“Retret Bergerak” dengan Berjalan Kaki 800 Km ke Santiago de Compostela

155
M.Valetino Barus dan M.M. Tri S. Mildawani dalam perjalanan ke Santiago de Compostela

HIDUPKATOLIK.COM – CAMINO de Santiago de Compostela. Artinya, jalan kaki menuju Santiago. Ini merupakan rute peziarah kuno yang rutenya tersebar di berbagai titik di Spanyol. Bahkan ada yang dari Portugis hingga Prancis. Rute dan kegiatan jalan kaki ini terbentuk karena perjalanan membawa jasad St. Yakobus dari Yerusalem ke Gereja Katedral Santiago de Compostela. Bukan hanya peziarah, banyak orang dari berbagai latar belakang agama dan budaya menjalani rute tersebut.

Di kalangan umat Katolik, ini adalah ziarah dengan model yang berbeda. Tidak heran menarik keingintahuan untuk ikut melakukannya, salah satunya pasangan suami istri dari Indonesia, M. Valetino Barus dan M.M. Tri S. Mildawani serta ketiga temannya. Ketika itu mereka berangkat akhir bulan September 2019.

Rute jalan kaki ke Santiago de Compostela sekitar 800km dari St. Jean pied de Port, kota kecil di perbatasan Prancis dan Spanyol, dan menghabiskan waktu 35 hari. Valentino dan Mildawani mengambil etape resmi yang terakhir, yakni jalan kaki dari Sarria menuju ke Santiago. “Kalau menurut geografisnya waktu tempuh dari Sarria ke Santiago 115 km dan memakan waktu 5 hari. Karena kami dari awal mengambil keputusan untuk jalan kakinya santai, kami menghabiskan 6 hari perjalanan,” jelas Mildawani.

Menurut Valentino, jalan kaki ini semacam retret yang bergerak. Setiap hari, ia dan istrinya serta ketiga kerabatnya keluar dari penginapan pagi-pagi benar, lalu jalan kaki sekitar  20 km. “Empat hari pertama sangat melelahkan. Tapi kami bertemu dengan para pejalan kaki lainnya dan penduduk sekitar. Mereka kerap menyapa “Buen camino!”. Sapaan untuk memberi semangat bagi kami dalam melanjutkan perjalanan. Total, ada enam pemberhentian yang kami singgahi. Setiap sore kami mengikuti Misa di lokasi setempat, ” terangnya.

Bertemu dengan banyak pejalan lain di sana, bagi Valentino menambah makna kehidupan. Ia  semakin mensyukuri hidup dan nikmati kedekatan dengan alam serta istrinya “Seperti di dalam kehidupan kita ya, kita terbiasa bertemu dengan banyak orang. Seperti di jalan, bertemu dengan si A, berpisah kemudian lanjut jalan lagi bertemu dengan si B. Di sana tidak ada yang memandang strata, semua sama-sama pejalan kaki,” imbuh umat Paroki St. Antonius, Polonia, Jakarta Timur ini.

Tidak sedikit yang berjalan kaki dengan mendaraskan doa, termasuk salah satu kerabat mereka. Satu hal yang menarik bagi Valentino bahwa di sana bukan sebuah area yang menakutkan. Aman. Tidak terdengar kisah perampokan atau semacamnya. Kebalikannya, selalu ada doa yang terkabul setelah melakukan jalan kaki berhari-hari.

Sebelum melakukan perjalanan ini, pasangan suami istri yang menikah 25 April 1993 di Semarang ini, menyiapkan fisik dan mental yang matang. Mildawani menjelaskan mereka banyak membaca buku hingga berdiskusi dengan beberapa teman yang sudah pernah ke menjalani ziarah jalan kaki itu. Latihan fisik dilakukan seperti latihan jalan. Mereka juga mempersiapkan hal-hal yang detail seperti memilih sepatu agar kaki tidak lecet. “Kami ingin jalan santai dengan catatan harus sampai tujuan. Selama 6 hari itu yang harus bisa survive juga. Kami menjaga kaki jangan sampai melepuh, beban yang kami bawa, disarankan tidak lebih dari 7 kg dan tentu P3K harus lengkap. Kami ikut pergi ke Santiago tanpa agen, jadi harus mandiri,” terangnya.

Bagi Mildawani, setelah melakukan perjalanan ini, ada banyak yang dapat ia pelajari salah satunya, keseimbangan. “Memang disarankan membawa beban secukupnya. Jadi dari sini, kami diajarkan ke hal-hal yang substansial. Lebih menikmati apa yang ada. Ada keseimbangan yang kita butuhkan dalam hidup. Misalnya, enggak melulu kerja, pada saat tertentu luangkan untuk berdoa ataupun rileks,” tuturnya,

Secara tidak langsung, sebagai dosen, Mildawani membawa pengalaman perjalanan ke Santiago ini ke dalam kelasnya. “Pengalaman ini mewarnai cara-cara  saya menyampaikan materi ke mahasiswa ya, artinya, kalau saya mengajar, saya  menyisipkan hal-hal yang seperti tujuan hidup. Dalam setiap pencapaian, itu kalau sudah mulai, ya diselesaikan sampai tuntas. Harus mencapi target.  Walaupun target setiap orang berbeda-beda. Hasil itu penting, tapi lebih penting proses. Itu yang saya terapkan pada mahasiwa saya,” pungkas ibu dari dua anak ini.

