Pastor Johanis Mangkey, MSC: Era Digital Butuh Jiwa Kemartiran

161
Pastor Johanis Mangkey, MSC

HIDUPKATOLIK.COM – Buku “Memberi Diri Seutuhnya” bukan hanya untuk menghormati sebuah pengorbanan, tetapi ada sebuah pesan penuh makna bagi generasi muda.

PENERJEMAH buku “Memberi Diri Seutuhnya”, Pastor Johanis Mangkey, MSC, akrab disapa dengan Pastor Yance, masih mengingat ketika ia duduk di bangku SD. Seperti biasanya sore hari itu ia sedang bermain di kompleks pastoran dan Gereja St. Antonius Padua Tataaran, Tondano Selatan, Sulawesi Utara.

Tiba-tiba sebuah motor besar mampir ke pastoran. Menurut imam yang kini bertugas di bagian arsip dan urusan yuridis Provinsialat MSC Indonesia di Jakarta ini, pengendara motor tersebut membonceng anak kecil. Dia adalah Pastor Alonso, begitu mereka mengenalnya.

Imam MSC, yang mempunyai nama lengkap Juan Alonso Fernandez, pernah berkarya di Keuskupan Manado pada tahun 1963 – 1965. Dia bersama dengan dua imam MSC lainnya, yakni P. Faustino Villanueva, MSC; P. José María Gran Cirera, MSC dan tujuh katekis awam akan dibeatifikasi pada hari Jumat, 23 April 2021 di Guatemala.

Apa yang bisa diteladani dari para martir ini, yang dibunuh pada sekitar tahun 1980/1981 di Guatemala, Amerika Tengah? Berikut petikan wawancara dengan Pastor Yance ketika dikunjungi oleh HIDUP di kediamannya di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Pastor Yance masih ingat bagaimana sosok Pastor Alonso?

Ya, saya sempat lihat sendiri. Ketika itu suatu sore saya sedang bermain di pastoran. Sebuah motor besar mampir. Pengendaranya ialah seorang berjubah putih brewokan dan membawa anak kecil di belakang. Dia mampir di kampung kami, tapi pastor paroki kami sedang tidak ada di tempat karena kerap mengunjungi umat di stasi-stasi. Kami hanya bisik-bisik saja. Saya ingat itu ketika saya masih duduk di kelas 4 SD. Dia adalah misionaris dari Spanyol dan orang yang aktif dan agak cerewet juga. Kami tidak terlalu mengerti dia ngomong cepat dan bahasa Indonesianya belum terlalu lancar. Dia juga dikenal sebagai sosok berfisik kuat sehingga ia dapat memikul motor besarnya kalau melewati sungai yang tidak punya jembatan.

Bagaimana penampilan Pastor Alonso?

Ia adalah seorang Spanyol berkulit putih, yang datang dari Guatemala ke Manado. Dari Manila ia datang bareng Mgr. Yos Suwatan, MSC, yang ketika itu masih frater dan baru menyelesaikan Novisiat MSC dan tahun pertama filsafat di Filipina. P. Alonso selalu memakai jubah putih, yang tidak pernah ditanggalkannya. Sekotor apapun. Kena debu, kena becek, dia selalu kenakan jubahnya dengan salib yang tergantung di leher. Itu tipe misionaris dari Spanyol.

Bagaimana respons Tarekat MSC yang berpusat di Roma tentang beatifikasi ini? Dan, dari Gereja di Guatemala?

Yang akan dibeatifikasi pada 23 April 2021 adalah P. Juan Alonso Fernandez MSC, P. Faustino Villanueva MSC, P. José María Gran Cirera MSC dan tujuh katekis awam pendamping pastoral mereka di wilayah El Quiché, Guatemala, Amerika Tengah.

Sebagai tarekat kami tentu saja sangat bersukacita bahwa anggota-anggota kami diakui secara resmi dalam Gereja sebagai saksi-saksi iman. Sukacita itu pasti besar. Secara khusus sukacita yang pasti sangat luar biasa dirasakan oleh Pater Jenderal MSC, Pastor Mario Absalon Alvarado Tovar, MSC, yang berasal dari Guatemala. Dia sebagai orang Guatemala adalah penerus karya dari para martir ini. Ketika mereka dibunuh sebagai martir dia baru berusia 10 tahun. Beatifikasi ini terjadi ketika dia sedang menjabat sebagai Pemimpin Umum (Jenderal) Tarekat MSC. Suatu berkat dan sukacita besar untuknya.

