Roh Pembaharuan Bertiup di Bumi Tambun Bungai

59
Mgr. Aloysius M. Sturisnaatmaka, MSF (duduk depan, paling kiri) dalam Sinode Para Uskup dengan tema Ekaristi di Roma.

HIDUPKATOLIK.COM – Perjalanan misi di Keuskupan Palangka Raya kini sudah memasuki usia 28 tahun. Kesetiaan saat diterpa badai menjadi bagian dalam perjalanan misi ini.

Angin pembaharuan Gereja Indonesia terus berhembus sejalan dengan geliat Gereja pribumi menuju Gereja mandiri. Pada 3 Januari 1961, Paus Yohanes XXIII mengeluarkan Dekrit Quod Christus Adorandus sebagai penanda pendirian hierarki Gereja Katolik di Indonesia. Hierarki ini merupakan pengakuan Takhta Suci terhadap Gereja Katolik Indonesia, karena telah mampu berdikari. Didirikannya hierarki oleh Roma dimaksudkan umat dapat disatukan bila ada hierarki yaitu uskup.

Sejak itu, 20 vikariat apostolik dan tujuh prefektur apostolik ditingkatkan menjadi keuskupan. Selanjutnya, berdiri enam provinsi gerejani: Medan, Jakarta, Semarang, Pontianak, Makassar, dan Ende. Kemudian hari, dimekarkan menjadi Merauke (1966), Kupang (1989), Palembang (2003), dan Samarinda (2004).

Di Keuskupan Agung Samarinda, pada 5 April 1993, Paus Yohanes Paulus II menerbitkan surat yang isinya dibentuk satu keuskupan baru, yaitu Keuskupan Palangka Raya. Keuskupan baru ini berdikari dari induknya, Keuskupan Banjarmasin – masuk Provinsi Gerejawi Samarinda.

Sejak itu, kasih karunia Allah terwujud dengan kehadiran uskup pertama, Mgr. Yulius Aloysius Husin, MSF. Uskup ini hanya melayani dari 5 April 1993 sampai meninggal dunia pada 13 Oktober 1994. Selama 8 tahun terjadi sede vacante (1994-2001), lalu terpilihnya Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF yang ditahbiskan pada 7 Mei 2001.

Mgr. Husin memulai karya dengan 16 paroki. Dalam kurun 20 tahun episkopal Mgr. Sutrisnaatmaka pada Mei 2021 mendatang, keuskupan ini sudah memiliki 26 paroki yang terbentang dari pegunungan Muller dan Schwaner di bagian Utara dan berakhir di sebelah Selatan Laut Jawa.

Bapak Misi

Berbicara soal misi di Kalimantan Tengah (Kalteng), tak lepas dari seorang imam Ordo Theatijn (Ordo Clericorum Regularium/CR) bernama Pastor Antonio Ventimiglia, CR. Pastor Antonio dari Goa, India tiba di Banjarmasin pada 2 Februari 1688 dengan menumpang kapal dagang Portugis. Setibanya, ia berkenalan dengan masyarakat Dayak Ngaju. Sebenarnya, ia ingin sekali melayani di situ hanya pihak Portugis tak mengizinkannya.

Izin itu baru datang bukan dari Portugis, tapi dari pimpinannya di Macao. Pada 18 Januari 1689, ia tiba untuk kedua kalinya di Banjarmasin. Rasa cinta dan persahabatannya yang kuat dengan orang Dayak Ngaju, membuatnya menyusuri Sungai Barito dan masuk pedalaman Kapuas. Sepanjang jalan, ia menyapa dan membangun persahabatan dengan para tokoh masyarakat seperti para Temanggung, Damang, dan Raja Sindum.

Dalam buku “Perjalanan 25 Tahun Keuskupan Palangka Raya (1993-2018)” disebutkan, hubungan baik itu berujung dengan permandian lebih dari 3000 orang Dayak. Dengan kemahirannya berbahasa Dayak, ia diterima di mana saja. Meski pusat kegiatannya di Manusup, kampung di tepian Sungai Kapuas, tetapi karyanya meluas di seantero Banjarmasin.

Diceritakan, kedekatannya dengan masyarakat membuat Sultan Banjarmasin (Banjar) punya siasat lain. Ia ingin membangun kerja sama dengan pastor Ventimiglia, agar mendapat kepercayaan masyarakat. Tetapi sang imam sudah mengetahui akal busuk sultan lantas menolak rencana kerja sama itu. Konon, penolakan ini berakibat fatal dengan kematiannya pada 1692 — bertepatan dengan pengangkatannya sebagai Administrator Apostolik Banjarmasin. Sultan Banjar disebut-sebut menjadi dalang kematiannya.

Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II di Vatikan.
Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF bertemu dengan Paus Benediktus XVI di Vatikan.

Setelah kematian bapak misi, umat Katolik yang sudah dibaptis menjadi kacau balau. Mereka memutuskan kembali menganut agama asli mereka. Hal ini dimengerti karena penduduk yang sudah dibaptis belum mendapatkan pengetahuan iman yang memadai. Memang ada usaha dari rekan-rekan Pastor Ventimiglia, tetapi selalu gagal karena Sultan Banjar.

Kapusin dan MSF

Dalam buku, “Syukur Atas Kasih Karunia Allah” (30 tahun Imamat dan 10 Tahun Episkopat Mgr. Sutrisnaatmaka), ditulis, pada awal abad XX, Banjarmasin sebagai gerbang utama masuk ke pedalaman mendapatkan angin segar dengan para imam Ordo Kapusin (OFMCap) yang berpusat di Pontianak. Hanya saja wilayah pelayanan yang disebut Zuilder-Oosterafdeling begitu luas mencakup Kalimantan Timur (Kaltim), sebagian Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Selatan (Kalsel). Situasi ini membuat beberapa wilayah diserahkan kepada Misionaris Keluarga Kudus (MSF). Pada 27 Februari 1929, tiga misionaris MSF pertama tiba di Laham, Kaltim.

