Tionghoa dan Gereja yang Membumi di Khatulistiwa

98
Foto dokumentasi Yasa Nagari (Liem Kiang Kok) diambil di Ketapang, pada bulan Mei 1974 saat prosesi pemakanan ibundanya. Kereta yang mengangkut peti jenazah ditarik dengan traktor yang dikemudikan oleh Bruder Laurent, CP

HIDUPAKTOLIK.COM – Orang Tionghoa sudah masuk Kalimantan Barat yang disebut Bumi Khatulistiwa sejak beberapa abad yang lalu. Para misionaris dari Eropa menyusul dan keduanya berkarya bersama.

SETIAP tanggal 2 November, umat Katolik mengenang Arwah Semua Orang Beriman. Maka janganlah heran kalau penerbangan paginya menuju Pontianak akan tampak beberapa penumpang yang membawa bunga bersamanya. Mereka adalah orang-orang yang akan mengunjungi pusara para orangtuanya yang dimakamkan di ibu kota provinsi Kalimantan Barat itu atau kota lanjutannya.

Misa di pekuburan Katolik Sungai Durian yang terletak antara kota Pontianak dan Bandara Soepadio itu biasanya diadakan sore hari. Meski bulan November sudah musim hujan, tidak mengurangi hasrat umat untuk menyambangi makam orang tua atau kerabat lainnya. Misa konselebrasi diakhiri dengan imam memercikkan air suci ke makam-makam yang ada di pekuburan itu.

Berdoa di makam orangtua adalah salah satu tradisi luhur orang Tionghoa sejak dulu. Itulah cara sederhana untuk berbakti kepada orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Biar pun sudah menetap terpisah dan dalam keadaan sibuk, anak-anak selalu datang berdoa di makam, setiap tahun. Tradisi luhur ini berkelindan dengan ajaran Katolik pada Hari Arwah Semua Orang Beriman.

Tionghoa dan Gereja

Meski sudah beragama Katolik, orang Tionghoa tidak melupakan tradisi sembahyang kuburan. Ada dua hari sembahyang setiap tahun yaitu pertama Cheng Beng pada minggu kedua bulan Maret. Yang kedua adalah Zhong Yuan pada pertengahan bulan ketujuh penanggalan Cina, yang disebut sembahyang hantu.

Pada kedua hari ‘penting’ bagi orang Tionghoa itu, penerbangan ke Pontianak dipastikan ramai sekali. Tidak hanya ke Pontianak, tetapi juga yang berasal dari kota-kota lain di Pulau Sumatera, Bangka-Belitung, dan lain-lain, banyak yang pulang kampung. Termasuk di dalamnya orang Tionghoa Katolik.

Ritual sembahyang ini bukan hanya untuk berbakti kepada orangtua yang sudah tiada, tetapi juga untuk saling berjumpa dan merekatkan kembali ikatan kekeluargaan antar para keturunan di dunia ini. Yang terpencar, renggang, sibuk dengan kesehariannya, akan bersimpuh bersama di depan makam orangtuanya untuk rukun kembali, saling memaafkan, dan berjanji memperhatikan satu sama lain.

Sekali pun persembahyangan Tionghoa ditandai dengan bakaran hio dan persembahan barang-barang duniawi kesukaan orangtua, orang Katolik tetap hadir dengan lilin putih, bunga-bunga, dan doa-doa standar seperti Bapa Kami, dan Salam Maria.

Pulang kampung yang paling ramai tentu saja setiap menjelang perayaan Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada hari Jumat 12 Februari 2021. Dalam sistem kalender yang berdasarkan bulan mengelilingi matahari ini, Imlek adalah hari permulaan musim semi. Perayaan ini kini juga disemarakkan dengan Misa syukur di gereja-gereja Katolik.

Sebelum Reformasi

Perayaan Imlek di Kalimantan Barat telah hadir bersamaan dengan kedatangan orang-orang Tionghoa dari daratan Tiongkok untuk menetap dan bekerja di tambang-tambang emas sekitar abad ke-18. Sedangkan misionaris Katolik dari Eropa mulai berkarya secara menetap pada abad ke-19.

