahun 2019 di Wisma Sejahtera Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. (Dok. FKMKKP)
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM Bahasa Jawa Ngapak menjadi salah satu identitas komunitas ini, lahir untuk meneladan cara hidup Gereja Perdana, menjadi keluarga untuk semua.

TAHUN 1997, beberapa mahasiswa yang berasal dari Keuskupan Purwokerto, yang saat itu sedang belajar di Yogyakarta, sepakat mendirikan  Forum Komunikasi Mahasiswa Katolik Keuskupan Purwokerto (FKMKKP). Forum ini bercita-cita membangun persaudaraan. Meski berkembang jauh dari wilayah Keuskupan Purwokerto, mereka tidak melepaskan diri dari gerak dan langkah Keuskupan Purwokerto, yakni menjadikan Gereja sebagai Kerajaan Allah.

Sejak kelahirannya, FKMKPP telah berusaha menjadi komunitas persaudaraan, seperti yang tercermin dalam landasan Biblis dan visi komunitas ini, yakni meneladan cara hidup jemaat Gereja Perdana. Sebagai landasan Biblis dan visi, mereka mengambil kutipan dan teks Kitab Suci Kisah Para Rasul 2:41-47. “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa…”

Acara Sambat

Ketua FKMKKP Periode 2020-2021, Magdalena Ivena Angeline mengungkapkan, forum ini ingin meneladani cara hidup Gereja Perdana. Untuk itu, FKMKKP memfokuskan diri untuk menghidupkan suasana kekeluargaan dan kebersamaan. Nilai yang menjadi landasan mereka adalah kesukarelaan hati dalam berbagi satu sama lain. Nilai ini dikembangkan agar setiap anggota mampu meluhurkan Tuhan melalui doa bersama.

Sebagai kumpulan mahasiswa dari Keuskupan Purwokerto, FKMKKP juga berkembang menjadi wadah untuk untuk mengenal satu sama lain. Yang ingin dikembangkan dalam perjumpaan ini terutama adalah rasa kekeluargaan. “Dengan bertemu di forum ini, sebagai mahasiswa perantau, kami menjadi tidak merasa sendirian lagi. Ada teman yang dapat menjadi tempat untuk saling berbagi,” jelas Ivena.

Mahasiswa Sanata Dharma ini menuturkan, para anggota FKMKPP sering berkumpul di Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan. Namun, tempat ini bukan satu-satunya tempat mereka kongkow, sesekali mereka juga bertemu di daerah Mrican, Babarsari, atau di sekitar Kampus Universitas Sanata Dharma, Paingan.

Dikarenakan anggotanya berasal dari universitas yang berbeda-beda, Ivena menyadari, FKMKKP cukup sulit membuat kegiatan yang rutin apalagi berkumpul setiap minggu. Ia menjelaskan, pengurus berusaha berhati-hati dalam memilih jadwal pertemuan. Namun, meski menghadapi masalah semacam ini, FKMKKP berusaha mengadakan kegiatan bersama yang diadakan setiap tahun. Beberapa di antaranya, FKMKKP rutin mengadakan Misa awal dan akhir semester, perayaan valentine bersama, reorganisasi pengurus, bakti sosial, dan “Sambat” atau sambut sahabat.

Dalam bahasa Jawa, “sambat” kerap dilekatkan dengan ‘berkeluh kesah’. Ivena menjelaskan, berbeda dengan Sambat, pada kesempatan ini FKMKKP menyambut dan memperkenalkan komunitas ini kepada para mahasiwa baru yang berasal dari Keuskupan Purwokerto. “Kurang lebih mirip malam keakraban (makrab). Ada acara perkenalan, hingga pentas seni kecil-kecilan. Keesokannya ada kegiatan outbound dan dinamika kelompok,” ungkap umat Paroki St. Agustinus Purbalingga ini.

FKMKKP saat acara Sambat 2017 di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, Bantul, Yogyakarta. (Dok. FKMKKP)
Kegiatan Pendalaman APP 1 “Jati Diri Panggilan Kristen”, Maret 2020. Dok. FKMKKP (Dok. FKMKKP)

Dialek Ngapak

FKMKKP sudah familiar di telinga Ivena sejak ia masih di bangku SMA. Kemudian saat melanjutkan studinya, di Yogyakarta, ia semakin tertarik bergabung. Selain  diceritakan kakak tingkatnya, Ivena tahu forum ini juga melalui social media. Seperti komunitas pada umumnya, FKMKK juga aktif, salah satunya, di Instagram. Uniknya, dalam biodatanya, FKMKK tertulis Ora Ngapak Ora Kepenak. “Karena dengan kami ngapakan, kami bisa melepas rindu,” ungkap Ivena.

