NARASI YANG MEMATIKAN

463
RUY Pamadiken, Kontributor

HIDUPKATOLIK.COMHAL berikut ini terjadi di dalam sebuah arisan keluarga. Tamu-tamu sudah berdatangan mulai jam 10.00 pagi padahal tuan rumah masih sibuk memasak di dapur untuk menyiapkan  makan siang. Otomatis yang datang langsung menuju ke dapur untuk permisi atau kulanuwun. Namun setelah itu selalu ada tambahan komentar tentang dapur. “Koq kecil sekali to ruangan dapurmu San”. Demikian komentar setiap kali ada saudara yang datang. Meskipun ungkapannya berbeda-beda, namun intinya sama, yakni  dapurnya terlalu kecil atau kurang layak.

Keluarga kecil keponakan saya yang baru punya dua anak itu keluarga yang bahagia menurut saya. Masih relatif muda tapi sudah mampu kredit rumah dan kendaraan. Selama ini juga mereka bangga akan rumah mereka sendiri meskipun sederhana. Namun sejak hari arisan itu, Santi terlihat murung dan mulai mempermasalahkan dapur yang kecil kepada suaminya. Terjadi perselisihan pendapat.

Narasi ‘dapur kecil’ telah mengusik kenyamanan hidup rumah tangga mereka.

Komentar salah satu anggota keluarga besar juga membuat kedua ponakan saya menciut. Katanya “Mobil murah ya”. Maka sore itu ketika arisan keluarga selesai dan semua tamu pulang, mereka tinggal dengan kesedihan. Kebanggaan atas rumah dan mobil kreditnya hilang.

Narasi dan diksi tidak datang secara netral. Di samping asumsinya sudah terstruktur di dalam diri subyek penutur, mereka bisa direkayasa karena pada hakikatnya narasi dan diksi adalah pilihan kata, penuturan dan bangunan punuturan. Jadi kehendak bebas yang menyusun dan menciptakannya. Pembaca tidak pernah tahu sesungguhnya, misalnya ada berita tentang kasus korupsi di sebuah media, apakah disebabkan karena kekhilafan, masif terstruktur, mis-management, atau memang kejahatan beneran.

Untuk mengetahui obyektivitasnya diperlukan cerita di balik layar bagaimana narasi dan diksi tersebut disusun dan disetujui oleh sidang redaksi. Pemilihan kata dan susunan kalimat kemudian didesain berdasarkan kesepakatan internal tersebut. Pembaca menerima berita seakan-akan sebagai sebuah fakta as written. Ketika sebuah berita dimaksudkan untuk mempunyai pesan tertentu, modus operandinya adalah mengolah fakta menjadi narasi dan diksi.

Pesan tertentu bisa karena pesanan, untuk mendapatkan opini tertentu, mempengaruhi opini publik atau kekuasaan dalam mengambil sebuah kebijakan. Independensi sesungguhnya tidak ada di dalam pemberitaan, selalu ada unsur subyektivitas dan yang lebih buruk lagi adalah unsur kepentingan serta konspirasi. Media kemudian menjadi alat proxy   melalui senjata narasi dan diksi. Maka ada industri media yang kemudian mengambil sikap. Apakah sebuah kasus kebakaran satu gedung, akan diberitakan sebabnya sebagai hubungan arus pendek, kesengajaan atau apa, itu soal pilihan, yang di baliknya barangkali penuh dengan negosiasi, tawar-menawar, kepentingan-kepentingan dan lain-lain, karena berhubungan dengan pihak ketiga atau keempat.

Narasi dan diksi itu mendapatkan kekuatannya apabila yang mengatakannya adalah seorang tokoh yang berpengaruh, terlebih ketika konteks atau timing zamannya pas.

Adolf Hitler

Kalau seorang Adolf Hitler memaklumkan pan-jermanisme berdasarkan keunggulan ras dan memerintahkan pembunuhan kepada kaum Yahudi, hal itu  benar-benar terjadi. 6 juta kaum Yahudi mati terbunuh dan 5 juta nyawa yang lain dalam PD II di daratan Eropa. Sebuah narasi ideologi Nazis yang dikatakan oleh seorang pemimpin yang ditakuti dan mempunyai senjata akan berakibat langsung.

