HARI RAYA TANPA PERAYAAN

49
P.M. Susbandono, Kontributor, Penulis buku inspiratif

HIDUPKATOLIK.COM – SEJAK minggu lalu, beberapa pesan masuk ke WA kami.  Apalagi, kalau bukan berkenaan dengan Hari Natal dan “perayaan”-nya.

“Apakah tahun ini ada ‘open house’ Natal?”

Tradisi open house sudah lama berlangsung dalam keluarga kami.  Bermula ketika tinggal di camp perumahan milik perusahaan minyak dan gas Amerika, di Lirik,  Riau, tahun 1990-an.

Saat itu, Hari Raya diwarnai dengan saling kunjung antar tetangga.  Tak terkecuali Natal.

Tak ubahnya dengan Lebaran dan Imlek, Natal identik dengan silaturahmi dan makan kenyang.   Sampai-sampai, tak ada ruang kosong di perut kami.

Setiap tanggal 25 Desember, rumah kami penuh tamu, sejak pagi hingga malam.  Semua  bergembira, tertawa dan tentunya mengucapkan selamat kepada yang merayakan.  Tak ada perbedaan, meski suku, usia, status dan agama kami beraneka rupa.

Gantian, saat Idul Fitri atau Imlek tiba, kami berputar keliling dari tetangga yang satu ke yang lain.  Ketupat opor di saat Lebaran atau kue ranjang ketika Sin Chia menjadi makanan favorit yang dinanti-nanti.  Pantas, kalau Hari Raya disebut pula Hari Persaudaraan, Hari Persatuan, Hari Solidaritas atau Hari Toleransi.  Indah sekali bukan?.

“DNA masyarakat Indonesia adalah toleran dan moderat”. (Wawancara Presiden Jokowi di BBC News Indonesia, Februari 2020)

“Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahmi”. (Shahiih Al-Bukhaariy).

Itulah mengapa, di rumah kami open house Natal menjadi ritual yang tak pernah terlewatkan.  Diundang atau tidak, pintu terbuka atau tertutup, ada makanan atau tiada, tak menjadi soal.  Bila saja hiasan Natal terpasang, dan lagu-lagu Natal  berdentang, maka tetangga, sahabat, dan kerabat  masuk-keluar rumah tak henti-hentinya, seharian.  Tapi tidak untuk tahun ini.

Pandemi mengubah banyak hal.  Hari Raya Paskah di bulan April dan Idul Fitri di Mei, tak lagi seperti masa-masa lampau.

Upacara dibatasi.  Mudik tak leluasa.  Silaturahmi tak seperti  biasanya.  Kekkhawatiran akan pandemi mewarnai perayaan yang biasa digelar.  Umat yang hadir misa malam Natal di Gereja Matius Bintaro, Tangsel, biasanya 5000 orang, kali ini diatur hanya sekira 500.  Durasi disingkat separuhnya.

Natal bukan melulu tata-cara, tapi harus lebih dekat ke tetangga.  Natal bukan upacara atau gedung gereja, tapi harus lebih mencinta sesama.  Natal, sebagai pengejawantahan agama, berfungsi sebagai  inspirasi, bukan aspirasi.  (“Tasawuf, Sebagai Kritik Sosial”, halaman 165, Dr. K.H. Said Aqil Siroj, Mizan, 2006)

“Feast without celebration, but with love to others”.

Pandemi seperti mengingatkan kita agar berpikir ulang bagaimana merayakan Hari Raya, termasuk Natal.  Pandemi bagaikan lengkingan peluit menyadarkan manusia untuk merenung kembali, bagaimana  “mengagungkan” Natal yang pas dengan konteks lahirnya.   Semua sepakat, Natal bukan hura-hura tanpa hirau kepada mereka yang bisa saja sedekat tetangga.   Namun, ketika  terlaksana faktanya sering jauh berbeda.

Pandemi mengisyaratkan bahwa Natal adalah lambang kesederhanaan dan simbol persahabatan dengan orang kecil.  Natal bukan hanya open house atau pesta bersama atau misa  Natal yang meriah dan berdurasi lama.  Natal adalah pesta sederhana di kandang domba  Betlehem.

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya”.  (Yoh 1 :14)

Melalui pandemi,  Tuhan sedang memberi “catatan” tentang tata-cara “kehidupan baru”, termasuk bagaimana merayakan Hari Raya.   Sekali lagi, Natal adalah perayaan perdamaian dan niat baik yang penuh  dengan berkat dan rakhmat.  Itulah sejatinya kalau kita bicara tentang hakekat.

“Christmas is not a season nor a party, but a state of mind. To cherish peace and goodwill, to be plenteous in mercy, is to have the real spirit of Christmas”. – (Calvin Coolidge, Presiden Amerika ke-30, 1872-1933).

P.M. Susbandono, Kontributor, Penulis buku inspiratif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here