Saya kira Gereja dan umat di Guatemala juga sangat bersyukur dan bersukacita. Beatifikasi mereka akan memperkokoh kiprah Gereja dan berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan iman umat. Seperti ungkapan mengatakan: “Sanguis martyrum semen Christianorum” (Darah para martir adalah benih orang-orang kristiani). Saya kira hal ini berlaku juga untuk Gereja di Guatemala. Lagi pula, para martir ini adalah orang-orang atau kelompok pertama yang diakui sebagai orang-orang kudus di Guatemala. Selain mereka, ada banyak kaum religius, imam dan awam yang ketika itu dibunuh karena iman mereka.

Apa motivasi Pastor Yance menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia buku “They Gave Their Lives, MSC Martyrs of Central America” terjemahan Joe Ruddy, MSC dari bahasa Spanyol, karangan P. José Lada, MSC? Butuh waktu berapa lama merampungkan terjemahan itu?

Saya butuh waktu sekitar tiga bulan di tengah pekerjaan-pekerjaan lain. Saya selalu berusaha sisihkan waktu untuk menerjemahkan.

Ketika saya mendengar berita bahwa menjelang akhir Januari 2020 Paus Fransiskus telah mengeluarkan dekrit tentang kemartiran mereka saya mengambil buku versi bahasa Inggris tersebut untuk dibaca lagi. Lalu saya membuat tekad untuk menerjemahkannya. Motivasi saya adalah mengapresiasi karya pelayanan, kesaksian dan pengorbanan hidup mereka yang luar biasa. Secara khusus penghormatan istimewa hendak diberikan kepada salah satu dari mereka, yakni P. Juan Alonso Fernández, MSC yang merelakan diri untuk datang berkarya di Keuskupan Manado, khususnya di Minahasa. Saya ingin agar umat Keuskupan Manado bahkan di Indonesia mengetahui bahwa ada seorang misionaris, yang pernah bekerja untuk Gereja di tanah air kita, dan yang kemartirannya diakui secara resmi oleh Gereja. Yang menarik, sembari saya menerjemahkan, dari satu halaman ke halaman lainnya, dari satu bab ke bab lainnya, wah kisah hidupnya yang dedikatif semakin menarik. Tertambah semangat saya untuk menuntaskannya. Dari kisah hidup dan kemartiran ini terkandung pesan yang masih relevan untuk sekarang ini.

Keutamaan-keutamaan apa yang patut diteladani dari para martir itu?

Buku “Memberi Diri Seutuhnya” mengisahkan tentang empat misionaris anggota Tarekat MSC asal Spanyol yang rela bermisi ke Amerika Tengah. Tiga bertugas di wilayah El Quiché, Guatemala, dan satunya di Nikaragua; yang di Nikaragua belum masuk daftar beatifikasi.

Saya menemukan passion atau semangat membara para misionaris ini. Dua pilihan jelas, yang menghantar mereka pada kemartiran, adalah cinta mereka kepada Yesus yang mereka mewartakan dengan setia dan komitmen mereka pada pilihan mengutamakan kaum miskin (option for the poor). Keberpihakan mereka kepada kaum miskin sangat kentara. Kaum miskin dan teraniaya oleh penguasa pemerintah dan rezim militer adalah warga Guatemala, yang di wilayah kerja mereka secara ekonomis masih terbelakang dan akses pendidikan juga masih sangat terbatas. Lagipula, mereka mengalami ketidakadilan dan kekerasan yang begitu kentara dari pihak penguasa. Dalam situasi inilah mereka tetap komit dan berani menjadi suara bagi mereka yang tidak mampu bersuara. Mereka juga tahu dan sadar akan bahaya dan risiko besar dari pilihan ini, namun mereka memegang komitmen, tidak gentar dan tidak mau mundur.

Pastor Alonso misalnya. Ia tahu akan risiko komitmennya; kapan saja ia bisa ditembak mati dalam kegiatan dan perjalanan pastoralnya, tetapi dia seorang pemberani. Risiko dan bahaya yang nyata tidak menghalangi karya pelayanannya. Ia pantang mundur.

Ia juga penuh semangat ketaatan pada penugasan yang diberikan oleh pimpinannya. Ia selalu taat dan siap sedia pada tugas perutusan yang diberikan kepadanya. Tetapi yang menarik ialah ia mencari tempat tugas yang lebih sulit lagi. Ia meminta kepada pimpinannya untuk ditugaskan ke daerah yang lebih atau paling sulit. Ia selalu siap menghadapi kesulitan apa pun. Sampai kematiannya ia selalu memilih apa yang paling susah, sukar dan berbahaya. Ia suka ambil risiko demi Injil dan umatnya. Ia bekerja keras sebagai misionaris dengan menunggang kuda, melewati jalan-jalan yang rusak, menyeberangi sungai, pegunungan dan jurang-jurang. Jiwa penjelajahnya (avonturir) menjadi jiwa misionernya.