Peristiwa sejarah ini sesungguhnya mewariskan kompleksitas dan absurditas  pemahaman tentang ideologi dan kemanusiaan. Sama absurd-nya ketika saya mencoba memahami sebuah tindakan yang menabrakkan dua pesawat penuh penumpang ke kedua gedung kembar WTC di New York City pada tanggal 11 September 2011, atau peristiwa pembunuhan anggota-anggota PKI pada tahun 1965 di Indonesia. Ribuan bahkan puluhan ribu nyawa terbunuh. Pasti ada narasi dan diksi-diksi tertentu yang sangat kuat, mempengaruhi opini sebagian atau sebagian orang sehingga mampu berbuat ekstrim.

Opini yang kemudian menjadi keyakinan akan mewujudkan gerakan.

Narasi dan diksi dari tokoh kuat (terutama dalam lingkungan tertentu), bahkan, bisa menentukan kebenaran, menamai kenyataan sebagai merah atau biru, baik atau buruk. Saya punya cerita dibawah ini.

Bekerja di sebuah korporasi, pimpinan tertingginya terkenal “kejam”nya. Direktur pun bisa gemetar ketika presentasi di depannya. Pernah halaman-halaman presentasi seorang Direktur dirobek-robek di forum. Pokoknya iya aja deh klo mau selamat. Di suatu hari yang cerah, saya mengikuti presentasi sebuah produk baru, minuman atau makanan saya lupa persisnya.

Setelah Executive Chef presentasi, didukung oleh Kepala Divisi yang terkait, kami yang diundang hadir mencicipi minuman atau makanan tersebut. Semua sepakat mengatakan enak, luar biasa. Tinggal komentar dari Boss. Saya sudah khawatir karena melihat mukanya tidak gembira. “Tadi siapa yang bilang enak?” tanyanya. Yang hadir, para direktur, VP, Kepala Divisi, semua terdiam. ”Siapa?” lanjutnya lagi dengan suara lebih keras. Kemudian mulai ada yang tunjuk jari dan semua tunjuk jari. Boss memandangi yang hadir satu demi satu, semua yang mulai menciut. “Standard kalian tu ya, enak dari mana?” Lalu semua yang hadir sepakat bahwa produk baru itu tidak enak. Saya pingsan …nggak ngerti lagi memahami dunia.

Rupanya yang vokal, yang punya duit, yang punya jabatan atau kekuasaan, apalagi ditambah punya back up bohir atau kekuatan politik, yang akan menentukan nama dari setiap peristiwa. Yang diam dan lemah cukup menelannya saja, biarpun berduri.

Baru-baru ini, media sosial diramakan oleh narasi dan diksi yang dibangun dan disampaikan oleh Ribka Tjiptaning, anggota DPR dari Fraksi PDIP. Pada intinya disampaikan bahwa Ribka dan keluarganya menolak untuk divaksin dan menyatakan narasi bahwa vaksin Sinovac dari Cina itu barang rongsokan.

Video dan ulasan-ulasan pro kontra atasnya sudah viral di media sosial. Bagaimana latar belakang narasi dan diksi ini dibangun? Apa argumentasinya dan tujuannya ke mana? Pasti hanya dia yang tahu persis jawaban-jawabannya, namun opini seperti apa yang diterima oleh masyarakat? Opini yang berkembang pasti bermacam-macam, tinggal sejauh mana narasi tersebut mempengaruhi opini, dipercaya dan mampu menjadi sebuah gerakan? Apakah yang meng-counter Ribka  mempunyai kapasitas yang sama atau lebih rendah atau lebih tinggi?

Kita sesungguhnya hidup di dunia narasi. Di era post-truth ini narasi mendominasi. Ini kenyaataan dunia digital yang tidak bisa dihindari. Yang diperlukan adalah siapkah kita menjadi filter bagi diri sendiri, untuk memilah-milah mana narasi emas dan sampah? Narasi asli atau pesanan?

Oh ya, dari cerita arisan keluarga di atas masih ada satu cerita yang tertinggal. Ketika ada tante yang jarang datang ke arisan keluarga namun kali ini datang, merasa heran melihat keponakan-keponakan yang sudah besar-besar. “Wah kamu koq jadi tembem sekarang. Jelek ah,” kata tante tersebut kepada salah satu keponakan perempuan seumuran abg. Saya melihat ekspresi keponakan itu sangat tidak suka, sangat membuat shocked apalagi dikatakan di depan orang-orang lain.

Narasi tanpa kebijaksanaan itu seperti pembunuhan. Mengerikan. Di medsos Indonesia yang dapat dikatakan “liberal”, narasi-narasi mematikan ini banyak beredar, terutama untuk maksud-maksud politis dan ideologis.

Be wise with myself.

RUY Pamadiken, Kontributor, Instagram: innerjourney1503.

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here