web page hit counter
Home Kolom Haleluya, Bukanlah Seruan yang Gampangan, Tanpa Makna!

Haleluya, Bukanlah Seruan yang Gampangan, Tanpa Makna!

1887

HIDUPKATOLIK.COM – ENTAH mengapa, ketika menyanyikan lagu berjudul “Haleluya”, aku selalu teringat kepada komedian Mr. Bean seperti dalam videonya. Tentu saja, aku langsung menahan setengah tertawa dan tidak jadi bernyanyi. Memang, karena sudah jarang bahkan tak pernah lagi membawa buku lagu Puji Syukur atau Madah Bakti, aku jadi lupa akan lirik lagunya. Maka, ketika menyanyikan lagu ini, aku hanya hafal menyanyikan bagian refrennya saja: “Alleluya… Alleluya… Alleluuuuuuya.”

Apa itu “Haleluya”? Kata ini berasal dari kata הַֽלְלוּ־יָֽהּ – hallĕlūyāh dalam bahasa Ibrani atau αλληλουια – allêlouia dalam bahasa Yunani. Kemudian kata tersebut diserap dalam bahasa Latin menjadi kata alleluia, dan kemudian dalam bahasa Inggrisnya hallelujah. Arti harfiah kata Ibrani hallĕlūyāh adalah “Pujilah Tuhan.” Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sepertinya menyerap kata ini dari bahasa Ibrani, sehingga menjadi kata haleluya. Berbeda dengan umat Katolik di Indonesia, mereka lebih senang menggunakan kata “alleluya” yang diserap dari kata Latin.

Kata ini menjadi semakin terkenal dengan munculnya “Halleluyah Chorus” dari musik konser “Messiah” ciptaan Handel pada tahun 1741. Ciptaan Handel itu dianggap sebagai lagu rohani yang sakral karena ditujukan untuk memuji Tuhan, dan kemudian memang semakin banyak bermunculan lagu Haleluya lain yang diciptakan berbagai komposer hebat, termasuk sebuah lagu pop sekuler. Contohnya, lagu yang diciptakan oleh Leonard Cohen pada tahun 1984 yang mulai populer lagi di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Lagu “Hallelujah” Cohen ini juga pernah dibawakan penyanyi band rock terkenal, Bon Jovi. Berbeda dengan lagu “Hallelujah”-nya Handel, lagu pop Cohen ini sebenarnya bukan lagu pujian kepada Tuhan, melainkan disinyalir mengandung unsur seks dan keduniawian.

Kata Ibrani  הַֽלְלוּ־יָֽהּ – halelu-Yah terdiri atas dua kata: pertama  הַלְלוּ – halelu dan kedua יָהּ – Yah. Kata halelu berarti “pujilah (wahai kalian)”, yang ditujukan kepada orang kedua jamak maskulin. Sementara kata  יה – Yâh adalah bentuk kontraksi atau singkat dari nama ilahi tetragramaton  יהוה – YHWH, Tuhan (Bdk. buku Febry Silaban, “YHWH: Empat Huruf Suci”, Dioma-Malang, 2018, hlm. 23-24). Ibarat “Bapak” dipanggil “Pak”, atau “Febry” dipanggil “Feb”.

Kata kerja dasar atau paling sederhana dalam bahasa Ibrani disebut Qal, yang terdiri hanya dari tiga huruf. Kata  הַלְלוּ – halelu berasal dari akar kata kerja dasar  הָלַל – hll atau dibaca halal, yang artinya “bangga”, “membual”.

Sementara, kata haleluyah ditulis dalam bentuk kata dasar Pi’el. Pi’el merupakan salah satu bentuk turunan kata dasar dari kata kerja “intensif” untuk menunjukkan tindakan yang lebih intensif, untuk penegasan, atau pendua-kalian.

Contoh dan perbandingan sederhananya dapat dilihat sebagai berikut. Kata dasar Qal-nya adalah “menangis”, maka bentuk intensif atau Pi’el-nya adalah “menangis termehek-mehek, tersedu-sedu” dan “menangis terus-menerus”. Contoh lain, jika Qal-nya dituliskan “ia memecahkan piring” dengan pengertian ia menjatuhkan piring hingga pecah, maka kata intensif atau Pi’el-nya mengandung pengertian ia mengambil martil dan memukul piring itu hingga hancur berkeping-keping. Kalau bahasa sederhananya ialah ini ekspresi lebay-nya.

