KACA MATA SAYA, KAMU, DAN DIA

662
4.7/5 - (24 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – PAGI ini terdengar suara hujan dari dalam kamar saya cukup lebat  dan angin dingin pun terasa menerpa tubuh saya. Lalu saya tarik kembali selimut serta dalam hati  berkata ,”tidur lagi ah.”

“Mager” itu istilah kata anak muda  zaman sekarang yang artinya malas gerak. Apa lagi yang bisa saya lakukan di masa pandemi Covid-19 ini bila pagi hari sudah dibuka dengan hujan dan udara dingin? Enaknya tidur lagi aja….

Ketika itu saya lihat jam weker di kamar baru menunjukkan pukul 4 pagi dan terdengar pula sayup-sayup suara adzan dari berbagai masjid di kompleks rumah saya. Nah itu adalah alarm pagi saya untuk memulai rutinitas doa pagi.

Lalu saya langsung tersadarkan dalam mimpi kemalasan dan buru-buru bangun untuk mencuci muka dan minum air putih. Kemudian saya ambil sebuah buku renungan, Kitab Suci, Rosario dan kaca mata+ yang merupakan pelengkap utama yang musti selalu ada di hadapan saya dan kemudian saya mulai dengan kebiasaan aktivitas pagi yang belum lama saya lakukan.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Markus 1:35).  Pesan ini selalu mengingatkan saya  tentang kaca mata Dia untuk saya agar tidak mager di pagi hari khususnya.

Setiap pagi saya mulai dengan berdoa melalui buku renungan dan kemudian menyalinnya kembali doa pagi dan renungan yang ada di sana, lalu membagikan tulisan tersebut ke status pribadi saya di media sosial dan  grup-grup komunitas yang ada di hape.

Menyalin kembali merupakan hal yang mudah saya lakukan tetapi apakah bisa terus saya lakukan dengan setia setiap pagi dan setiap harinya? Itulah pertanyaan yang selalu saya simpan di dalam hati dan pikiran selama ini karena itu bukanlah suatu tugas yang harus saya lakukan dengan terpaksa tetapi lebih kepada gerakan hati yang ingin berbagi.

Ya berbagi, walaupun berbagi itu hanya hal yang kecil dalam kaca mata kamu, karena pernah saya dengar ada yang berkata, “kalau cuman kirim renungan seperti itu mah gampang…., semua orang juga bisa. Mending juga buat renungan pribadi yang lebih berbobot.”

Saya cuman diam saja dan tidak mau menanggapinya. “Ya benar, semua orang juga bisa melakukan hal itu tetapi apakah kamu mau melakukannya dengan setia, terus setiap pagi atau setiap hari?” Kata saya dalam hati. Pada kenyataan yang ada orang-orang tersebut memang akhirnya membuat suatu renungan pribadi tetapi hanya bertahan dalam hitungan hari saja, lalu menghilang dalam keramaian pembicaraan grup di media sosial tersebut.

Waktu saya menuliskan kembali renungan itu yang bagi saya tidak terlalu panjang, saya hanya berpikir bahwa di luar sana mungkin ada orang yang tidak sempat membaca Kitab Suci, membuat doa pagi atau tidak punya buku doa untuk dijadikan pegangan setiap hari atau ada yang butuh penghiburan atau, atau yang lainnya.  Saya hanya berharap serta berdoa apa yang yang saya buat dapat berguna dan membantu bagi yang membacanya.

Dalam kaca mata saya hal berbagi ini, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, berbagi bisa dilakukan oleh siapapun, dengan banyak cara dan kapan pun. Walaupun saya hanya mencoba berbagi  melalui salinan tulisan renungan kecil itu, saya merasa sangat senang dan suka cita dalam Tuhan karena saya sudah mendapatkan beberapa tanggapan yang sangat baik dari pembaca-pembaca tersebut. “Terima kasih ya…..” Itu adalah salah satu ucapan yang saya terima yang bisa membuat saya terenyuh dan sangat menguatkan saya untuk tetap setia melakukannya setiap pagi, setiap hari.

Apa yang saya lakukan hanyalah hal kecil yang merupakan ucapan syukur kepada Tuhan yang selalu setia telah menjaga saya dan keluarga sampai selama ini. Dalam kaca mata Tuhan pasti Dia sedang menunggu umat-Nya untuk mau melakukannya juga, menyebarkan hal-hal yang baik sehingga menjadi berkat bagi sesama. Tidak perlu hal-hal yang dipandang luar biasa, karena semua itu bisa dimulai dari diri sendiri dan ditularkan kepada keluarga dirumah lalu siapapun dan dimanapun.

Seperti renungan yang saya baca hari ini, “Lebih baik kita berprinsip, “berbuatlah apa yang baik dan hindarilah apa yang jahat.” Dengan Prinsip ini, kita makin menghayati kebebasan sejati dalam hidup dan tidak terlalu peduli apa kata orang.”

Mari mulailah kita mencoba dan biarkanlah Tuhan yang menyempurnakan semuanya.

Eviantine Evi Susanto, Kontributor, Ibu Rumah Tangga

2 COMMENTS

  1. Aminnn
    Terimakasih Cece, kau adalah peloporku untuk baca Alkitab tiap hari, awali pagi hari dengan baca Alkitab, baru lakukan aktifitas sehari hari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here