PERTOBATAN DI MAKAM KUDUS

58

HIDUPKATOLIK.COM– PAGI baru saja beranjak. Kapal yang kutumpangi dari Alexandria merapat ke salah satu dermaga di Yerusalem. Sementara para penumpang bergegas mendarat, aku termangu di buritan kapal. Aku harus menjumpai sang nakhoda karena aku berangkat ke kota ini tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.

Aku dizinkan naik kapal dengan persyaratan. “Sebagai ganti ongkos, kamu harus membayar dengan tubuhmu,” kata bandot tua itu dengan seringai wajah menjijikkan. Apa boleh buat, aku harus melayani nakhoda itu melampiaskan hasratnya. Dengan cara ini, aku bisa menumpang kapal ini lagi kembali ke Mesir.

Setelah urusan berahi kelar, aku segera menelisik jalan menuju Gereja Makam Kudus. Meski selama ini aku tak peduli pada keberadaan Tuhan, kudengar bahwa relikui Salib Suci ditakhtakan di sini. Situs yang ditemukan kembali oleh Helena, ibunda Raja Konstantinus Agung, ini baru dibuka pada abad keempat dan diyakini sebagai Golgota, tempat Yesus disalibkan.  Di situ juga terdapat kubur kosong di mana Ia pernah dikuburkan, kemudian bangkit.  

Gereja ini selalu ramai karena menjadi tujuan utama para peziarah. Mereka datang dari Mesir, daerah-daerah di dekat Lembah Kidron, Tel Aviv, serta Betlehem dan sekitarnya. Tempat inilah yang menjadi sasaranku menjajakan tubuh. “Siapa tahu ada peziarah yang butuh jasaku,” harapku.

Tak terbilang kali aku melontarkan tanya kepada orang-orang yang berpapasan denganku,  “Di mana lokasi Gereja Makam Kudus?” Ternyata, tidak semua orang mampu menunjukkannya. Sungguh tidak mudah mencapai lokasi itu.

Setelah tersesat tak terbilang kali, akhirnya lokasi itu menghampar di depan mataku. Aku girang bukan kepalang. Kubah gereja ini — sebagaimana bangunan gereja dan masjid di segenap penjuru Israel– seolah mengerling kepadaku.

Kuseka pelipisku yang bergelimang peluh. Sementara tubuhku pun bersimbah keringat karena telah melintasi jarak yang sebegitu jauh dan berliku.  Gerisik dedaunan di emper jalan seakan memberi aba kepadaku agar mempercepat langkah. Semburat jingga mulai meronai cakrawala, pertanda senja bakal menyingkir. Langit segera muram seiring beringsutnya sang surya ke peraduan.

“Akhirnya, sampai juga,” ucapku girang.

Begitu mencapai pelataran Gereja Makam Kudus, mendadak kakiku terkulai tak bisa bergerak. Seketika aku tersadar bahwa tubuhku yang najis tak layak mendatangi tempat kudus ini. Terlebih, niatku datang ke tempat itu bukan untuk berziarah tetapi untuk mencari mangsa demi mengisi kocekku.

Tiba-tiba, sesal melumuri hatiku. “Ya Tuhan, betapa banyak dosaku selama ini,” ucapku dengan suara tercekat. Bertahun-tahun aku telah diperbudak oleh nafsu ragawi dan harta duniawi. Betapa keterlaluan, aku mendatangi Yerusalem dengan niat nan nista.

Dari luar Gereja Makam Kudus, aku melihat ikon Bunda Maria seakan iba menatapku. Seraya memukul-mukul dada, aku mohon ampun. “Ya Bunda, sebagai silih, aku mau menjadi pertapa di padang gurun,” kataku mengudar nadar.

Setelah mengungkapkan pertobatan, aku mencoba menggerakkan kakiku ke dalam Gereja Makam Kudus. Kali ini, langkahku terasa ringan mencapai altar. Lantas, aku tersungkur di hadapan relikui Salib Suci dengan air mata berderai. Samar kudengar suara lirih menerobos gendang telingaku, ”Jika engkau menyeberangi Sungai Yordan, engkau akan menjalani sisa hidupmu dalam kemuliaan…”

***

Selama 17 tahun tingkahku liar tak terkendali.  Sedari remaja, aku dikenal binal. Aku terbiasa berkeliaran di jalan-jalan kota Alexandria. Kota pantai dengan pemandangan yang mengundang decak kagum itu senantiasa menggodaku untuk lari dari kediaman orang tuaku.

Di luar rumah, aku mencecap kebebasan. “Dasar anak tak tahu diuntung, bikin malu keluarga!” hardik ayahku pada suatu hari, tatkala memergoki aku mabuk di sebuah kedai. Semburan emosi ayah membuat aku kian enggan kembali ke rumah. Pulang berarti bogem mentah ayah bakal mendarat di wajahku.

