Ahmad Tohari: Menghargai Hak Memilih Agama

126
Ahmad Tohari/Dok. Pribadi
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COMDalam setiap karya ada pesan humanisme. Pesan itu tidak saja ditemukan dalam karya-karyanya, tetapi juga dalam praktik hidupnya.

 AHMAD Tohari dikenal luas sebagai novelis yang lekat dengan sentuhan humanisme, keagamaan, dan pedesaan. Lewat trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, karyanya yang paling populer, kebudayaan dan masyarakat Kabupaten Banyumas dikenal dunia. Tiga novel yang dikemas dalam satu buku itu tidak ditulis dan terbit bersamaan. Ketiganya: Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986). Baru pada tahun 2003, trilogi terbit dalam satu kemasan dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk. Selain trilogi, satu dari 10 novelnya, Ahmad Tohari (72) juga menulis cerpen dan esai kebudayaan.

Namun salah satu sahabat akrabnya, Mgr. Julianus Sunarka SJ (meninggal 26 Juni yang lalu), menyebut Tohari selain novelis, mantan wartawan dan budayawan, juga dhanyang Banyumas. “Monsinyur Sunarka menyebut saya dhanyang-nya Banyumas. Dhanyang adalah pengawal kehidupan batin masyarakat agar sampai pada keselamatan,” kata Ahmad Tohari di rumahnya, Tinggarjaya, Jatiwangi, Banyumas, dua pekan lalu. Monsinyur tidak hanya mengatakannya sesekali, tetapi berkali-kali dan dalam berbagai kesempatan.

Forum Antaragama

Mengaku bukan agamawan, Tohari aktif dalam proses kelahiran Forum Kerukunan Umat Beriman di Kabupaten Banyumas tahun 1995 yang berubah nama jadi Forum Persaudaraan Antar Umat Beriman, berubah lagi menjadi Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) yang sekarang berdiri di seluruh provinsi di Indonesia. Berdirinya forum di Banyumas dipicu pengrusakan rumah-rumah ibadah di Timor Timur. Sejumlah tokoh agama di Banyumas ambil prakarsa, khawatir dampaknya sampai ke Tanah Panginyongan (Banyumas). Di antaranya KH. Nur Iskandar Al Barsani, KH. Moh. Roqib, Mgr. P.S. Hardjasumarta MSC Uskup Purwokerto waktu itu, Pdt. Daniel, KH. Miftakhus Surur, satu lagi dari Penghayat Kepercayaan, dan Ahmad Tohari. Mereka berinisiatif menyelenggarakan silaturahmi dan dialog. Terbentuklah forum antaragama dan penghayat kepercayaan, embrio FKUB saat ini.

Forum berkembang cepat oleh kehadiran Mgr. Sunarka SJ sebagai Uskup Purwokerto, bahkan menjadi motor. Di forum itulah Ahmad Tohari-yang dianggap salah satu tokoh Islam dan budaya-sering bertemu monsinyur. “Saya dan Mgr. Sunarka cepat akrab, mungkin karena kami merasa sama-sama manusia yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa. Kami tidak pernah bicara soal agama masing-masing. Kami lebih suka berusaha membuktikan keimanan kami dengan menunjukkan perhatian kepada masalah kemanusiaan,” kata Tohari. Mereka saling bertukar kunjungan. Tohari sering datang ke wisma keuskupan, begitu sebaliknya. Pernah salat di emperan katedral, aneh bagi Tohari sebab sajadah pun tersedia di sana.

Monsinyur tidak hanya akrab dengan Tohari dan keluarganya, tetapi dengan siapa pun. Kalau bertandang ke Tinggarjaya, uskup suka masuk ke dapur dan bertanya ini itu, sambil mencicipi makanan. “Monsinyur selalu datang pertama kali di hari pertama Idul Fitri,” tambah Tohari. Ia terkesan ketika monsinyur ikut tahlilan dengan suara lantang, jelas dan betul ketika ibundanya meninggal, juga peringatan-peringatan berikutnya. Monsinyur selalu datang lebih awal dan selalu pulang belakangan. “Sampai beliau wafat di Semarang saya masih pegang nomor kontaknya.”

