TELADAN MISIONER DARI ASTURIAS, PERNAH ‘SINGGAH’ DI TANAH MINAHASA

48
Pastor Juan Alonso Fernandez, MSC

HIDUPKATOLIK.COM – MANUSIA cenderung menghindari hal yang sukar dan suka mencari kenyamanan. Hal yang membawa sengsara lekas ditinggalkan. Keenganan manusia untuk menapaki jalan sukar itu dilukiskan juga dengan indah dalam buku “De Imitatione Christi” karya Thomas a Kempis melalui percakapan seorang Guru dan murid. Sang Guru menyebut bahwa cinta sang murid belum kuat dan sempurna. Mengapa? karena ketika menjumpai kesulitan sedikit saja, pekerjaan yang telah dimulai, ditinggalkan dan lekas mencari penghiburan. Dijelaskan oleh Sang Guru bahwa orang yang sungguh-sungguh mencintai, tetap teguh dan tegar dalam menghadapi pencobaan, serta tidak mudah percaya pada bisikan tipu muslihat musuh (Red, iblis).

Kobaran cinta yang kuat itulah yang ditemui dalam sosok Pastor Juan Alonso Fernandez, MSC. Ia menolak kecenderungan kemanusiaannya untuk melepaskan diri dari jerat sengsara. Ia ingin secara utuh menjadi perwujudan Kristus di bumi. Ia ingin mengikuti teladan ketaatan Kristus yang rela menderita dan wafat demi menebus dosa umat manusia. Mengutip buku “Memberi Diri Seutuhnya: Para Martir MSC dari Timur Tengah” karya Jesus L. Lada, MSC yang diterjemahkan oleh Pastor Johanis Mangkey, MSC, dituliskan bahwa Pastor Alonso selalu memilih apa yang susah, sukar, dan berbahaya. Ia suka mengambil risiko demi Injil.

Motivasi terkuatnya untuk pilihan-pilihannya yang sulit adalah cintanya kepada Kristus yang bangkit dan untuk kaum miskin. Karena alasan itu semboyan dan tantangannya adalah seruan St. Paulus: “Terkutuklah saya jika saya tidak memberitakan Injil” (1Kor. 9:16). Oleh karena itu, menyakitkan baginya apabila ada yang berpikir bahwa semua yang dimilikinya adalah semangat menjelajah.

 Misionaris Daerah Sulit

Dalam buku itu disebutkan bahwa Pastor Alonso memulai kerja kerasnya sebagai misionaris dengan menunggang kuda, di jalan-jalan rusak, menyeberangi pegunungan dan jurang-jurang, berpergian sepanjang 40 kilometer antara San Andres dan Santa Cruz, meninggalkan di belakangnya, pada ketinggian 2500 meter, kampung Santa Rosa Chujuyub. Sejak awal ia telah meminta paroki yang tidak dapat dicapai dengan mobil. Tercatat selama kira-kira 90 tahun tidak ada seorang imam pun di San Andres.

Ia pun telah memilih El Quiché, yang merupakan daerah misi yang sulit. Di dalam lingkup El Quiché ia juga memilih daerah paling sulit. San Andres Sajcabajá, Camilla dan San Bartolo Jocotenango menjadi pilihannya karena itulah daerah-daerah yang paling miskin dan sulit dicapai. Bersama dengan umat di sana, ia melewatkan periode pertamanya sebagai misionaris (1960-1963). Meskipun tugasnya sudah berat, ia masih mencari waktu untuk mengunjungi Zona Reyna, yang terpencil dan hampir tidak dapat dicapai.

Kepulauan Indonesia

Kemudian pada tahun 1962 ia merelakan diri untuk pergi ke Indonesia. Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC) Belanda meminta bantuan. Ia berangkat ke sana pada bulan Mei 1963 bersama dengan rekan-rekan MSC lain yang berasal dari Spanyol. Ia menulis, “…sekarang saya menulis surat ini dari tanah jauh kepulauan Indonesia, di mana saya baru saja tiba, terdorong oleh semangat misioner yang sama, seperti selalu demikian.”

Dipaparkan dalam buku itu, semangat misioner Pastor Alonso menyatu dengan sifatnya yang kokoh, kemampuan untuk mengambil risiko, dan kesiapan misionernya, yang bersumber tidak hanya pada psikologisnya, tetapi juga terutama pada imannya yang mendalam, yang mengagumi ketaatan penuh harapan dari Abraham, yang meninggalkan negerinya, tanpa tahu ke mana ia sedang menuju dan dari Musa yang memilih menjadi pembebas dan pembimbing suatu bangsa yang sedang ditindas.

Di Indonesia, Pastor Alonso dengan cepat belajar Bahasa Indonesia dan nampaknya hal itu mudah baginya. Ini memungkinkannya untuk mewartakan Injil, yang menjadi alasan keberadaannya di sana dan untuk menjadi dekat dengan umat. Ia tidak takut akan matahari terik dan perjalanan yang melelahkan. Hampir selalu ia makan nasi tanpa garam, dan kadang-kadang menyantap daging anjing, kera, atau tikus. Meskipun dengan asupan yang minim, setiap hari dengan penuh semangat ia tetap menjelajah ke kampung untuk mengunjungi komunitas-komunitas kecil orang Katolik.

