KEHADIRAN PASTOR LEO JOOSTEN YANG SELALU KAMI RINDUKAN

168
Frater Arie Rizky Oktavianus , OFMCap dan alm. Pastor Leo Joosten, OFMCap (kanan)

HIDUPKATOLIK.COM – BANYAK yang mengenal dan membanggakan P. Leo Joosten, OFMCap sebagai seorang pastor budayawan, terutama dengan usahanya mengoordinasi pembangunan gereja-gereja inkulturatif dan dua museum budaya, satu di Paroki Pangururan, Samosir dan sau di Paroki Brastagi, Tanah Karo, Sumatera Utara. Itu tentu saja benar.  Sayangnya kerap karya besar akan kebudayaan itu menenggelamkan beberapa kharisma lainnya yang terpancar dari pribadi P. Leo. Misalnya, bagi saya, seorang saudara muda Kapusin.

Dari pengalaman hidup sekomunitas dengan dia dan pastor Kapusin lain, sekurang-kurangnya dua hal yang menarik dari P. Leo untuk diteladani, pertama, semangat persaudaraannya. Sebelum saya hidup berkomunitas dengan P. Leo, saya kurang mendengar kesan ini. Kesan yang lebih sering terdengar mengenai dia  adalah sebagai pastor budayawan. Sebagai saudara yang berusia paling muda di komunitas Kapusin Berastagi, saya merasa sangat kerasan hidup selama kurang lebih satu setengah tahun bersama dia.

Dia lebih hadir sebagai saudara daripada sebagai seorang opung (kakek) atau seorang senior yang disegani. Dia menunjukkan sikap yang terbuka dan menerima kehadiran setiap saudara, walaupun belum tentu semua saudara sesuai dengan harapannya. Dia bukan saudara yang rewel dan banyak komentar apalagi membanding-bandingkan kehebatannya dengan karya saudara lain. Karena itu saya bisa mengerti bahwa menurut cerita beberapa orang, pimpinan Kapusin dulunya sering mengandalkan dia untuk berkomunikasi dengan saudara-saudara yang relatif sulit dihadapi.

Bagi saya, P. Leo lebih hadir sebagai saudara yang disenangi. Kehadirannya kami rindukan khususnya di meja makan. Selalu ada-ada saja humor yang disampaikannya. Ekspresi spontannya setiap kali bercerita pun membuat kami tertawa terbahak-bahak. Itu membuat suasana persaudaraan menjadi lebih hidup.  Kemampuannya beradaptasi memang luar biasa. Itu juga bisa dilihat dari minat dan usahanya untuk mengembangkan kebudayaan di mana ia berkarya.

Hal kedua yang menonjol dari Pastor Leo, yang cukup membuat saya tersentuh adalah bela rasanya pada orang-orang susah. Dia sering bercerita bagaimana pengalamannya dulu terlibat dalam usaha menolong orang-orang miskin dan cacat.  Ceritanya ini mendorong saya juga untuk peka akan penderitaan orang-orang kecil.

Suatu kali saya  tergerak untuk membantu pengobatan seorang bapak yang cacat karena kecelakaan.  Sebenarnya saya tidak tahu apa yang bisa saya bantu mengingat saya masihlah seorang frater dengan segala keterbatasan kemampuan. Tapi motivasi yang disampaikan oleh P. Leo senantiasa mendorong saya untuk terus berjuang. Alhasil bapak tersebut bisa memperoleh pengobatan yang layak di Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya, Pematangsiantar. Bapak yang dulu mau bunuh diri karena depresi akan cacatnya, kini bangkit kembali.

Saya bangga bisa ikut dalam karya luar biasa itu. Pengalaman itu membuat saya semakin mencintai panggilan kekapusinan ini. Yang saya mengerti bahwa saudara Kapusin adalah saudara yang merakyat. Hal itu bisa saya cicipi karena motivasi yang saya terima dari seorang P. Leo. Selamat merayakan lebih 50 tahun imamat, Saudara!

Frater Arie Rizky Oktavianus Saragih, OFMCap (Brastagi)

 

 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here