Usaikan Kisah, Biarkan Rasa Membuncah

131

HIDUPKATOLIK.COM – “SUSTER, aku ingin bersamanya.”

“Kamu tidak akan bersamanya meskipun di sini.”

Suster Kepala menatap penuh kasih Mehulisa, perempuan berbibir tebal dengan pesona istimewa. Mendadak muncul tanpa pemberitahuan. Hanya mengetok pintu tepat bersamaan Suster Kepala hendak buang sampah.

“Aku harus di sini, Suster. Ingin dekatnya selalu!  Cinta ini membunuhku.., cinta ini tak ada logika…, separuh nafasku pergi, jangan biarkan semua ini hanya jadi kenangan yang terindah dalam hidupku, tak ada lagi cahaya suci..  kuberse…”

“Stop! Kenapa semua jadi syair lagu, siapa itu.. nggg… Ryan.. ya,  D’Masiv. Terus separuh apa tadi.. Ariel Noah kan! Lalu Kenangan Terindah..  lupa penyanyinya, tapi bapaknya pengacara. Satu lagi Agnes …. Eh…, kamu sebenarnya mau apa kemari? Audisi got talent?”  

“Suster malah tahu semua lagu dan penyanyinya?”

Suster Kepala tertawa. Sejenak menghentikan muntahan  kalimat si cantik yang mirip kentongan hansip ketika ada maling.

“Lucu! Tepat nih keputusan memilih menjadi seperti suster. Pasti  lara hati berganti  nada cinta penuh asa. Usai sudah semua berlalu.. biar hujan menghapus jeja…..”

“Cukup! Jangan lagu lagi! Tapi yang barusan, menghapus jejak. Ariel Noah lagi?”

Mehulisa mengiyakan sambil menarik ingus yang mendesak turun.

“Hapus saja cairan hidungmu, kalau belum bisa menghapus jejaknya. Bicaranya   jangan pakai lagu ah..! Too much love will kill you..!

“Lha itu  lagu Brian May,  gitaris Queen, band legendaris.”

“Malah enggak ngerti saya. Sembarang sebut, biar keren pakai bahasa Inggris.”

“Ternyata biara tidak seperti kubayangkan. Kaku, banyak aturan, jadwal ketat. Sepanjang hari berdoaaaa!”

“Memang seperti itu!”

“Tapi suster santai banget. Seru malah.”

“Banyak aturan dan berdoa kan tidak membuat orang jadi kaku. Malah aturan bikin hidup lebih mudah dan berdoa membuat tenang karena tahu ada kekuatan dahsyat membentengi saat mempercayakan hidup  pada Tuhan. Kalau semua dijalani sukacita, rela dan bersyukur, enggak terbeban.”

“Jadi… aku  diterima?”

Suster Kepala diam. Menyodorkan teko bermotif seraya mengisyaratkan Mehulisa menambah tehnya.

***

Ibadat Ekaristi selesai. Mehulisa membakar lilin, hening sejenak lalu  berbalik, dan……

“Michael……!”

Pria berbaju kotak-kotak menoleh, terhenyak.

“Mehulisa Atemalem Freotica…….!”

Mehulisa tersipu. Michael selalu memanggilnya di awal pertemuan secara  lengkap dengan penekanan tiap suku kata. Jiwanya bersorak menikmati tatapan Michael sampai nekat menerjemahkan sebagai terpesona dan ingin segera mengulang semua hari indah. Sejurus keduanya larut dalam kediaman. Lamanya  berlangsung sama seperti membuat telur mata sapi setengah matang.

“Apa kabar, Michael…?”

“Panggil aku Frater. Hhhmm… Frater Michael!”

“Tapi kamu tidak pakai jubah…!”

“Berjubah atau tidak, sama sekali tak mengubah identitas kan..”

“Mmm… tapiiii Mich…eeh.. Frat.., Frater Michael.. kita toh teman. Sangat dekat bahkan.”

“Kedekatan tidak akan berubah meski kamu panggil aku Frater…”

“Masih ada waktu memeriksa batin.. apakah panggilan ini benar untukmu…”

“Mea….. berhentilah.”

