Buka Kegiatan Sosialisasi BAKKAT, Dirjen Bimas Katolik Ajak Umat Aktif Berdonasi

41
Dirjen Bimas Katolik dan jajaran bersama Mgr Ignatius Kardinal Suharyo (Foto: Ditjen Bimas Katolik)

HIDUPKATOLIK.COM– Dirjen Bimas Katolik, Yohanes Bayu Samodro meminta masyarakat Katolik untuk aktif berdonasi, salah satu wujud konkret penghayatan iman Kristiani dan solidaritas sesama anak bangsa, terutama mereka yang kecil, miskin, dan termarginalkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal itu dikatakan Dirjen saat membuka secara resmi kegiatan Sosialisasi BAKKAT – Badan Amal Kasih Katolik – di Hotel Luminor, Jakarta Pusat, Kamis (22/4/). Kegiatan yang berlangsung hingga Jumat 23 April 2021 itu dilakukan secara luring-daring dan diikuti oleh utusan masing-masing Keuskupan dan Pembimas Katolik Kanwil Kemenag seluruh Indonesia.

“Berdonasi sebagai interpretasi sikap kedermawanan, semangat kerukunan dan kesatuan serta wujud belarasa masyarakat Katolik perlu mendapat perhatian kita semua,” kata Dirjen di hadapan lebih dari 150 peserta dari seluruh Indonesia.

Dirjen berharap kegiatan sosialisasi ini sungguh-sungguh dimanfaatkan untuk menimba  wawasan, saling belajar, saling memberi dan menerima satu sama lain, dan meramu gagasan agar menjadi sebuah acuan dalam gerak dan langkah bagi kelangsungan BAKKAT ke depan. “Semoga dengan semakin dikenal secara baik, BAKKAT terus berkembang dan menjadi wadah aksi bela rasa umat Katolik untuk berkontribusi bagi kemanusiaan dan kebangsaan,” harap Dirjen.

BAKKAT merupakan satu-satunya lembaga amal Katolik yang mendapatkan pengesahan dari Pemerintah untuk menampung sumbangan umat Katolik yang dapat dipotongkan dari penghasilan, sehingga dapat mengurangi pajak penghasilan pribadi dari perorangan maupun pajak badan.

Sumbangan yang diterima, kemudian disalurkan untuk membantu kebutuhan pelayanan pastoral di bidang pendidikan, sosial kemanusiaan, bencana alam, bencana kemanusiaan, dan pembangunan sarana fisik seperti gedung gereja. Meski demikian, sebagai sebuah lembaga baru yang berdiri pada 2019, BAKKAT belum dikenal secara luas di Indonesia, bahkan di internal umat Katolik. Untuk itulah kegiatan sosialisasi ini diadakan sebagai salah satu strategi memperkenalkan BAKKAT kepada masyarakat.

Karena itu, materi dan narasumber kegiatan ini cukup representatif untuk menjelaskan secara kurang lebih komprehensif terkait BAKKAT. Selain tata kelola organisasi, simulasi serta distribusi donasi BAKKAT yang disampaikan para pengurus BAKKAT, ada juga petunjuk teknis BAKKAT yang dibawakan oleh Direktur Urusan Agama Katolik, lalu kebijakan nasional perpajakan tentang badan/lembaga yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah yang ditetapkan sebagai penerima zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto oleh Direktur Peraturan Perpajakan II, Ditjen Pajak, Kemenkeu RI.

Para peserta juga diperkaya oleh pengalaman pengelolaan dan pengembangan zakat Ditjen Bimas Islam yang dibagikan oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam, serta implementasi kebijakan serta simulasi pengurangan pajak penghasilan bruto atas sumbangan keagamaan oleh Kepala dan Staf Kantor KPP Pratama Jakarta Menteng Satu.

Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo sedang memaparkan materi dalam acara kegiatan Sosialisasi BAKKAT – Badan Amal Kasih Katolik – di Hotel Luminor, Jakarta Pusat, Kamis (22/4/) | Dok. Ditjen Bimas Katolik

Kegiatan sosialisasi ini semakin menarik karena kehadiran Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo yang membagikan inspirasi pastoral Gereja Katolik. Ia memberi pendasaran tegas bahwa iman akan Tuhan Yang Maha Esa seharusnya menjadi inspirasi bagi setiap dan semua warga bangsa untuk semakin berbela rasa dengan sesama dan segenap ciptaan.

Di hadapan peserta, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa manusia Indonesia adalah pribadi yang peduli. Hal itu didukung data. Bapak Kardinal merujuk hasil penelitian yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation pada tahun 2018 mengenai World Giving Index. Dalam penelitian itu, kata Kardinal, Indonesia berada pada urutan pertama dari 146 negara dalam hal solidaritas sosial. “Dilaporkan juga The Legatum Prosperity Index dalam kategori modal sosial, pada tahun 2020 Indonesia berada di peringkat 6 dari 167 negara,” jelas Kardinal Suharyo. Ia menambahkan, “Atas dasar data tersebut, saya yakin tidak salah menyimpulkan bahwa manusia Indonesia – yang bhineka dan berwarna – adalah manusia yang peduli dalam segala kekayaan artinya.”

Menurut Kardinal Suharyo, watak peduli bangsa ini perlu dirawat dan dikembangkan. Dan untuk itu tidak cukup dengan motivasi, tetapi perlu inspirasi iman. Inspirasi itu, kata Kardinal, ada dalam diri Yesus Kristus sendiri, yang seluruh hidup-Nya bisa dijadikan prinsip, pedoman, ukuran bagi budaya peduli: komitmen untuk menghormati martabat pribadi manusia, usaha untuk mewujudkan kebaikan bersama, solidaritas bersama dan dengan saudara-saudari yang terpinggirkan dan miskin serta merawat alam ciptaan.

Lexy Nantu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here