Pastor Damianus Triwidaryadi: Optimis Berubah

58
Pastor Damianus Triwidaryadi
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – SESAAT Pastor Damianus Triwidaryadi menarik nafas panjang saat ditanya, manakah yang lebih diutamakan umat: perkawinan secara adat atau perkawinan secara Gereja? “Secara sosiologis, mereka lebih condong ke perkawinan secara adat,” ujarnya. “Inilah salah satu tantangan pastoral yang kami hadapi di paroki-paroki, stasi-stasi  pedalaman. Pengaruh adat-istiadat lokal masih sangat kuat,” tambah Kepala Paroki Santo Lukas Apau Kayan, Keuskupan Tanjung Selor, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara beberapa waktu lalu melalui wea.

Menghadapi situasi ini, Pastor Dami, demikian sapaan Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos), Tanjung Selor ini, perlu berhati-hati. Tidak melihat hitam dan putih, saklek dengan pasal-pasal hukum formal. Perlu pendekatan, kesabaran, berbicara secara langsung dengan umat untuk memberikan pengertian yang dapat diterima akal budi mereka. Umat di paroki ini rata-rata kurang berpendidikan. Bahkan tak jarang terdapat umat yang masih belum melek aksara. “Coba bayangkan, bagiamana kami harus berkatekese di sini,”timpalnya terkekeh.

Dari pengalamannya, Pastor Dami mengakui, obrolan-obrolan ringan dengan umat menjadi salah satu pendekatan yang cukup efektif. Hal itu yang ia lakukan setiap kali, lulusan STFT St. Yohanes, Sinaksak, Pematangsiantar ini turne. Kendati, lagi-lagi, menurut pengalaman pastoralnya selama beberapa tahun, kalau umat sampai menghadapi masalah pelik, tetap saja akan condong ke penyelesaian secara adat.

Namun, Pastor Dami, tidak pernah putus asa. Sebelum memulai perayaan Ekaristi di stasi-stasi, ia selalu mengawalinya dengan katekese sederhana. Ia menyampaikan ajaran-ajaran dasar Gereja Katolik dengan menggunakan bahasa Indonesia sederhana. Tidak hanya soal pengembangan iman, juga mengenai pemberdayaan ekonomi. Umumnya, umat di pedalaman masih terbiasa dengan pola hidup berpindah-pindah dari satu ladang ke ladang yang lain. “Maka, kami – tim pastoral – mencoba memberi pengetahuan dan pemberdayaan tentang pertanian, peternakan, perikanan dengan contoh konkret,” ujarnya.

Baginya, inilah keadaan riil umat di pelosok. Budaya lokal masih sangat dominan. “Maka, janganlah bandingkan medan pastoral di sini dengan di Pulau Jawa atau Pulau Sumatera. Jauh bedanya. Sementara saat ini, zaman terus berubah dan bergerak. Namun, saya dan teman-teman imam di Keuskupan Tanjung Selor optimis, ada potensi mengajak umat untuk berubah dan maju. Kami berharap, jangan mereka sampai ketinggalan, apalagi dilindas zaman,” imbuh pria yang gemar memancing ikan di sungai-sungai menuju stasi di pedalaman.

FHS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here