UJI NYALI

105
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – SENJA mulai menjelang, semburat warna jingga menghiasi cakrawala. Lilin mulai sedikit nervous, “Emangnya harus malam ini juga ya?” katanya dengan suara bergetar. Lampu Teplok tertawa geli,” Ya iyalah kapan lagi? cuma sampai puncak gunung doang, masa gak berani sih?” Lampu teplok, Petromak dan Senter tertawa serempak. Lilin langsung cemberut, “Kalian mah enak, bisa berlindung di balik kaca, jadi tiupan angin gak akan bikin kalian keok dan langsung padam. Apalagi kalian bisa bawa stock minyak tanah, spiritus dan batere buat tambahan energi jadi gak cepet laper karena kedinginan. Nah aku? Aku harus bertahan tanpa itu semua. Gak Fair!” Lilin mendengus sebal.  “Lagian udah enak di lembah sini, hangat terlindung dari angin. Aman…nyaman. Ngapain sih naik gunung segala, iseng banget!”

Lampu Petromak dengan sabar menengahi,”Justru karena di desa sini sudah sangat terang, gak ada tantangannya! Kita ini kan diciptakan untuk menerangi kegelapan. Makanya kita perlu naik gunung malam ini, mumpung bulan muda, gak akan ada sinar bulan jadi pasti gelap gulita. Itu satu-satunya cara untuk membuktikan siapa di antara kita yang paling bisa memberi cahaya untuk melawan kegelapan yang pekat itu. Siapapun yang bisa mempertahankan cahaya-nya terus menyala sampai puncak, dialah yang jadi juaranya!”

Lilin menatap teman-temannya, sebetulnya hatinya masih ciut. Tapi daripada dituduh pengecut, ia terpaksa setuju. Setelah matahari tenggelam, dan langit berubah jadi gelap, dimulailah pertandingan adu nyali itu.

Semua penerang itu bergerak lincah mendaki gunung, meskipun angin malam berhembus kencang, tanpa gentar mereka terus melangkah.

Dari belakang, Lilin melihat pendar-pendar cahaya milik teman-temannya semakin menjauh. Lilin mendesah. Tidak. Dia tidak boleh putus asa. Dia memang banyak kekurangan, justru itulah dia harus bertindak cerdik dan penuh pertimbangan. Lilin berlindung di balik batang-batang pohon, sehingga terhindar dari hembusan angin malam. Saat menyeberangi sungai, dengan hati-hati dia melompat dari batu ke batu, waspada dengan lumut yang bisa membuat ia tergelincir dan jatuh ke sungai. Dengan hati-hati ia memilih berjalan di tanah kering, menjauhi rumput agar tidak membakarnya. Hal paling ia takuti adalah jadi oknum penyebab kebakaran hutan. Hiiii…Lilin bergidik ngeri.

Selama beberapa saat, Lilin terus berjalan sendirian, teman-temannya sudah tidak terlihat lagi. Suara lolongan serigala terdengar menembus keheningan malam. Lilin berusaha menenangkan diri, belum pernah ada cerita serigala makan Lilin, serigala tentunya lebih suka makan daging. Tapi bisa jadi serigala menginjak Lilin, saat dia lari mengejar kelinci atau rubah makanannya. Lilin menelan ludah. Tenang. Jangan mikir negatif. Gak ada gunanya, malah bikin hati tambah resah. Positive Thinking…all is well.

Tak lama dia melihat cahaya lemah di depannya. Siapakah itu? Lilin dengan hati-hati mendekat. Alangkah terkejutnya dia melihat temannya si Teplok duduk kepayahan, cahayanya kian meredup. “Hai Teplok…kamu kenapa?” Teplok menunjukkan perut gelasnya yang hampir kosong, dan berkata dengan suara lemah “Spiritusku habis, aku jadi lemas tak bertenaga.” Wah, meskipun gak tega tapi ‘the show must go on’, Lilin pun berkata “Maaf sobat, aku mesti teruskan pertandingan ini, nanti saat jalan pulang aku jemput ya, sementara kamu istirahat sebentar dulu aja disini.” Lampu Teplok tersenyum lemah,“Ok deh, goodluck ya Bro!” Sejujurnya Lampu Teplok merasa miris juga sih, masa dia bisa kalah sama Lilin si ‘Underdog’ Tapi herannya sudah setengah jalan menuju puncak gunung, kok Lilin tetap bernyala terang ya. Lilin begitu ringkih, harusnya terkena satu tiupan angin kencang saja sudah game over dia. Lampu Teplok gak habis pikir saking herannya. Hoki aja kali tuh si Lilin.

