MENCIUM BERNADETTE DI MALAM PASKAH

196

TEPAT di hari Valentine, 14 Februari 2020 pesawat yang aku tumpangi mendarat di bandara Charles de Gaulle, Paris. Penerbangan panjang dua puluh jam dari Yogyakarta menuju Paris. Tetap tidak mengubah keputusanku, tidak menginap di Paris namun langsung berkereta  menuju Toulouse. Terbentang jarak lima ratus delapan puluh delapan kilometer jauhnya.

Suhu udara di angka delapan derajat Celsius ketika pertama kali kakiku menginjak tanah di mana aku akan bekerja, Kota Toulouse. Airbus, perusahaan pembuat pesawat terbang terbesar di kolong langit memberi tawaran padaku untuk bekerja di kantor pusatnya. Kusambar kesempatan itu.

Dom Vaissette, nama apartemen yang aku tempati. Tidak terlalu jauh dari kantor.  Lalu kulakoni ritual baru. Pagi hingga petang tuntas bekerja. Jam enam sore saatnya bersama kawan-kawan kantor menelusuri Boulevard Lazare Carnot. Wine dari Bordeaux, ratapan lagu-lagu blues yang terdengar dari pub-pub sepanjang boulevard. Ah, betapa genitnya Kota Toulouse.

Tak lebih sebulan aku menikmati ritual malam penuh gairah ini. Selanjutnya sepi. Lalu sunyi. Toulouse seperti kota lain di seluruh dunia, terpapar pandemi. Dua belas Maret Emmanuel Macron mengumumkan penutupan total kota. Semua menjadi berhenti. Kantor berpindah ke apartemen. Empat tower apartemen menjadi redup, ditinggal para penghuni.

Ternyata matinya kota berlangsung panjang. Jejaring sosial, hiburan digital, hingga pertemuan virtual tetap tidak bisa menggantikan pertemuan langsung. Itu yang aku rasakan. Lorong apartemen di lantai delapan belas tempat aku tinggal, hanya tersisa empat penghuni. Dua penghuni sepasang orangtua yang tentu menjaga diri ketat untuk tidak berhubungan dengan orang lain. Satu penghuni lagi, ya aku ingat wanita seumuran denganku. Berkulit gelap. Beberapa kali bertemu dalam lift. Keluar dari lift dia belok kanan, aku ke kiri. Pada apartemen nomer tujuh, dia membuka pintu.

Wanita seumuran. Terkurung berminggu-minggu di apartemen. Pasti seperti diriku. Mengalami kejenuhan tingkat tinggi. Langsung instingku bekerja. Kutemui dia. Kuketuk pintu apartemennya. Pintu dibuka. Dia menatap lekat wajahku.

“Aku, Agung penghuni nomer dua belas. Dari Indonesia. Bekerja di Airbus,” aku memperkenalkan diri.

“Senang akhirnya dapat teman. Ayo masuk,” katanya. Benar dugaanku. Dia juga mengalami kejenuhan.

“Ada kopi asli Afrika. Kau pasti menyukai,” katanya  ketika aku sudah terbenam dalam sofa tempat duduk. Dia yang kemudian aku ketahui bernama Bernadette menyedu dua cangkir kopi.

“Aku dengar ada kopi enak dari Indonesia. Namanya Toraja. Dekat dengan rumahmu?” tanya Bernadette ketika kami berdua mencecap kopi Afrika yang pas dengan lidahku.

“Jauh sekali. Aku tinggal di Pulau Jawa. Toraja ada di Pulau Sulawesi. Dari rumahku di Yogya perlu terbang dua jam, kemudian jalan darat tujuh jam,” aku menerangkan.

“Indonesia memang sangat luas. Ada banyak pulau. Beda dengan negaraku. Semua daratan, diapit Senegal, Niger, Mauritania. Nama negeriku, Mali.”

Lalu kami bercerita tentang apa saja. Kudengar dari ceritanya, dia ambil master pertanian di University of Toulouse.