Satu lagi, sebutan Mea membuat Mehulisa semakin pilu. Betapa merindukan panggilan spesifik hasil rakitan kreatif  dua suku kata nama pertama dan huruf awal kata kedua. Terdengar manja.

“Mich… ngg.. Frat…. ugh.. Frater.. bisakah kita bicara?”

“Ini kan sedang bicara, bukan berdoa…”

“Ahh…. kamu eh…. Frater tetap lucu..”

“Humor bukan monopoli komedian. Frater juga boleh kan. Biar kalau jadi pastor, khotbahnya lucu, umat segar!”

“Masih belum kan….!”

“Belum lucu..?”

“Belum jadi pastor! Aaah  kamu… eh.. Frat,,! Repot ya buat manggil aja.”

“Sebetulnya enggak repot!  Kamunya belum rela!”

“Bukan belum ! Tepatnya enggak rela…”

Michael terhenyak. Bagi Mehulisa itu seakan tanda pertumbuhan harapan baru kembali memiliki Michael.

“Ke pastoran yuk.. minum teh …”

“Mengganggu enggak?”

“Akan lebih mengganggu kalau nongkrong di café.”

“Kita kan tidak melakukan apa-apa..”

“Apalagi tidak melakukan apa-apa. Pemiliknya terganggu. Enggak pesan apa apa. Diam.., lalu  pandang-pandangan seperti abege kasmaran.

Gaya humoris Michael sebegitu lekat dengannya bikin semakin takut kehilangan. Namun gentar merebut cinta kembali sebab sadar betul siapa saingannya. Sungguh tak layak.

***

Gerimis turun menghalau rembulan. Mehulisa tak hirau dan air mata masih mengalir tipis saat pintu pastoran terbuka.

“Beri aku kesempatan Michael…..!”

“Panggil aku Frater…. !”

“Maaf, enggak bisa…!”

“Tolong… sekali ini. Setelahnya tak perlu panggil Frater lagi,” Michael menyentuh lembut pipi Mehulisa, menghapus air matanya.

Mata sembab Mehulisa mendadak berbinar, ingin memeluk tapi tertahan.

“Frater….!” panggil Mehulisa riang, membayangkan besok semua berbeda.

“Akhirnya berhasil kan memanggilku Frater sebegitu lepas untuk pertama kali.”

“Ingin sekali aku memelukmu atas sukacita ini, Frater. Tapi nanti sajalah.”

“Kenapa tidak sekarang!” sela Michael tulus. Di telinga Mehulisa terdengar mirip godaan kekasih memendam rasa dalam galau sebuah pilihan.

“Nanti setelah semua usai dan kita biarkan rasa membuncah,” Mehulisa sumringah.

Tanpa terduga Michael memeluk penuh kasih, membelai rambutnya. Mehulisa berusaha menahan pelukan bagai tak ingin berkesudahan.Tapi Michael menahan bahu seraya mengambil jarak.

“Mea, usaikan kisah ini, tapi biarkan rasa itu tetap membuncah. Cinta jangan terhalau sebab hidup butuh cinta agar kita semakin mengasihi, terlibat dan semakin menjadi berkat. Tak bisa rasa dihempang saat mampir. Biarkan subur, bukan hanya untukku, tapi buat semua.”

Mehulisa mulai gemetar. Sesungguhnya kalimat Michael sederhana tetapi kenapa terdengar rumit?

“Entah kapan kita bertemu lagi. Setelah pentahbisan aku bertugas di Timor Leste.”

“Pentahbisan……..?” Mehulisa ternganga.

“Ini maksudnya panggil Frater sekali ini lagi? Setelahnya…, Pastor?”   Mehulisa tersedak. Sangkanya Michael menyudahi pencarian panggilan dan memilih kembali padanya.

“Michael……..!”

“Panggil aku Frater…”

Mehulisa menggeleng keras.

“Ibumu yang terpanggil  menyerahkan puteranya. Masih ada waktu memastikan   ini bukan panggilanmu. Sekarang ibu tiada dan impiannya ikut terkubur. Kamu berhak  punya impian sendiri. Impian kita!  Bukan ibu…..!”