Lilin kembali meneruskan perjalanannya, tentu saja semakin ke atas semakin dingin. Dia menggigil sedikit, cahaya-nya ikut bergoyang-goyang. Jangan padam…jangan padam…jangan padam. Lilin mengulang terus doanya bagai mantra ajaib. Tiba-tiba terdengar rintihan lemah di kejauhan. Lilin mempercepat langkahnya. Ternyata itu suara rintihan Lampu Petromak yang tergeletak di antara genangan air. “OMG Bro, kau kenapa?” Lilin bertanya panik. “Barusan ada Burung Hantu terbang rendah, mungkin mengejar tikus hutan, aku kaget dan terantuk batu. Kacaku pecah dan sumbuku kena genangan air jadi basah dan tidak bisa nyala lagi,” jawab Lampu Petromak dengan sedih. “Astaga…musibah memang bisa terjadi kapan saja ya,” Lilin berusaha membantu Lampu Petromak bangkit. Lampu Petromak memandang Lilin dengan terharu, “Terima kasih ya atas bantuanmu, tapi sebaiknya kau segera menyusul Lampu Senter yang sudah hampir sampai ke Puncak.” Lilin terkekeh. “Wah, sebatang Lilin seperti aku ini manalah bisa menang dibandingkan Lampu Senter dengan kekuatan dua buah batere 2A. Aku hanya mau menyelesaikan apapun yang aku sudah mulai aja sih. Wish me luck ya!” Lampu Petromak mengangguk “Sip!”

Lilin terus mendaki. Makin ke puncak udara terasa makin terasa dingin. Kabut turun semakin tebal, sehingga Lilin hanya bisa melihat sedikit saja jalan didepannya, selebihnya gelap amat pekat. Alangkah terkejutnya dia saat mendengar suara rumput bergemeresak beberapa meter didepannya. Seluruh tubuh Lilin merinding ketakutan. Ia jadi ingat beberapa cerita horor seputar gunung itu. Konon sejak ada tabrakan pesawat beberapa tahun silam, gunung ini jadi angker. Bunyi kresek-kresek semakin keras dan kian mendekat. Lilin terpaku, tak sanggup melangkah. Hatinya semakin berdebar-debar. Lilin pikir dia bisa pingsan setiap saat. Ia menutup matanya rapat-rapat. Tiba-tiba terdengar suara, “Lilin? Itu kamu ya?” Lilin sontak membuka matanya karena terkejut. Kok hantu bisa tahu namanya ya?

Samar-samar dilihatnya sesosok bayangan mendekat. “Ini aku Lampu Senter. Aku tersesat dalam kegelapan nih, untung bisa bertemu kamu.” Lampu Senter tersenyum girang. “Loh, kok kau bisa tersesat dalam kegelapan? Sinarmu kan yang paling terang dan jangkauan cahayamu yang paling jauh dari kita semua?” Lilin bertanya keheranan. “Mungkin karena kedinginan, batere-ku tak bisa nyala. Aneh sekali. Atau bisa jadi aku yang lupa menggantinya dengan yang baru, sehingga baterenya habis daya. Entahlah, aku juga gak tau pasti,” jawab Lampu Senter.

Lilin tertegun heran, “Kok bisa ya?” Tapi tiba-tiba dia ingat,”Maaf ya Bro, aku terpaksa tinggalin kau sebentar, sebab aku mesti menyelesaikan pertandingan ini,” sambil bergegas dia kembali meneruskan pendakiannya menuju puncak.

Pelan tapi pasti, Lilin akhirnya tiba juga di puncak gunung. Oooh luar biasa sekali pemandangan alam di malam itu. Samar-samar dilihatnya awan di atas dan dibawah kakinya. Sejauh memandang terlihat lembah dan bukit yang seakan tak berujung. Lilin mendesah lega. Siapa sangka, dia yang hanya sebatang Lilin kecil bisa memenangkan perlombaan Uji Nyali ini, mengalahkan semua teman-temannya yang jauh lebih hebat dari padanya?

Lilin menengadahkan wajahnya ke langit dan mengucapkan doa sederhana, “Bila aku yang lemah ini bisa sampai di sini, aku yakin semua berkat rahmat-Mu semata-mata. Terima kasih Tuhan.”

Dari kejauhan, Lampu Teplok, Lampu Petromak dan Lampu Senter melihat seberkas cahaya kecil jauh di atas puncak gunung. Si Lilin kecil selalu jadi anak bawang yang mereka sepelekan, ternyata justru bisa memenangkan perlombaan Uji Nyali itu. Pelajaran pahit buat mereka, agar lain kali tidak pernah menyepelekan siapapun lagi.

Setelah puas menatap pemandangan menakjubkan dan ‘selfie-selfie’ sedikit buat FB dan Instagram, Lilin dengan riang mulai melangkah turun gunung sambil bernyanyi pelan lagunya Mas Chrisye yang dimodifikasi dikit, “Dan kau lilin-lilin kecil, sanggupkah kau memberi seberkas cahaya? Sanggupkah kau berpijar? sanggupkah kau menyengat seisi dunia?” Lilin tersenyum kecil dan menjawab dalam hati “Sanggup doooong aahhhh!”

Fransisca Lenny, Kontributor, Pekerja Seni, Alumnus KPKS

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here