“Kamu lihat ada cahaya lampu dari tower dua?” Bernadette membuka tirai jendela dan menunjuk ke arah tower dua. “Dia teman satu kampus denganku. Ambil master ekonomi. Namanya Eliza. Dari Venezuela. Seperti kita, dia kesepian. Aku telpon biar dia ngumpul dengan kita disini.” Bernadette membuka ponselnya.  “Dia segera ke sini, mau ajak teman yang tinggal di tower tiga.”

Lima belas menit berikut, pintu diketuk. Muncul dua orang. Eliza, khas gadis Amerika Latin. Cantik sekali dia. Temannya, Tadej dari negara kecil, Slovenia. Kopi panas dan sedikit kue, membuat pertemuan perdana menjadi berwarna.

“Diterjang pandemi, aku tidak bisa membayangkan kondisi ekonomi negeriku,” Eliza bercerita. Kami menggeser kursi, meriung mendekat ke Eliza. “Ekonomi negeriku hanya ditopang satu sumber, minyak. Ketika harga minyak terjun bebas, terjun pula kondisi politik dan ekonomi negeriku. Pemerintahan baru terpilih. Belum sempat menata ekonomi, pandemi menerjang. Tuhan sedang melempar dadu ke negeriku.”

Malam ini Eliza banyak bercerita tentang negerinya. Dengan gugatan segarnya, Tuhan sedang melempar dadu di negerinya.  Ditutup dengan mengangkat bir, kami sepakat besok malam berkumpul di apartemen Tadej.

Dinding apartemen Tadej berisi foto atlet-atlet olahraga dari negerinya. Wine koleksi Tadej menjadi penghantar kami bercerita. Malam ini Tadej banyak bercerita.

“Slovenia negara kecil. Hanya berpenduduk dua juta lima ratus ribu orang. Hancur lebur ketika konflik lepas dari Yugoslavia. Kami hanya bisa disebut negara besar kalau ada yang kami banggakan. Kami bekerja keras. Hasilnya, kami mengekspor pemain-pemain sepakbola ke klub-klub elit dunia.” Tadej menyeruput teh panasnya.

“Kamu sendiri?” aku bertanya.

“Fokus sekolah. Dapat beasiswa sampai doktor di Prancis. Doktor aku rencanakan di Sorbonne,” Tadej menyebut nama universitas prestisius di Paris.

Aku terpukau dengan etos Tadej. Setelah negerinya hancur lebur akibat perang saudara, Tadej ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Slovenia ini negeri kecil dengan karya besar.

Hari ketiga, tempat berkumpul pindah ke apartemennya Eliza. Santana dengan lengkingan gitarnya menjadi teman kami berkumpul. Obrolan berganti dengan goyangan. Ketika Black Magic Woman terdengar, Bernadette menarik tanganku. “Aku black womannya,” katanya. Kuikuti tarian Bernadette. Kami bergoyang. Tak tahan melihat kami bergoyang, Tadej menyambar tangan Eliza. Ikut bergoyang.

Kota Toulouse masih tenggelam dalam kesepian. Tidak dengan kami. Kami bertemu setiap malam. Kopi panas, wine nan hangat, aneka kudapan dan ratusan cerita dari bibir kami, mengubah situasi. Dari sunyi menjadi bunyi. Dari senyap menjadi gegap. Apalagi jika melihat Bernadette menari tarian khas Afrika nan rancak. Memang benar ucapannya, bergoyang bersamanya seperti memeluk black magic woman.

Malam keduabelas ketika kami berkumpul. Di apartemen milikku. Bernadette sudah menandaskan satu gelas bir.

“Besok pagi aku kembali ke negeriku, Mali!” kata Bernadette sambil menuang bir kegelasnya. Bertiga kami menggeser duduk, semakin mendekat ke Bernadette

“Pulang ke Mali?!” aku bertanya menegaskan.