Karina Chrisyantia/Laporan Felicia Permata Hanggu

 

 

 

 

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

HIDUP-0821SU-[Box Tulisan III]-W11- [1 halaman]

El Cristo de La Mano Tendida

Ternyata banyak figur Yesus yang tersalib dengan satu tangan-Nya terlepas dari paku di Spanyol. Salah satunya berada di rute perjalanan ziarah Santiago de Compostela yang terkenal.

DI Furelos, sebuah desa yang terletak di Galicia, pesisir Utara Spanyol terdapat sebuah gereja yang menyimpan sebuah salib kuno. Salib ini menggambarkan Yesus dengan tangan kanan yang terulur atau lazim dikenal sebagai “El Cristo de La Mano Tendida”. Salib yang berada di Gereja San Juan ini tidak sulit ditemukan oleh para peziarah Santiago de Compostela. Jaraknya dari tempat peziarahan terkenal itu hanya berkisar 63 km.

Tercatat, Desa Furelos telah ada sejak abad ke-12 dan sebagian arsitekturnya masih mempertahankan struktur aslinya. Ketika memasuki Gereja San Juan di lorong kanan, terlihat altar khas neo-Gotik. Di sanalah salib kayu itu tergantung menunggu para peziarah. Salib itu sendiri dibuat oleh pematung terkenal asal Furelos, Manuel Cagide. Penduduk Furelos sendiri sangat tertarik dengan kekhasan salib ini dan membuat paroki mereka menjadi istimewa di seluruh dunia. Tapi apakah arti penggambaran adegan kematian Yesus dari Nazaret ini? Ada banyak teori dan legenda tentang karya “Cristo de la mano tendida”.

Adapun, cara terindah dalam membaca karya ini adalah dengan mengartikan tangan Yesus sebagai tanda kedekatan dengan umat beriman dan sebagai seruan kepada para peziarah dalam perjalanan menuju Santiago de Compostela untuk terus memelihara harapan dalam menyelesaikan jalan peziarahan yang ditempuh. Namun di sisi lain, salib ini juga memiliki legenda yang terkenal sama seperti yang diceritakan seperti pada Salib di Cordoba.

Kisah ini bermula dari seorang pemuda asal Melide yang berulang kali mengaku dosa dengan dosa yang sama hingga membuat sang imam bosan dan marah. Akibatnya sang imam menolak untuk memberikan absolusi bagi pemuda itu. Pemuda itu meninggalkan tempat pengakuan dosa dengan tatapan sedih sambil memandang salib. Tiba-tiba terdengarlah suara nyaring, “Aku memberikan hidupku untuk anak-Ku ini, jadi jika kamu tidak ingin membebaskannya dari dosa (absolusi), maka Aku yang akan membebaskannya!”. Suara itu berasal dari Salib yang ditempatkan di altar samping, yang kemudian segera mulai bergerak. Lengan kanan-Nya terlepas dari kayu yang dipaku dan diletakkan di atas kepala orang yang bertobat, memberinya berkat dengan tanda Salib, disertai dengan kata-kata berikut: “Aku yang mati dan bangkit kembali untukmu juga membebaskanmu dari dosamu, dalam Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.” Salib itu pun tetap dalam posisi demikian hingga sekarang.

Sejak saat itu, Kristus dari Furelos telah menyambut para peniten dan peziarah lokal. Hampir di akhir rute ziarah yang panjang dan sulit ini, peziarah pun mampu mengenali dalam perjalanan yang hampir selesai mereka tempuh, sebuah tindakan penebusan atas dosa-dosa dan pada saat yang sama mengalami secara total dan penuh kepercayaan akan penyelenggaraan ilahi, sekaligus belas kasih Ilahi, satu-satunya jangkar keselamatan bagi semua anak Allah, yang hidupnya telah terkontaminasi oleh dosa.

Dengan demikian, umat pun diajak mengingat dengan baik perkataan St. Alfonsus Marie de Ligouri, “Rahmat Tuhan sangat besar dan tidak terbatas, tetapi Tuhan tidak dihina…. Dia selalu siap untuk mengampuni mereka yang bertobat,  dan juga kepada mereka yang telah terjatuh jutaan kali ke dalam dosa yang sama, namun berusaha, dengan hati yang penuh sesal untuk kembali kepada Kristus Yesus dan meminta pertolongan dan pengampunan dari-Nya.” Artinya, Tuhan tetap berbelas kasih, namun Ia juga adalah adil. St. Agustinus berkata bahwa barangsiapa berdosa dengan pikiran sadar akan bertobat nantinya setelah berbuat dosa, dia tidak sungguh bertobat, tetapi menghina Tuhan. Maka dari itu, marilah mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Luk. 10:27).

 

Felicia Permata Hanggu

 

<<FOTO>>

Foto 1: Salib El Cristo de La Mano Tendida di Furelos, Galicia, Spanyol.

Dok. cooperatores-veritatis.org

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here