Renungan Prapaskah Duta Besar Vatikan untuk Katolik di Indonesia: Undangan Bersukacita dalam Kesedihan

104
Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 14 Maret 2021: Minggu Prapaskah IV 2Taw. 36:14-16, 19-23; Mzm. 137:1-2, 3, 4-5, 6; Ef 2:4-10; Yoh. 3:14-21

HARI Minggu ini dalam tradisi Gereja dan bahasa Latin disebut “Dominica Laetare” yang berarti “Minggu Sukacita.” Dan kita harus bergembira merayakannya dengan berpartisipasi, di gereja atau di dalam keluarga, dalam Liturginya. Sesungguhnya, di dalamnya kita menemukan ketenteraman, penghiburan, dan dorongan untuk melanjutkan perjalanan menuju Paskah 2021. Hanya Liturgi Gereja yang dapat mengundang, bukan hanya umat beriman tapi juga semua orang yang dikasihi Tuhan, untuk bersukacita, selagi kita menjalani Masa Prapaskah ini – di Indonesia dan juga di seluruh dunia – yang masih gelap dan menyedihkan karena pandemi.

Jika dicermati lebih lanjut, pandemi ini dalam arti tertentu adalah simbol sejarah umat manusia dan juga sejarah Gereja serta komunitas individual kita. Sejarah, sesungguhnya, adalah jalan yang sulit dan berliku, yang di dalamnya campur tangan Allah bersinar, yang dengan rahmat-Nya menyelamatkan kita, tapi juga dikaburkan oleh jawaban kita, yang penuh dengan kekeliruan dan negativitas.

Allah Menyelamatkan dan Membuat Kita Bahagia

Visi penting ini termuat dalam Bacaan Pertama, yang terdapat pada halaman terakhir Kitab Tawarikh. Pertama, ia menghadirkan konsekuensi ekstrim dari ketidaksetiaan umat Israel: kehancuran Yerusalem oleh Raja Nebukadnezar, penghancuran tembok-temboknya, pembakaran Bait Allah, desolasi pada hari-hari itu, deportasi dan pengasingan semua umat terpilih ke Babilonia selama 70 tahun. Tapi kemudian, Allah, sebagaimana dikatakan Bacaan Kedua kepada kita: “yang kaya dengan rahmat” (Ef. 2:4), mengangkat Raja lainnya: Koresh, seorang kafir, namun menerima dari Allah perintah untuk menghibur umat Israel, dan membebaskannya dari perbudakan: Mari kita dengarkan perkataan Raja Koresh: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, TUHAN, Allahnya, menyertainya, dan biarlah ia berangkat pulang!” (2 Tawarikh 36:23)

Pengarang Kitab Tawarikh juga memberitahu kita bahwa di zaman yang kita hidupi hari ini – ribuan tahun sesudah peristiwa tersebut – Allah tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Perlahan-lahan, hari yang baru akan muncul, yang mana fajar pertamanya yang masih jauh dan kemudian menjadi kian cemerlang, sampai ia bersinar dalam “terang sejati” yang Injil katakan pada kita hari ini. Terang itu adalah Kristus, yang datang ke dunia untuk mengembalikan kepada setiap manusia harapan untuk berpindah dari kegelapan menuju terang, dari kesedihan menuju sukacita, dari kematian menuju kehidupan.

Sebagai bukti akan hal ini, ketika menulis kepada umat Kristen pertama di Efesus (Bdk. Bacaan Kedua), St. Paulus mengingat bahwa keselamatan datang dari Allah, bagi umat-Nya dan karenanya bagi kita masing-masing, keselamatan adalah transisi dari kematian menuju kehidupan, bukan bersifat sementara, tapi kekal dan tak terbatalkan. Mari kita mendengarkan perkataan Sang Rasul: “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar … telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus. .. dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga… Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman” (Ef. 2:4-6).

