Puisi untuk Bern

89

HIDUPKATOLIK.COM – BERN memelukku erat. Berulang kali dikecupinya puncak kepalaku seperti yang biasa dia lakukan. Dadaku terasa nyeri, bagai dihujami ribuan pisau bermata tajam. Sembari membenamkan kepala di dadanya, aku terisak.

“Aku akan merindukan saat-saat seperti ini, Bern. Memelukmu tanpa batas ataupun penghalang yang memisahkan tubuh,” bisikku.

Bern mengambil kepalaku dan mendongakkannya dengan lembut, “Aku selalu memperlakukanmu begini, kan, Geva. Kamu enggak perlu rindu.”

“But it is not the right reason for us. We make a big mistake from our love,” ucapku lagi. Kubenahi letak kalung salib yang menjuntai dari lehernya lalu merapikan jubah putih yang dikenakannya. Jubah itu basah di bagian dada, oleh air mataku.

“Kamu harus menjadi pastor. Aku sudah mengikhlaskanmu.” Sekali lagi aku berucap lalu sebelum Bern sempat membalas kata-kataku, aku berlari sekencang-kencangnya, melewati lorong gereja tua, saksi bisu pertemuanku dengan Bern. Kutembus hujan di luar sana dengan hati perih, menangis, namun kuyakin, keputusan itu sudah sangat tepat.

Di sudut bangku gereja yang lengang, lelaki tercintaku masih duduk terpekur, sorot matanya kosong.

***

Namanya Bern. Lengkapnya … ah sudahlah, sebaiknya tidak aku sebutkan. Biar aku saja yang menyimpannya dalam hati, sebagai rahasia yang mungkin tak akan terungkap sampai maut menjemputku.

Berawal dari Facebook, kami bertemu. Tepatnya, tergabung dalam satu grup kepenulisan yang sama.  Aku mengagumi puisi-puisi Bern yang ditulis dengan bahasa sangat sederhana, lugas, sembarangan, namun mengandung arti yang tajam menusuk. Selebihnya Bern, menurutnya puisi-puisi dan cerita fiksi yang kutulis sangat bucin, budak cinta. Biarlah, Bern. Budak cinta, memang. Toh kamu juga jadi pengabdinya.

Sore itu, aku mandi cepat, lalu bergegas duduk di depan meja. Aku sudah membuka laptop, bersiap untuk menyelesaikan satu cerpen. Tiba-tiba ponselku bergetar. Kulirik sekilas, ada gambar foto profil berbentuk bulat. Siapa yang inbox aku, pikirku. Oh God, Bern!

[Selamat malam, Geva.]
[Selamat malam. Ini Bern kan? Apa kabar?]
[Kabar baik. Kamu sendiri bagaimana?]
[Aku baik-baik saja. Tumben inbox , ada apa?]
[Entah ya, tiba-tiba ingin sekali ngobrol denganmu. Apa aku mengganggu?]
[Sama sekali tidak.]
[Ngomong-ngomong, kita ternyata satu kota ya?]
[Oh masa? Sama-sama di Surabaya? Aku kok enggak lihat di profilmu ya ha ha ha …  maaf, Bern, kalau boleh tahu, kamu tinggal di Surabaya belahan mana sih?]

Bern menyebutkan satu daerah yang ternyata dekat sekali dengan rumahku. Lalu kami merencanakan pertemuan di gereja terdekat.

Aku tersenyum-senyum sendiri memandangi layar ponsel. Siapa kamu, Bern? Berani-beraninya kamu mendekati aku? Kamu belum tahu siapa Geva? Gadis berjulukan singa betina ini? Usiaku sudah lebih matang dari kamu, hai lelaki, ya itulah mengapa aku belum juga menikah. Karena sifatku yang galak, sama seperti julukanku, singa betina. Kamu akan menyesal nanti, Bern.

“Bern, ayo sini. Ngapain duduk aja di situ?!” seruku manja. Kami sedang pergi ke pantai Parangtritis waktu itu.  Aku asyik bermain kecipak air, sesekali terseret ombak kecil ke tengah lalu kembali lagi. Namun Bern tetap duduk pada tempatnya semula. Dia bergeming. O ya, sejak pertemuan di gereja, kami menjadi dekat. Sangat dekat malah. Mungkin pacaran. Tak sekali dua kami berbincang mesra, berbalas kalimat bucin dalam puisi, lalu juga saling berpelukan. Kurasa hanya Bern yang sanggup menetralisir jiwa galakku yang bahkan mungkin tak seorang pun sanggup melakukannya.