Dataran Makna

Tentang Ronggeng Dukuh Paruk, Tohari mengaku banyak dikritik oleh kalangan santri.  “Santri kok nulis ronggeng,” kata Tohari mengingatkan kritik mereka. Santri kok nulis hal-hal jahiliyah. Novel yang tidak Islami. “Makna yang ingin saya sampaikan belum dimengerti.”

Dalam trilogi itu dia maksudkan dua hal, unsur keagamaan dan unsur kemasyarakatan. Kalau hanya sisi seksualitas yang dibaca dan diangkat, jadi tidak lengkap. Dengan film Sang Penari yang diangkat dari trilogi itu, film ini memenangkan empat Piala Citra dalam FFI tahun 2011. Tohari merasa lebih terwakili dibanding film-film sebelumnya. “Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk merupakan satu kesatuan, tidak bisa dipotong-potong.”

Dalam Konferensi Sastra Asia Tenggara Ke-3 di Singapura tahun 1987, salah satu pemakalah dari Indonesia, Mohammad Ridho ’Eisy menyampaikan pendapat, novel trilogi Tohari adalah dakwah Islam. Masdar F. Mas’udi, cendekiawan NU, menyebut semua karya tulis Ahmad Tohari hadir dalam dataran makna (Pengantar Penerbit kumpulan kolom Ahmad Tohari, Berhala Kontemporer, Risalah Gusti, 1996). Membahasakan Tohari tentang dua unsur makna triloginya, agar pembaca bisa menangkap utuh karyanya, harus dipertimbangkan faktor kultural. Hanya dengan menggunakan kaca mata kultural, bisa terasa roh Islami dalam trilogi maupun semua karya Tohari.

Pulang kampung ke Tinggarjaya, sekitar 40 km timur Purwokerto, Ahmad Tohari meninggalkan jabatan Redaktur Budaya di Harian Merdeka, Jakarta. Alasannya mau mengasuh pondok pesantren warisan bapaknya di Tinggarjaya. Alasan sebenarnya ingin menulis novel. Tohari memang tidak pernah mengasuh Pondok Pesantren Al Falah yang sampai sekarang diasuh adiknya, tidak juga pernah tinggal di pesantren. Lulus SMA jurusan Pasti Alam, kuliah di tiga fakultas (Kedokteran, Ekonomi, Fisipol) di universitas berbeda-beda yang tidak semua selesai, Tohari rendah hati mengatakan, “saya lulusan SMA Negeri 2 Purwokerto”. Terkabul niatnya menulis novel, sementara sebelumnya hanya cerpen dan esai.

Menulis novel harus serius. Butuh perenungan pribadi yang mendalam. Ketika masih jadi wartawan, Tohari mencoba menulis novel. Hanya dapat 16 halaman. Sekarang dalam usia di atas 70 tahun, ayah lima putra enam cucu itu sudah merasa kehabisan bensin untuk nulis novel. “Saya masih nulis cerpen. Judul cerpen saya terakhir menjadi judul buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2019, Mereka Mengeja Larangan Mengemis, terbit 2020; satu dari 20 cerpen terpilih yang dimuat Harian Kompas tahun 2019.” Kumpulan cerpennya Senyum Karyamin (1989), Nyanyian Malam (2000), Rusmi Ingin Pulang (2004), Mata yang Enak Dipandang (2013). Karyanya sebagian diterbitkan dalam bahasa Jepang, Mandarin, Belanda, Jerman. Novel trilogi diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Dancer.

Merasa sudah “kehabisan bensin” untuk menulis novel, menurut Tohari gaya realisme yang dianutnya sudah lewat, dan sudah ditinggalkan kebanyakan pengarang. Dia selalu berangkat dari pengalaman yang kemudian diabstrasikan. Tidak bisa berilusi tanpa pengalaman. Kemiskinan Dukuh Paruh, fiksi sebuah dukuh kecil, miskin, tidak dikenal, diangkatnya sebagai site setting. Berkat penobatan Srintil sebagai ronggeng, perlambang jati diri Dukuh Paruh-pedukuhan ini hidup. Malapetaka 1965 membuat Dukuh Paruk hancur. Orang-orang dieksekusi dan ditahan, termasuk Srintil. Trilogi kena sensor. Ada bagian-bagian yang dilarang terbit.