Perikop Injil pada “Minggu Sukacita” ini diambil dari peristiwa penting perjumpaan Yesus dengan Nikodemus (Yoh. 3). Di dalamnya, Penginjil Yohanes memberitahu kita bagaimana Ahli Hukum yang cerdas ini pergi menemui Yesus di waktu malam secara sembunyi-sembunyi, penuh keraguan, ketidakpastian dan kesedihan. Tuhan menggunakan pertemuan ini untuk mengajukan seruan untuk berpindah dari kegelapan menuju terang dan itu adalah seruan yang kuat kepada Iman. Di inti Prapaskah ini, Kristus tidak hanya mengundang Nikodemus, tapi kita semua untuk menapaki jalan luhur dari kegelapan menuju terang dan dari kematian menuju kehidupan. Yesus mengundang kita untuk percaya pada-Nya, pada Putra manusia yang diangkat di kayu salib. Jika kita hidup seperti Kristus dan dalam Kristus, maka penderitaan, penyakit, pencobaan salib – dan juga Masa Prapaskah ini yang disertai kehadiran pandemi – bukanlah perjalanan menuju kesedihan dan kematian, tapi jalan menuju sukacita dan kehidupan!

Mengapa demikian? Karena Allah “yang kaya dalam belas kasih” (Bdk. St. Yohanes Paulus II, Dives in Misericordia, no. 1) mengasihi dunia, dan selalu mengasihi mereka: ketika mereka bergembira dan menderita, ketika mereka sehat atau dilanda penyakit, ketika mereka berbudi luhur dan ketika mereka menjauh dari-Nya karena kelemahan mereka. Sesungguhnya, “begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia … untuk menyelamatkannya” (Yoh. 3:16-17).

Doa Kita yang Penuh Keyakinan

Jadi, ketika kita berhadapan dengan banyak kesusahan dunia ini: ketidakadilan, krisis, perang, kesalahpahaman di antara saudara, dosa – serta pandemi yang menakutkan ini – kita jangan patah semangat dan memohon Allah untuk datang dan menghakimi dunia yang jahat, menyedihkan, dan memuakkan ini, namun mari kita selalu mengingat kebenaran yang dinyatakan pada Minggu Keempat Prapaskah ini. Putra Allah, telah mengambil semua kejahatan dunia ke atas bahu-Nya dan memakunya di salib bersama-Nya, melenyapkannya sekali dan untuk selamanya, apapun yang dapat menghancurkan hidup manusia, kebahagiaannya dan keselamatannya.

Inilah alasan bagi harapan kita, bagi sukacita yang tenteram dan optimisme Kristiani, yang bahkan dalam momen sulit ini, tetap harus ada dalam hati kita, keluarga kita, komunitas kita, bangsa kita yang indah ini, yang beragam dan bersatu, di dalam Gereja dan di seluruh dunia.

Dan ini juga alasannya mengapa, di dalam gereja dan rumah kita, kita berdoa dengan penuh keyakinan dan gembira bahwa doa kita didengarkan. Kita berdoa untuk satu sama lain, bagi orang sakit, bagi mereka yang hidup dalam ketakutan, bagi para dokter, peneliti, tenaga kesehatan, semua sukarelawan, bagi para Uskup kita, para imam, kaum hidup bakti, para pejabat nasional dan lokal, dan agar pandemi segera berakhir, bagi mereka yang mengalami kesulitan di tempat kerja, bagi keluarga kita, dan bagi semua orang yang dekat ataupun jauh dari kita, yang mengalami situasi yang tidak selalu mudah untuk dihadapi.

Tuhan, selamatkanlah kami! Dan lakukanlah dari masa Prapaskah ini, dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan kita, untuk memperlihatkan ketenteraman yang gembira bahwa “… kasih masih hadir di dunia ini dan bahwa kasih ini lebih berkuasa dari segala jenis kejahatan yang mana individu, umat manusia, atau dunia terlibat di dalamnya.” (cf. St. Yohanes Paulus II, Dives in Misericordia, n. 7). Amin!

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here