Sebagai sesama pendatang, orang Tionghoa dan para misionaris dari Eropa bekerja bersama-sama menyebarkan agama Katolik. Perkabaran Injil di Bumi Khatulistiwa mendapat perkuatan dari katekis yang datang dari Tiongkok daratan, juga misionaris Eropa yang belajar bahasa Mandarin.

Setelah kemerdekaan, jumlah umat Katolik terus bertambah, khususnya karena peran persekolahan dan layanan Rumah Sakit. Banyak anak yang lahir dengan bantuan persalinan dari bidan Suster Katolik

Pada saat Paus Yohanes XXIII mendirikan Hierarki Episkopal Gereja Katolik di Indonesia pada tanggal3 Januari 1961, berdiri pula Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Ketapang, dan Keuskupan Sintang. Kemudian menyusul Keuskupan Sanggau pada 8 Juni 1982.

 

Perayaan Imlek di Gereja St. Yosef, Paroki Katedral Pontianak yang dipimpin Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus (paling depan) tahun 2019.

Menurut data Provinsi Kalimantan Barat tahun 2018, jumlah penduduk seluruhnya adalah 5.001.664 jiwa dengan luas 146.807 km2 atau kepadatan 34/km2. Bandingkan dengan penduduk Pulau Jawa seluruhnya tahun 2015 sekitar 145 juta jiwa, luas 138.794 km2 atau kepadatan 1.045 jiwa/km2.

Jumlah penganut agama Katolik di seluruh Kalimantan Barat adalah 23,50% atau hampir 1,2 juta. Terdiri dari penduduk asli Dayak, Tionghoa; serta pendatang Jawa, Flores, dan sebagainya. Bandingkan Islam 55,68% dan Protestan 13,62%.

Para imam selain diosesan yang berkarya di Kalimantan Barat adalah OFMCap, CP, CDD, MSC, OP, SMM, SVD, CM, CSE, MSA, OSC, OSM, OAR. Selain itu Bruder MTB, FIC, OFMCap, CP, CDD, MSC, SVD, MSA dan sekian banyak kongregasi suster.

Kerja sama misionaris dan Tionghoa di Kalimantan Barat sangat erat, khususnya karena orang Tionghoa sudah mengembangkan alat transportasi, dan jaringan logistik yang dibutuhkan oleh masyarakat. Bersama persekolahan dan rumah sakit, Tionghoa dan Gereja Katolik sudah membumi di Khatulistiwa.

Sebelum Reformasi 1998, perayaan Imlek dilarang di seluruh Indonesia. Meski demikian, warga Tionghoa di Kalimantan Barat tetap memperingatinya secara tidak mencolok. Tradisi membersihkan rumah, makan keluarga pada malam Imlek, saling berkunjung sambil membagikan angpao (amplop berisikan uang) kepada orang tua, anak-anak, dan kaum yang membutuhkan.

Orang muda Tionghoa di Kalimantan Barat pernah terimbas peraturan pembauran di sekolah-sekolah swasta sehingga sebagian harus pindah ke sekolah negeri. Ketika negara memaklumatkan penggunaan nama alfabetis, banyak orang Katolik menampilkan nama baptis.

Ketika merayakan Imlek dianggap berkiblat pada negeri leluhur Tiongkok, sesuatu yang sensitif pasca G30S, secara tidak langsung sekolah-sekolah (Katolik) mengurangi ketegangan dengan mengharuskan semua muridnya masuk sekolah. Dengan ‘ancaman’ ulangan atau sejenisnya.

Orang Tionghoa Kalimantan Barat yang terpanggil menjadi imam antara lain Pastor Pasifikus, OFMCap; Petrus Rostandy, OFMCap; Pastor William Chang OFMCap; Paulus Toni Tantiono OFMCap; dan Johan Paulus CP.

Cosmas Christanmas (Kontributor, Jakarta)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here