Di usia teramat belia, aku sudah terjerembab ke dalam pergaulan bebas. Lelaki yang tak jelas asal-usulnya merayuku hingga aku mabuk kepayang. “Kau mau jadi istriku?” tanyanya menyodorkan iming-iming. “Aku akan membawamu ke puncak bahagia,” celotehnya. Nyatanya, janji sekadar janji yang tak teruji. Setelah menikmati tubuhku, ia menyoreng dusta, kabur entah ke mana.

Untuk bertahan hidup, aku harus mengais rezeki. Kebisaanku hanya melayani seputar syahwat. Banyak lelaki hidung belang yang membutuhkan jasaku. Negeri Firaun ini  tak pernah lepas dari pesona prostitusi. Layanan romantika sesaat ini menyesap di antara hiruk-pikuk aktivitas masyarakat. Aku berada dalam kondisi di mana masyarakat menjunjung kemolekan tubuh. Alhasil, kaum hawa berjuang untuk mempertontonkan nilai estetika yang dikagumi itu.

Sementara sebagian lelaki tak bernyali membangun rumah tangga karena modalnya belum memadai. Namun, mereka tak kuasa membendung luapan nafsu. Sedangkan mereka yang sudah menikah malah ingin mencicipi perempuan yang berbeda dari istrinya, sekadar variasi. Lantas, mereka menuntaskannya di rumah bordil!

Sebagai perempuan panggilan, aku bisa diajak berkencan di mana saja. Tak harus di losmen atau di warung-warung temaram pinggir jalan,  juga di rumah perahu yang ditambatkan di bibir pantai guna melayani pelesiran seks sesaat. Setiap musim panas, banyak lelaki dari Jazirah Arab menumpahkan duit di Alexandria. “Pada saat itulah aku panen,” ucapku sembari melepas tawa.

Namun, dengan bergulirnya waktu, kian banyak perempuan yang mendulang perolehan seperti aku. Bahkan mereka lebih seronok menjual diri. Mereka berdiri terang-terangan di emper pantai tatkala kegelapan malam mulai mendekap semesta. Persaingan pun runcing. Akibatnya, rezekiku terpangkas. Selama berhari-hari, tidak ada lelaki yang mengencaniku.

“Aku bisa tidak makan kalau keadaan terus begini,” keluhku. Cakram otakku menelisik celah. Mungkin aku harus pindah lokasi. Kudengar, Yerusalem selalu ramai disambangi orang. Aku ingin bertaruh nasib ke sana.

***

Ternyata, di Gereja Makam Kudus, tekadku  ingin hidup lurus tersulut. Kuikuti bisikan yang kudengar di situ; aku segera menuju Sungai Yordan. Sejenak aku singgah di Biara Santo Yohanes Pembaptis di tepi sungai guna menerima Sakramen Rekonsiliasi.

Selanjutnya, kuseberangi Sungai Yordan menuju arah timur. Di situ membentang padang gurun nan lega untuk menggenapi niatku menjadi pertapa, membasuh masa laluku yang kelam.

Selanjutnya, setiap hari aku terbenam dalam keheningan dan untaian doa yang khusyuk. Aku hanya makan daun-daun atau buah-buahan yang jatuh di sekitarku. Perjumpaanku dengan Tuhan membuat keseharianku sungguh tenteram dan damai.

Ketika tubuhku mulai digerogoti sang waktu, aku berjumpa dengan Zosimus, seorang biarawan dari Palestina. Ia menghuni sebuah biara mungil di tepi Sungai Yordan.  “Tolong bawakan Komuni untukku pada Hari Paskah,” pintaku. Permintaan itu diluluskannya.  Pada Hari Raya Paskah, Zosimus membawakan Komuni untukku.  Aku bahagia tak terkira bisa menyambut tubuh Kristus, Junjunganku.

Setelah mengucapkan syukur, aku berpesan agar Zosimus kembali lagi membawakan Hosti Kudus pada Paskah berikutnya. Namun, dahagaku terhadap Ekaristi tak sempat terpuaskan. Tubuhku keburu tak bernyawa sebelum Zosimus tiba. Ajaibnya, jasadku tetap utuh dan harum semerbak. Lantas,  Zosimus memakamkan jasadku.

Jejak-jejak kehidupanku dikisahkan oleh Zosimus kepada saudara-saudaranya. Kisah itu dipelihara di antara komunitas mereka sebagai tradisi lisan. Tiga abad kemudian, kisah hidupku ditulis kembali oleh Patriark Yerusalem, Sophorinus.

Ia mengisahkan bahwa aku telah melintasi kehidupan asketik  sebagai silih atas berjibun dosaku. “Akhirnya, Maria Aegyptica menjadi perempuan yang tahan godaan. Ia belajar mengendalikan nafsu yang tak beraturan dan sungguh menyesali dosa-dosanya,” tulis Sophorinus.

Oleh Maria Etty

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here