Keberagaman ‘Terkoyak’, Suster Zita Terkenang Ayah dan Ibu

112
Suster M. Zita Dian Yuniarti, SPM

HIDUPKATOLIK.COM-INDAHNYA keberagaman telah lama dirasakan Suster M. Zita Dian Yuniarti, SPM (Kongregasi Suster Santa Perawan Maria dari Amersfoort/Zuzter van Onze Lieve Vroow). Suster yang tengah mendalami studi bidang Psikologi di Filipina ini sudah terbiasa dengan perbedaan keyakinan dalam keluarganya.

“Orangtua sejak dulu Islam karena memang berasal dari keluarga Islam. Dari garis keluarga Ibu, hanya Ibu saya yang punya anak yang beragama Katolik. Dari garis keluarga Bapak, hanya ada satu keluarga yang beragama Katolik dan bukan dari saudara kandung Bapak,” ujarnya melalui platform WhatsApp awal Oktober lalu.

Suster Zita, demikian sapaannya, mengaku, memiliki orangtua pemeluk Islam yang sangat moderat. “Meski orangtua Islam, ketiga kakak saya disekolahkan di SDK St. Maria, Magelang, sekolah milik Suster SPM,” ujar Sekretaris SPM Provinsi Indonesia 2011-2017 ini.

Anak keempat dari lima bersudara ini bertutur, meski belum dibaptis, saat kelas IV SD, ia sudah aktif sebagai misdinar. Ia baru menerima Sakramen Permandian saat kelas VI setelah menjalani masa katekumenat selama satu setengah tahun dan menerima Sakramen Krisma saat kelas dua SMP.

“Orangtua sangat mendukung kegiatan kegerejaan, namun kegiatan sekolah tetap menjadi prioritas. Meski sudah menganut iman Katolik, saya waktu itu ikut menjalani ibadah Puasa Ramadhan bersama Ibu. Dari situlah kebiasaan mengikuti Misa harian berawal. Karena setelah bangun pagi-pagi untuk sahur, saya tidak bisa tidur lagi. Maka sempat terpikir waktu itu untuk ikut Misa harian pukul 05.30 WIB di gereja,” paparnya.

Semasa SMK, tutur Suster Zita, gereja menjadi rumah keduanya.  “Sekolah saya searah dengan gereja. Jadi setelah Misa pagi langsung berangkat ke sekolah. Gereja menjadi seperti rumah kedua saya, karena bersama teman-teman Mudika, banyak menghabiskan waktu berkegiatan di sana sepulang sekolah atau waktu-waktu lain,” timpalnya.

Belakangan Suster Zita merasakan prihatin dengan munculnya benih-benih intoleransi, bahkan radikalisme keagamaan di tanah air. “Padahal, keberagaman itu sejatinya indah karena sejak awal mula, Tuhan menciptakan dunia dan isinya juga dalam keberagaman. Orangtua kami tidak memaksakan kehendaknya bagi kami untuk memeluk satu keyakinan tertentu. Bagi saya, itu karya Roh Kudus yang luar biasa, yang seringkali tidak mampu saya mengerti,” tambah kelahiran Magelang, Jawa Tengah ini.

Ketika kakak-adiknya dewasa, Suster Zita mengaku, tidak punya momen-momen khusus lagi untuk berkumpul, apalagi ketika semua sudah menjalani kehidupan masing-masing. “Saat saya punya waktu libur untuk mengunjungi keluarga, kadang momen itu menjadi kesempatan untuk berkumpul,” imbuhnya.

FHS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here