Bern tetap diam. Bola matanya kosong menatap ke depan, lalu kudekati dia.

“Ada apa, Bern?”

“Aku ingin kamu tahu satu hal, Ge. Tentang aku yang sebenarnya.”

“Emang siapa kamu? Cowok nakal yang suka usil? Yang enggak bisa diem bicara?

Yang galaknya sama dengan aku? Yang ….”

Bern menarik tanganku hingga aku jatuh terduduk di sampingnya. Dirangkulnya bahuku erat-erat, lalu dia mencium puncak kepalaku.

“Dengar baik-baik, ibu gendut ….”

“Tuh kan … ngeledek lagiiii ….”

“Enggak deh. Aku serius. Dengar ya, aku ini seorang frater.” Aku terkejut.

“Apa, Bern? Katakan sekali lagi!” kuguncang-guncang dadanya.

“Aku seorang frater. Mungkin tiga atau empat tahun lagi aku akan menjadi pastor,” tandasnya kemudian, dan itu menyisakan lubang cukup besar di dasar hatiku. Kosong … hampa udara ….

Aku masih saja menangis sepanjang perjalanan pulang. Tak ada lagi kesan gembira yang meski kami baru saja menghabiskan waktu berdua, di pantai yang romantis dan eksotis.

“Kamu menipuku, Bern, aku pikir kamu orang awam sama sepertiku,” kataku sembari menjatuhkan kepala di dadanya. Mobil taksi online yang membawa kami pulang pun melaju dengan dingin.

“Kamu marah denganku?” tanya Bern. Tangannya mengelus rambutku.

“Iya. Sangat marah. Kamu bohongin aku, Bern. Tega ya kamu,” ucapku sembari menggeretakkan gigi. Kucubit dada kirinya, tempat aku tadi menyandarkan kepala. Bern mengaduh. Matanya memerah. Namun dia diam, sama sekali tiada perlawanan, lalu memejamkan mata. Bulir-bulir bening membasahi ujung kelopak matanya.

“Aku minta maaf, Sayang.” Kuusap bulir bening itu dengan hati-hati. Lalu memeluk tubuh lelakiku dengan lebih erat.

“Aku mencintaimu. Sudah terlanjur mencintaimu.”

Kami menjalani hari demi hari dengan berbeda. Masih dengan penuh canda mesra nan hangat pada setiap obrolan di WhatsApp maupun telepon. Tak jarang kami juga melakukan video call. Bern, aku rindu padamu. Rindu, karena mulai detik dia mengatakan posisinya sebagai seorang frater, aku memutuskan untuk tidak usah saling bertemu. Ternyata mengucapkan tak sama dengan menjalani. Berat berjauhan denganmu, Bern.

Aku mulai menuliskan perjalanan cintaku dengannya melalui puisi. Tentang pelukannya, tentang ciuman lembutnya, tentang kegilaan-kegilaan yang pernah kami alami bersama. Kurasa aku sudah sangat frustrasi. Sering aku menangis seorang diri di tengah malam yang sunyi. Lalu mencoret-coret dinding tak ubahnya seperti anak kecil sedang belajar menemukan makna.

Ponselku bergetar. Bern menelepon.

“Aku enggak bisa tidur, Geva. Pikiranku ke kamu terus,” ujar suara di seberang. Aku mulai menangis.

“Bern, bisa enggak kita jalani hubungan kita seperti semula? Tanpa ada batasan bahwa kamu seorsng frater dan aku seorang awam?” tanyaku kemudian.

“Loh, tapi kamu sendiri yang meminta kita untuk enggak ketemu lagi kan?”

“Tapi aku enggak sanggup. Aku terlalu kangen.”

“Besok kita ketemu. Jangan menangis lagi. Sekarang tidurlah.”