Selama 19 tahun, MSF berkarya di Kaltim dengan berdirinya beberapa paroki dan stasi. Hanya saja misi ini medapat tantangan dari Zending yang sudah lebih dahulu. Dalam perjanjian Regerings Reglement: Zending Ganda, art. 177: “Dilarang misi Katolik dan Zending berada di satu wilayah”. Perjanjian ini baru dicabut setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Sejak zaman kemerdekaan, misi di Kaltim, Kalteng, dan Kalsel menjadi lahan menjanjikan bagi MSF. Umat saat itu beragam dari selain masyarakat pribumi, Eropa, Jawa, dan Cina.

Sebelum kemerdekaan, pada 21 Mei 1938, Prefektur Apostolik Banjarmasin didirikan. Sebelas tahun kemudian, lewat perjuangan prefeknya Pastor Y. Kusters, MSF, prefektur ini dinaikan menjadi Vikariat Apostolik dengan Vikaris Apostolik pertama adalah Mgr. J. Groen, MSF. Di tengah usaha menyatukan daerah-daerah misi itu, Mgr. Groen meninggal dunia dan diangkat Mgr. W. Demarteau, MSF tahun 1954.

Dalam kurun waktu 1952-1965, ada upaya untuk membuka stasi-stasi sentra sebagai pusat pelayanan. Beberapa wilayah yang dibuka seperti stasi pertamanya di Sungai Barito (Kalteng) adalah Muara Teweh tahun 1954; Buntok (1965); dan Puruk Cahu (1966), serta stasi-stasi kecil lainnya.

Lewat proses yang melelahkan, akhirnya Roma menyetujui pemisahan daerah pastoral Kaltim dan Kalsel. Vikariat Apostolik Banjarmasin didirikan kemudian pada 25 Februari 1955, wilayah Kaltim menjadi Vikariat Apostolik Samarinda dengan Mgr. Demarteau sebagai Administrator Apostolik sampai 10 Juli 1955. Kemudian Pastor J. Romeijn, MSF ditunjuk menggantikan Mgr. Demarteau.

Usai pemisahan ini, Kaltim resmi menjadi vikariat baru, terlepas dari Banjarmasin. Mgr. Demarteau, mulai berkonsentrasi mengembangkan misi di pedalaman Kalteng. Ia melanjutkan stasi-stasi sentral seperti di Mentaya, Seruyan, dan Katingan. Tahun 1965, Pangkalan Bun menjadi stasi sentra bagi daerah Lamandau, Arut, dan sekitarnya. Selanjutnya, tahun 1963, Ibu Kota Kalteng, Palangka Raya menjadi stasi atas usulan Gubernur pertama Kalteng, Tjilik Riwut. Dari Palangka Raya karya misi melebar ke Kuala Kapuas dan Kuala Kuru. Tahun 1965, karya misi mencapai Barito Selatan yaitu Tamiang, Layang, dan Ampah.

Misi Palangka Raya

Secara kuantitas dan kualitif, perkembangan umat di Keuskupan Banjarmasin amat pesat. Maka Mgr. F.X. Prajasuta, MSF berkeinginan agar wilayah penggembalaannya segera dimekarkan menjadi dua yaitu Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Palangka Raya. Niat ini disampaikan tahun 1987 dalam Sidang KWI dan ditanggapi positif oleh para uskup. Pada 14 November 1992, dukungan penuh datang dari para uskup Regio Kalimantan, KWI, dan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia. Akhirnya Takhta Suci resmi mengabulkan permohonan berdirinya Keuskupan Palangka Raya dan pengumumannya terjadi pada 14 Agustu 1993.

Takhta Suci mengangkat Mgr. Husin yang ditahbiskan pada 17 Oktober 1993. Dalam rangka penyusunan rencana kerja, Mgr. Husin rajin mengunjungi paroki-paroki, mengundang semua petugas pastoral untuk mengadakan rapat, bertemu para utusan komunitas suster, bruder, dan imam. Ia pernah mengadakan rapat kerja dengan menghasilkan sejumlah strategi pastoral penting salah satunya adanya Pedoman Kerja Keuskupan Palangka Raya.

Seteleh kematiannya pada 13 Oktober 1994, Dewan Keuskupan menunjuk Pastor Martin M. Anggut, SVD sebagai Administrator Diosesan Palangka Raya. Setelah Pastor Martin, seterusnya beberapa imam yang menduduki posisi itu selama sede vacante. Ada juga Mgr. Florensius Sidot, OFMCap pernah menjadi Administrator Apostolik Palangka Raya. Ia memimpin keuskupan ini kurang lebih tiga tahun dengan tidak banyak mengubah arah dasar pastoral keuskupan. Ia mengundurkan diri pada 14 Oktober 1999 karena faktor kesehatan.

Di tengah kekosongan ini dipilihlah Pastor Willibald Pfeuffer, MSF sebagai Administrator Diosesan. Setelah menjalani tugas selama 1,5 tahun, Takhta Suci memilih Mgr. Aloysius Maryadi Sustrisnaatmaka, MSF pada Rabu 14 Februari 2001. Misiolog bertitel Doktor ini ditahbiskan uskup pada 7 Mei 2001 di Gereja Katedral St. Perawan Maria Palangka Raya oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ. Pada Mei 2021 mendatang, genap 20 tahun masa episkopatnya.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP, Edisi No.18, Tahun ke-75, Minggu, 2 Mei 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here