Pada tahun 2000, ketika novel ketiga trilogi diterjemahkan ke bahasa Inggris, bagian yang kena sensor itu bersama 30 naskah lainnya dimuat dalam Jurnal Manoa terbitan Universitas Honolulu. Bagian yang kena sensor ini dalam terbitan satu kemasan tahun 2003, dimasukkan kembali. Pengarangnya, Ahmad Tohari pun beberapa minggu diinterogasi, bebas setelah menghubungi sahabatnya, almarhum Gus Dur.

Muncul Begitu Saja

Nama Dukuh Paruk, Srintil, dan tokoh-tokohnya muncul begitu saja. Anehnya, tiga tahun setelah buku terbit pertama, ada orang datang ke rumah. Menunjukkan KTP dengan alamat Dukuh Paruk, Desa Bandung, Kecamatan Subak, Kabupaten Batang sambil berterima kasih dukuhnya jadi terkenal. Penari ronggeng atau lengger amat dihormati warga masyarakat dan pejabat, tidak hanya karena tingkat kehidupannya lebih makmur, tetapi juga kehormatan terpilih sebagai ronggeng. Penari ronggeng biasa dipanggil jeng nganten. Nama Srintil? “Begitu saya membayangkan seorang gadis belum 20 tahun yang berbadan kecil, cantik dan lincah bergerak, ketemulah tokoh Srintil.” Kehancuran fisik dan psikis Srintil bersama Dukuh Paruk di akhir trilogi yang semula memunculkan harapan, berakhir dengan semakin terempasnya Srintil dalam kenestapaan total.  Ahmad Tohari semula akan melanjutkan triloginya jadi tetralogi. “Atas saran teman-teman nanti malah kehilangan klimaks. Saya batalkan rencana itu.”

Selain menulis, sehari-hari Ahmad Tohari terus aktif dalam berbagai kegiatan membangun kerukunan beragama dan kemasyarakatan. Di antaranya masih memimpin majalah Ancas. Kalawerta Panginyongan, bulanan berbahasa Banyumas. Pernah memimpin satu tim penerjemahan Al-Quran dari bahasa Arab ke bahasa Banyumas. Dengan kehadiran Mgr. Sunarka di Banyumas selama enam tahun, Tohari merasa memperoleh teman seiring. “Saya sendiri terpanggil ikut melahirkan FKUB Banyumas karena keimanan saya. Kami sama-sama yakin, orang beriman juga wajib menghargai hak orang lain untuk memilih agama yang disukainya.”

Ada yang mewarisi jejak sebagai penulis dari kelima putranya? “Tidak ada. Mungkin nomor empat yang bidang ilmunya mirip, antropologi,” kata Tohari. Dua lainnya bidang ekonomi dan manajemen, satu kesehatan (dokter spesialis lulusan Frankfurt) dan satu teknik (doktor lulusan Teknik Sipil Hokkaido). Yang sulung, Listia, selain lulusan S2 manajemen, aktif di bidang dialog antaragama.

 Penulis: St. Sularto

 Profil Ahmad Tohari

Lahir: Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas 13 Juni 1948

Pendidikan:

  • SMA Negeri 2, Purwokerto
  • Peserta International Writing Programme Iowa City, AS

Karya:

  • Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982, 1985, 1986)
  • Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
  • Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
  • Orang Orang Proyek (novel, 2002)
  • Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006)

Penghargaan:

  • Hadiah Yayasan Buku Utama, novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986), 1986
  • Hadiah Sastra ASEAN Write Award, 1995
  • Hadiah Sastra Rancage, 2007
  • Penghargaan The Fellow of the University of Iowa, AS

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here