“Ini panggilanku.”

“Kamu hanya berusaha mewujudkan keinginan ibu. Impianmu sesungguhnya merajut mimpi bersamaku. Bila katamu itu panggilan, pasti datang langsung ke hatimu! Tanpa perantara.”

Kesedihan Mehulisa memuncak. Baru saja merasa keindahan cinta berliku akan bermuara di satu garis lurus. Sekarang terhempas dalam satuan detik.

“Semula sebagai anak tunggal, aku memang  ingin bahagiakan ibu yang nota bene orangtua tunggalku.”

See…….! Cuma pemenuhan ‘kewajiban’ dan beliau sudah saksikan. Kalau sekarang memilih impian sendiri,  ibu  enggak bakal tiba-tiba bangkit  lagi menuntut. Michael.., jujurlah. Kalau untuk diri sendiri saja tidak jujur, bagaimana  kepada Tuhan. Panggilan ini takkan pernah sempurna dalam keraguan.”

“Aku tidak ragu dan sangat jujur pada diri sendiri apalagi Tuhan.”

“Kamu membuat semua makin rumit, lalu menggulung sendiri impianmu demi ibu yang sudah tiada. Ini aku di hadapanmu membawa cinta, tapi terabaikan! Lalu bicara cinta pada Tuhan? Omong kosong apa ini.  Katamu,  apa yang dilakukan untuk sesama, itu yang kamu lakukan untuk Tuhan. Aku ini sesamamu Michael.. se-sa-ma-mu….!”

“Kuawali  langkah di atas impian ibu. Namun dalam perjalanan, ada gerak Roh Allah menuntun, menyusupi memanggil jiwaku.”

Mehulisa berbalik sambil berkata dengan tetap membelakangi karena terluka.

“Doaku selalu untukmu Frater. Aku tak hendak bersaing dengan sang Pencipta.”

Mehulisa melangkah tanpa menoleh lagi.

 

***

“Ehhhh…, malah nangis!”

Lamunan Mehulisa buyar mendengar suara Suster Kepala yang baru balik lagi dari menerima tamu.

“Jadi Suster enggak mau bantu aku menjawab panggilan ini?”

“Lha..! Kamu ke sini enggak ada yang manggil. Hanya karena berpikir kekasihmu sudah jadi biarawan, patah hati lalu pilih jadi biarawati biar  selalu  dipadukan sebagai biarawan dan biarawati. Tidak sesimpel itu,  tapi juga enggak perlu dibikin rumit.”

“Suster yang rumit. Kan tinggal membimbing biar jadi seperti suster. Dengan begitu aku bisa sering melihat kekasihku meski tidak bersatu.”

Suster Kepala tertawa lumayan keras.

“Membiara tidak sesederhana film kontroversial Ave Maryam. Dan enggak usah membayangkan kamu itu Maudy Kusnaedy dan kekasihmu, Chico Jericho.”

Mehulisa cemberut.

*

“Tubuh Kristus.”

“Amin”

Ada jemari bergetar hebat bersamaan sepasang kaki lain nyaris tak kuasa  digerakkan saat komuni. Gumpalan awan menyingkir membuat langit Timor Leste memutih. Misa telah usai.

“Sampai bertemu lagi, Pastor Michael. Tetap setia dalam pelayanan.”

“Terima kasih Mehulisa Atemalem Freotica…. Tetaplah seperti namamu..”

“Terima kasih, Pastor masih memanggilku seperti dulu.!”

“Mehulisa, berarti sangat baik. Atemalem, maknanya membuat hati selalu damai.  Freotica, hasil kreasi ayahmu dari kata free dan tetap beretika.”

Mehulisa tertawa senang. Lepas, bebas.., tetap beretika.

Pastor Michael menumpangkan tangan dan memberkatinya.

Langit putih di atas Gereja Ave Maria Suai, Covalima memayungi mereka.

Oleh Ita Sembiring

(HIDUP, Edisi No.13, Tahun ke-75, 28 Maret 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here