Kisah Pastor Alonso di Minahasa juga menarik. Ketika ia ditempatkan di Paroki Kokoleh, Minahasa Utara, ia merasa masih ada banyak wilayah yang lebih sulit dan jarang dikunjungi oleh pastor karena jumlah imam yang terbatas. Jiwa penjelajahnya membawa dia ke mana saja motor besarnya bisa menghantar dia. Tidak heran misalnya namanya sebagai pastor pembaptis tercatat juga di buku baptis Paroki Langowan yang berada di bagian Selatan Minahasa dan memiliki banyak stasi. Kondisi jalan pada tahun 1964 tidak sama dengan sekarang.

Maka, kita dapat memetik banyak pesan dari kisah hidup dan pelayanannya serta rekan-rekannya. Warisan misioner mereka adalah pengorbanan tanpa pamrih, ketaatan, kesetiaan, keberanian untuk mengambil risiko serta semangat dan kesiapsediaan misioner untuk diutus ke mana saja. Selain itu, pilihan mengutamakan kaum miskin dan tertindas menjadi juga keteladanan mereka yang besar. Warga yang paling miskin menjadi sahabat-sahabat mereka.

Hal menarik lain adalah ketika rekan imam MSC yang pertama, P. José María Gran, ditembak mati pada 4 Juni 1980, para konfraternya turut memikul peti matinya menuju ke pemakaman. Mereka saling bertanya: “Berikut giliran siapa?” Pertanyaan yang sama diajukan ketika konfrater yang kedua, P. Faustino Villanueva, ditembak mati pada 10 Juli 1980 dan diarak ke pemakaman. Di antara yang bertanya adalah P. Alonso. Ya, ternyata, berikutnya adalah giliran P. Alonso sendiri ketika ia diberondong dengan peluru-peluru di suatu perbukitan, dalam perjalanan pastoralnya, pada 15 Februari 1981.

Apa harapan Pastor untuk generasi muda MSC yang akan atau telah membaca kisah para misionaris lain yang akan dibeatifikasi?

Buku ini saya juga berikan cuma-cuma kepada generasi muda MSC, baik frater maupun bruder, yang sedang berada pada jenjang pendidikan dan pembinaan. Maksudnya supaya mereka dapat meneladani banyak keutamaan dari para martir ini, secara khusus supaya jiwa misioner generasi muda, yang mencakup kesiapsedian, mobilitas, ketaatan, pengorbanan dan pemberian diri terus bertumbuh dan berkembang. Generasi muda juga perlu keteladanan dari mereka yang sudah menampakkannya. Sebagai tarekat kami, baik imam maupun bruder MSC, adalah bagian dari suatu tarekat internasional dan interkultural. Kami diundang untuk pergi ke berbagai negara yang multikultural sebagai misionaris. Jiwa misioner ini perlu dibentuk, ditanamkan dan dimiliki sejak dini dalam pembinaan. Para martir itu telah juga memberi contoh untuk hidup dalam budaya setempat, menjadi ‘orang dalam’ di dalam budaya setempat dan membiasakan diri hidup apa adanya, tanpa banyak menuntut. Mereka mengajarkan bahwa hidup sebagai misionaris atau utusan Kristus adalah memberi sampai sehabis-habisnya, bukan menuntut diberi.

Generasi muda sekarang cenderung kritis. Kemartiran seperti apa yang dapat direnungkan oleh generasi muda, mengingat zaman sekarang dipermudah oleh teknologi?

Teknologi itu pada dasarnya baik dan harus dimanfaatkan untuk pewartaan dan pelayanan pastoral. Dunia kita sekarang sudah menjadi suatu kontinen digital. Namun, di era digital ini kita tetap membutuhkan jiwa kemartiran. Kemartiran di sini bukan saja dalam arti sempit yakni dibunuh karena kebencian akan iman. Kini kemartiran dapat berwujud pemberian diri dan komitmen hingga akhir. Juga, kerja giat, serius tidak asal jadi dan setia pada tugas yang dipercayakan. Tuntas, bukan asal-asalan. Semuanya itu menuntut pengorbanan tanpa pamrih. Situasi bisa berbeda atau berubah tetapi nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan tetap langgeng.

Karina Chrisyantia/Felicia P. Hanggu

(HIDUP, Endisi No.15, Tahun ke-75, Minggu, 11 April 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here