Secuil pengalamannya di Pulau Kelapa ia tuliskan begini, “Kuda Guatemala di sini berbentuk suatu sepeda motor yang kuat, yang melompat di lintasan-lintasan lumpur…sepeda motor itu hanya dapat mencapai dua dari tiga belas kampung. Kesehatan saya baik. Cuaca luar biasa panas. Ada banyak malaria. Saya mendapatkannya beberapa kali, tetapi itu tidak berbahaya, dan juga tidak mengurungmu di tempat tidur…Saya sedang membangun tiga gereja. Ada harapan besar untuk pertobatan-pertobatan. Saya juga sedang membangun sebuah sekolah menengah.”

Kembali Mengisi Daya

Usai dua tahun bekerja keras dengan iklim yang jauh berbeda dari tempat kelahirannya, Asturias, Spanyol, disertai penyakit tropis yang harus diderita, Pastor Alonso mengaku mengalami kelelahan. Maka pada November 1965, dalam perjalanannya kembali ke Spanyol, ia mampir di Roma selama dua minggu, di mana Konsili Vatikan II sedang berakhir. Ia merasakan suatu kerinduan dan kebutuhan untuk mengunjungi pusat kekristenan. Pengalaman di Roma merupakan suatu penghiburan baginya. “Semangat saya dibarui dan api misioner dihidupkan kembali dalam diri saya melalui sejumlah percakapan saya dengan Pemimpin Umum MSC, beberapa uskup dari daerah misi dan merasakan kesatuan di pusat kekristenan,” tulisnya.

Di sana ia juga menghadiri penutupan Konsili pada 7 Desember 1965. Dalam catatan harian misionernya ia berujar “luar biasa dan tak terlupakan”. Ia pun menyalin sejumlah paragraf wejangan Paulus VI dalam kaitan dengan nilai religius dari Konsili, panggilan misioner Gereja dan keputusan untuk melayani umat manusia. Dan ia merasa bahwa ia adalah seorang pewarta, seorang yang mempromosikan kemanusiaan karena cintanya akan Yesus.

Kutipan Paulus VI yang disalinnya adalah “Identitas seorang imam tidak boleh dicari dalam ilmu-ilmu profan, dalam humanisme, sosiologi dan psikologi…Identitas itu harus dicari dalam Kristus sendiri.” Suatu komentar ditulis olehnya pada kutipan ini, mengungkapkan kepribadian misionernya: “Salah satu sikap dalam kepribadian Kristus yang paling mengesankan saya adalah kesiapsediaan-Nya yang mutlak bagi Bapa dan umat manusia. Hal ini menerangkan kebebasan-Nya berhadapan dengan birokrasi, ideologi-ideologi zaman-Nya, orang-orang, penguasa-penguasa dan kepentingan tertentu.”

Ajal Menjemput

Dibarui secara rohani dan disertai semangat misioner yang disegarkan lagi, Pastor Alonso kembali ke El Quiché. Ia ditugaskan untuk memulai paroki baru di pusat Zona Reyna, di mana misionaris hanya datang sekali setahun. Butuh waktu 16 jam dengan menunggang kuda untuk sampai di situ. Ia menjabarkan umat di sana telah dibaptis, namun ia harus memulai mengajarkan Bapa Kami dan Tanda Salib lagi. Meskipun tantangannya besar harus menembus hutan lebat yang belum pernah tersentuh, ia giat mengadakan evangelisasi dan mempromosikan kebaikan bagi masyarakat yang hidup dalam kondisi tidak manusiawi. Dalam perjalanannya mengunjungi umat di tempat terpencil, dengan iman mendalam dalam komitmen total, ia kerap berdoa brevir sambil menunggang kuda, apabila kondisi jalan memungkinkannya.

Setelah 13 tahun menjalankan karya kerasulan yang intens di Zona Reyna, ia berpikir sudah waktunya untuk menjalankan suatu karya kerasulan yang lebih sulit. Ia pun mendapat tugas baru di Keuskupan El Petén, yang banyak penduduknya adalah keturunan Suku Maya. Selama dua tahun melayani di sana. Setelah pembunuhan dua rekan imamnya, ia memohon untuk diutus wilayah Utara El Quiché ke paroki di Nebaj, Cotzal, dan Chajul, di mana penindasan sudah tak terkirakan. Semuanya ini untuk mengutamakan kaum miskin. Ia siap menghadapi kesulitan lebih besar lagi didasari oleh permenungan retret misionernya. Salah satu teks Kitab Suci yang menjadi kekuatannya adalah, “Yesus datang untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya” (Mat. 20:28).

Pastor Alonso sudah memiliki firasat bahwa ia berada dalam bahaya. Firasatnya pun terjadi. Ia ditangkap dan mengalami penyiksaan kejam. Seorang komandan pos bahkan meludahinya karena jijik melihat imam. Akan tetapi, hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk tetap mewartakan sabda Allah dan memberikan pelayanan sakramen khususnya Ekaristi kepada umat di Paroki Uspantan. Kemudian hal yang paling buruk terjadi, ia diculik dan disiksa hingga akhirnya kepalanya harus menerima tiga tembakan peluru hingga jatuh ke jurang di La Barranca (Quiché). Seolah sudah mengetahui ajalnya, di hari sebelumnya, sambil memegang salib di dadanya ia mengatakan, “Saya menjadi imam karena salib ini, dan jika saya harus mati karena salib ini, inilah saya.”  Ia meninggal pada tanggal 15 Februari 1981 di usia 47 tahun.

Felicia Permata Hanggu

(HIDUP, NO. 15, Tahun ke-75, 11 April 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here