“Ya. Negeriku seperti kebanyakan negeri di Afrika, dipimpin penguasa otoriter. Ada gerakan masif untuk menggulingkan penguasa. Demonstrasi besar-besaran terjadi. Aku koordinator aktivis di luar negeri. Jaringanku membentang jauh di Eropa dan Amerika. Semua dibawah kendaliku,” Bernadette meneguk birnya.

“Penerbangan masih terbatas Bernadette. Bagaimana kamu bisa sampai Mali?” Tadej bertanya.

“Ada operasi intelijen yang membantu aku balik ke Mali. Pagi jam lima aku harus keluar dari apartemen ini. Biarkan malam ini aku meringkuk tidur di sini.” Berempat, kami berdesakan tidur dalam apartemenku. Jam lima pagi, Bernadette benar-benar pergi.

“Jika semua sudah tuntas di Mali, aku segera balik lagi ke sini. Bertemu kalian untuk bergoyang bersama.” Bernadette berpamitan.

Ditinggal Bernadette, pertemuan setiap malam yang kami lakukan menjadi tawar. Bernadette, gadis cantik berkulit hitam, memang memiliki karisma tersendiri. Maka layak jika dia didaulat jadi koordinator luar negeri gerakan menggulingkan pemerintahan otoriter negerinya. Dan mengapa ketika didekat Bernadette aku menjadi nyaman? Perasaanku berbinar-binar?

Enam hari setelah Bernadette meninggalkan Toulouse. Sabtu, sebelas April 2020. Eliza dari Venuzuela dan Tadej dari Slovenia dengan tradisi nan kuat perayaan Paskah di negerinya. Mengajak aku merayakan Paskah bersama di tempat Eliza.  Larut malam ketika aku sudah balik ke apartemen. Ponselku berdering. Dari Bernadette. Kalimatnya pendek,”Mampirlah ke apartemenku. Aku ada di sini, tapi hanya sebentar. Kawan-kawanku menunggu di luar apartemen.”

“Kamu datang dari Mali?!” aku menegaskan.

“Ya. Tapi hanya sebentar mampir ke apartemen. Ingin mengucapkan Paskah padamu.  Besok pagi di Paris aku mengumpulkan semua aktivis Mali yang ada di Eropa.”

Bergegas aku ke apartemen Bernadette. Pintu aku buka. Kulihat Bernadette. Aku memeluknya. Kucium pipinya. “Sejak pertama bertemu denganmu, ada gejolak hatiku yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku mencintaimu, Bernadette?”

Bernadette tidak menjawab. Justru gantian mencium pipiku. Lalu kubiarkan ketika bibirnya buas melumat bibirku. Lipstik merah berhamburan menghias bibirku. Dan kami berpisah. Bernadette meninggalkan apartemen. Aku kembali ke kamar. Tidur, berteman kenangan.

Jam tepat pada angka tujuh pagi ketika deringan ponselku menyalak nyaring. Dari Eliza. “Agung, cepat nyalakan France24! Ada berita penting!”

Setengah sadar aku raih remote. Kunyalakan televisi. Berita pagi dari Afrika. Kabar dari Mali. Aku langsung bangkit dari tidur. Mendekat ke televisi. Tersua, penguasa otoriter Mali menurunkan militer. Menerjang para demonstran. Kacau-balau. Silang sengkurat. Lalu berita ditutup dengan kabar yang membuat diriku terguncang. “Tokoh penggerak demontrasi yang pulang dari luar negeri tewas diterjang peluru. Namanya Bernadette.”

Tanganku meraih bibir. Sisa-sisa lipstik Bernadette yang memang sengaja tidak aku hapus dari bibirku untuk menemani tidurku, tertempel pada jari-jari tanganku. Aku pandangi. Apakah Bernadette semalam berpamitan padaku?

Lippo Karawaci, 27 November – 6 Maret 2021

A.M. Lilik Agung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here