Jika kata kerja dasar הָלַל – halal diubah ke dalam bentuk Pi’el, maka menjadi הִלֵּל‎ – hillel, yang kini artinya “membangga-banggakan”, “memuji” (sudah dalam arti intensif).

Jika kata “Haleluyah” ditulis dalam bentuk intensif Pi’el, itu artinya bahwa kita memuji Tuhan bukan hanya “memuji” sebagai lip service, tetapi memuji yang bersifat intensif, sesuatu yang lebih, sesuatu yang diniatkan, sesuatu yang dengan segenap usaha. Amplifikasi ini sesuai dengan Hukum Kasih yang pertama, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu.”

Kata Pujilah Tuhan, הללו־יה – halelu-Yah, secara gramatika Ibrani ada dalam bentuk Pi’el-imperatif untuk orang kedua jamak. Dalam bentuk imperatif, kata kerja itu diterjemahkan “Wahai kalian, pujilah” atau “Pujilah” saja.

Berikut sebagian tasrifan/infleksi atau perubahan akhiran kata kerjanya: “Halel“, diminta kepada orang kedua tunggal maskulin, “Wahai engkau (maskulin), pujilah”; “Halelî“, orang kedua tunggal feminin, “Wahai engkau (feminin), pujilah”; “Halelû“, orang kedua jamak maskulin, “Wahai kalian (maskulin), pujilah”; dan “Halêlenâh“, orang kedua jamak feminin, “Wahai kalian (feminin), pujilah”.

Istilah halel/halal atau dalam bahasa Arabnya ialah “hilal” bukanlah hal yang asing bagi kita. Hilal dalam bahasa Arab adalah sepatah kata yang terbentuk dari tiga huruf asal, yaitu ha-lam-lam (ل – ل- ﻫ). Setiap menjelang masa puasa, saudara-saudara umat muslim akan menentukan kapan jatuhnya bulan Ramadan dengan melihat hilal. Hilal artinya bulan sabit yang tampak.

Hilal/halel juga memiliki makna yang sama. Ini berarti apa? Ketika kita mengatakan “Haleluyah,” kita sedang memancarkan dan memperjelas Tuhan di dalam hidup kita bahwa Tuhan itu nyata dan kita alami sehingga itu memancar keluar baik itu lewat tindakan dan tutur kata.

Seruan ajakan hallelu-Yah itu dalam perjalanan waktu menjadi pujian kepada Tuhan. Kita menyerukan Haleluya, karena kita sungguh ingin memusatkan perhatian hanya pada Tuhan, terlepas dari kenyataan apakah Tuhan telah melakukan sesuatu yang khusus bagi kita atau tidak. Ini adalah ungkapan tulus dari manusia yang terpana pada kenyataan Tuhan yang Mahakuasa.

Tiap kali kita berseru Haleluya, kita sebenarnya mengatakan sebuah janji, “Apa pun pengalaman hidupku, apa pun yang telah dilakukan oleh Tuhan, apakah doaku dikabulkan atau tidak oleh Tuhan, aku akan tetap mengagumi Tuhan yang Mahakuasa yang melampaui kemampuanku untuk memahami-Nya.”

Singkatnya, Haleluya bukanlah seruan yang gampangan. Kata ini adalah sebuah seruan penuh komitmen batin untuk selalu terpesona pada Tuhan. Dalam tradisi liturgi Katolik, selama Masa Puasa atau Prapaskah kita sengaja tidak mengucapkan kata Haleluya. Barulah kemudian pada hari raya Paskah, ungkapan Haleluya digaungkan dengan meriah dan agung.

Meski demikian, kita menahan kata Haleluya bukan hanya supaya kita bisa menyerukan Haleluya itu secara meriah. Selama kita tidak mengucapkan kata Haleluya, kita diundang untuk kembali ke kenyataan diri kita. Apakah aku sungguh siap mengucapkan kata Haleluya? Apakah aku siap untuk kembali membuat komitmen tegas, bahwa apa pun yang dilakukan oleh Tuhan dalam hidupku, apalagi di tengah wabah virus Covid-19, aku akhirnya menyadari kekecilanku, dan aku akan tetap terkagum-kagum pada Tuhan?

Apakah Haleluya-mu masih punya bobot komitmen penting itu? Silakan jawab dan renungkan pertanyaan refleksi ini dalam hati masing-masing.

Febry Silaban, Penulis Buku “YHWH”: Empat Huruf Suci

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here