Tak Memandang Remeh Pekerjaan Seseorang

126
Angela Januarti, Kontributor, aktivis Credit Union, OMK Keuskupan Sanggau

HIDUPKATOLIK.COM – AKU dan dua rekanku baru saja menyelesaikan webinar kantor di hari itu. Waktu telah menunjukkan pukul 18.00 WIB lewat dan perut kami sudah mulai keroncongan. Kami pun bersepakat makan malam bersama di rumah makan yang kami lewati dalam perjalanan pulang. Saat tiba, beberapa meja sudah terisi pengunjung, maklumlah ini memang jam makan malam. Kami memilih meja di bagian kiri tengah pintu masuk. Mejanya lebih lebar untuk kami bertiga. Dengan sigap, pelayanan datang menghampiri, memberikan menu dan siap mencatat pesanan kami. Tak butuh waktu lama untuk memilih menu, perut tak mau lagi berkompromi.

Menit ke menit berlalu, makanan yang kami pesan belum selesai. Tak seperti biasanya makanan datang dalam waktu lama. Tapi, kami mencoba maklum, ini jam padat orang memesan makanan, tidak hanya yang makan di tempat, namun juga yang dibungkus.

Dalam kegelisahan kami menunggu, muncullah seorang perempuan muda. Ia memainkan ukulele dan menyanyikan sebuah lagu. Mendengar suaranya yang tergolong bagus, kami bertiga merasa terhibur.

“Boleh request lagu Menukis Senja, enggak?” tanyaku penuh harap.

“Tidak hapal lagunya, Kak,” balasnya.

Mendengar itu, aku sedikit kecewa.

Ketika ia sudah bernyanyi setengah lagu, makanan yang kami pesan akhirnya datang. Aku berharap ia masih bertahan cukup lama agar lagunya dapat menemani kami menyantap makan malam. Tapi, ia mulai mendekat, memberikan tanda agar kami mau berbagi karena ia sudah menghibur kami. Aku mengambil uang kertas dari dompet, memasukan pada kantong kresek hitam yang ia kaitkan diujung ukulelenya. Ada rasa penasaran dalam diriku melihat ia yang masih muda tapi memilih menjadi musisi jalanan.

“Mbak, masih kuliah ya?” tanyaku polos.

“Enggak, Kak, aku sudah menikah,” jawabnya.

Mendengar jawabannya aku terdiam sejenak dan ia pun pamit pergi.

Memikirkan kembali tentang perempuan itu, aku teringat pengalamanku dengan seorang sahabat dan pacarnya. Saat mereka sedang PDKT, kami sering nongkrong di café tepi jalan di kota madya dan mendengar nyanyian dari musisi jalanan yang datang silih berganti. Mereka ada yang masih muda, ada pula yang sudah senior. Di satu kesempatan, pacar sahabatku menawarkan beberapa musisi jalanan untuk duduk bersama rombongannya dan menawarkan minuman untuk dipesan. Tawaran itu tentu mengejutkan. Mereka pun menerima dengan gembira. Sejak saat itu, tiap kali pacar sahabatku nongkrong dan musisi jalanan itu datang, mereka akan menyapanya dengan ramah.

Dua kejadian di atas memberikan pelajaran tersendiri bagiku. Aku belajar untuk menghargai pekerjaan orang lain, sekalipun itu hanya musisi jalanan. Menghargai dengan tidak memandang remeh dan berbagi dari apa yang kita miliki. Karena tiap orang punya pilihan masing-masing dalam hidupnya.

Angela Januarti, Kontributor, aktivis Credit Union, OMK Keuskupan Sanggau

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here