Mencintai Bern dengan gila, itulah aku. Meski aku sudah paham siapa dia sebenarnya, aku tetap bersikeras mempertahankan hubungan. Aku tidak konsekuen melaksanakan janji yang aku buat sendiri untuk tidak menemuinya lagi. Begitu juga Bern. Entah mengapa, kami masih saja bercinta hingga tahun ke tiga.

Pada suatu hari aku bermimpi. Dalam mimpi, seolah aku masih berusia belasan dan menjadi putri altar, melayani pastor dalam mengunjukkan Misa suci. Pastor itu, Bern. Dengan khusuk dan penuh khidmat aku melakukan tugasku sampai mMisa usai, dan kami semua kembali ke dalam untuk berganti pakaian. Kemudian aku kehilangan Pastor Bern. Kucari dia ke mana pun, tetap tidak kutemukan. Tibalah pada sebuah pintu besar terbuat dari kayu jati yang dipernis begitu indah. Perlahan kubuka, dan kudapati padang ilalang yang lebah dan setinggi lutut orang dewasa.

Sekelebat bayangan Pastor Bern melintas, masih lengkap dengan jubah dan kasula warna krem.

“Pastor!” teriakku sambil berlari berusaha mencari bayangan itu. Tapi sunyi dan senyap. Hanya ilalang dan bunyi belalang yang terdengar.

“Mengapa kamu mencari aku? Pulanglah, karena aku akan pergi ke tempat di mana aku harus berada,” ujar Pastor Bern yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangku. Aku menoleh. Tampak bagiku, sinar wajahnya begitu benderang, sorot matanya teduh.

Pastor Bern mendekati aku yang masih berdiri termangu, lalu mengalungkan Rosario berwarna biru pada leherku. Diraihnya kedua tanganku lalu dikecupnya, kemudian dia memberi tanda salib dengan ibu jarinya pada dahiku.

Aku tersentak bangun. Keringat membasahi tubuhku. Oh Tuhan, mimpi macam apa ini?

Di gereja tua, aku berlutut dan memejam mata. Sehabis membuat pengakuan dosa secara pribadi kepada Tuhan. Aku tak pernah berani mengungkapnya di kamar pengakuan, entahlah … mungkin aku sangat ketakutan bila nanti pastor akan memberi absolusi padaku untuk segera meninggalkan Bern, frater kesayanganku itu.

Bern sudah duduk di sampingku, sama berlutut dan memejamkan mata sepertiku. Kusadari ketika aku menyudahi doaku dan kembali ke sikap duduk. Dia mengenakan jubah putih. Kalung bertali cokelat dengan salib besar tergantung di lehernya. Ingin sekali kupeluk tubuhnya itu, dengan segenap cinta dan sayangku, tapi siapakah aku? Lalu mimpiku kemarin?

“Salam damai, Frater Bern … “ bisikku ketika salam damai. Bern menatapku penuh rasa. Aku tak pernah menyebutnya ‘frater’ sebelumnya. Dan ini kulakukan.

Bagaimanapun, aku masih sangat mencintaimu, Bern. Entah sampai kapan. Kugenggam Rosario yang dia berikan kemarin sebagai hadiah ulang tahunku. Rosario ini berwarna biru, sama persis dengan yang dia kalungkan di leherku dalam mimpi.

Malam itu aku berdoa sangat lama.

***

Kulipat kertas putih berisi puisi yang baru saja selesai kutulis, lalu memasukkannya ke dalam amplop berwarna merah jambu. Aku akan memberikannya pada Bern, di hari pentahbisannya sebagai seorang pastor besok siang.

Jubah
 Aku
Segambar pucat penuh mantra
Berlagu sendu penuh sakral 
Kepada surga
Aku
Sebentuk jemawa, penuh eksotisme
Tersentuh tanganmu, pernah penuh gairah
Cinta
Mungkin birahi
Terimakasih, untukmu yang pernah berjuang melepasku
Ataupun mendulang kasih bertendensi asmara
Membelai, mungkin sengaja
 
Aku
Masih teronggok bak puisi berselubung cahaya
Putih, entah…
Masihkah penuh bait-bait doa
Di masa yang nanti

Dan langit  semakin merona, mengarakkan sang mega untuk pulang. Teduh, seteduh kamu, Bern, dalam hati terdalamku. (Tamat)

Oleh Genoveva Dian Uning

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here