Dialek Ngapak kerap terdengar pada wilayah setengah provinsi Jawa tengah, di antaranya Cilacap, Tegal, Banyumas, Purbalingga, dan Kebumen. Tidak semua orang suku Jawa mengerti dialek tersebut. Ivena mengungkapkan, untuk slogan yang menjadi ciri khas forum ini, sebenarnya tidak ada kaitan didalam visi dan misi FKMKKP.  “Slogan tersebut memiliki arti, bahwa kami tetap bisa membawa dialek kami karena banyak anggota di forum ini yang juga ngapak. Dengan ngapak, itu menumbuhan rasa persaudaraan antarsatu sama lain dan membuat kami merasa lebih akrab. Seperti kembali ke rumah,” jelasnya.

Meski semangat awalnya ingin menjadi wadah bagi mahasiswa Katolik dari Keuskupan Purwokerto, namun dalam kenyataannya FKMKKP juga tidak menutup kemungkinan bagi para mahasiswa Katolik yang berasal dari luar Keuskupan Purwokerto untuk bergabung. Ivena menjelaskan, saat ini FKMKKP pun memiliki anggota yang berasal dari berbagai macam tempat dan latar belakang.

Tempat Pulang

Terhitung sudah berjalan satu setengah tahun Frater Thomas Rosario Babtista menjadi pendamping FKMKKP. Selama itu, ia melihat ada banyak perubahan yang terjadi di dalam setiap pribadi. “Perubahan ini bagi saya merupakan suatu hal yang wajar di dalam sebuah proses pembiasaan di lingkungan yang baru,” ungkap pria yang akrab disapa Frater Rio.

Frater Rio mengatakan, pasti mereka merasa canggung, dan tidak memiliki perasaan senasip dengan yang lain. “Saya secara pribadi merasa, ini adalah sesuatu yang wajar terjadi. Proses pengenalan berjalan seperti semestinya. Semakin lama mereka semakin kenal dan akhirnya tumbuh perasaan senasip dengan anggota keluarga yang lain,” jelasnya.

Bagi Frater Rio, salah satu ciri anggota sudah mulai nyaman, mereka mulai mengeluarkan bahasa ibu mereka, bahasa Jawa Ngapak. Suatu hari, beberapa di antara mereka bercerita, ketika mereka menggunakan dialek Ngapak di kampus, justru membuat mereka menjadi malu dan minder.  “Mengapa? Karena mereka merasa asing dengan menggunakan bahasa itu. Mereka merasa teralienasi dari komunitas tersebut. Di sini, bahasa Jawa Ngapak menjadi identitas kami,” ujar calon imam Keuskupan Purwokerto ini.

Dengan penggunaan dialek ini, setiap anggota FKMKKP justru semakin menjadi pribadi yang bebas. Hal ini justru mengungkapkan diri mereka apa adanya. Frater Rio menjelaskan, suasana yang terbangun dalam komunitas ini, termasuk dengan bahasa yang digunakan, semakin menjadikan mereka akrab. “Dengan ini, mereka semakin merasa memiliki sebuah keluarga,” tuturnya.

Berasal dari keperihatinan bahwa mereka jauh dari keluarga, FKMKKP memiliki semangat untuk menjadi “keluarga” bagi siapa saja yang bergabung. Frater Rio mengakui, ketika seorang anggota memiliki suatu kerinduan untuk pulang, tetapi dengan jauhnya jarak dengan keluarga, FKMKKP hadir untuk menjadi tempat bagi mereka untuk “pulang”.

Frater Rio berharap, anggota FKMKKP semakin banyak, semakin erat dan selalu menjadi tempat para anggota untuk “pulang”. Dengan adanya wadah ini, mereka tidak merasa kesepian di tengah hiruk pikuk aktivitas menjadi mahasiswa di Kota Pelajar ini. “Istilahnya, sekadar menyandarkan kepala yang sudah penat.

Karina Chrisyantia

HIDUP NO.22, 31 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here