Hans Küng, Ratzinger, dan Kita

261
Hans Küng (paling kanan) suatu saat berkunjung ke Indonesia berfoto bersama Pastor Franz-Magnis Suseno, SJ dan Penulis (Trisno S. Sutanto, kiri). (Foto: Dokpri: Trisno S. Sutanto)

HIDUPKATOLIK.COM – NAMA Hans Küng kembali banyak dibicarakan setelah ia wafat pada 6 April 2021 lalu. Sebab, dengan meninggalnya Küng, maka generasi para teolog raksasa yang membidani dan melahirkan Konsili Vatikan II (1962-1965) pun berakhir. Dari generasi itu, rasanya tinggal Kardinal Joseph Ratzinger — kini Paus Emiritus Benediktus XVI — yang sekaligus kolega dan “musuh bebuyutan” Küng. Cerita tentang persahabatan dan konflik keduanya, mungkin, dapat sedikit banyak melukiskan wajah ganda pembaruan Gereja yang kini kita warisi.

Sebab keduanya, sebagai peritus, memainkan peran penting dalam Konsili itu. Tetapi pasca Konsili, keduanya mengambil jalur berbeda dan sering terlibat dalam “pertarungan” sengit. Kita tahu Küng, setelah menerbitkan bukunya, Infallible? An Inquiry (1970), harus kehilangan venia legendi (hak mengajar sebagai teolog) pada Desember 1979.

Dan Ratzinger, yang saat itu menjabat sebagai Uskup Agung Munich, dalam khotbah akhir tahunnya, membela keputusan tersebut. Bagi Kardinal Ratzinger, “Umat Kristen adalah orang-orang yang sederhana; adalah tugas para Uskup untuk melindungi mereka dari kekuasaan para intelektual.”

Namun, bagi saya, warisan penting dari Küng bukanlah buku kontroversialnya soal infalibilitas. Juga bukan kritik-kritiknya yang sangat tajam dan keras, bahkan kadang keterlaluan, terhadap kebijakan Gereja. Ia memang seperti “anak nakal” (l’enfant terrible) dalam teologi.

Tetapi sikap kritisnya itu, menurut saya, lahir dari gairahnya sebagai seorang pengikut Kristus yang ingin bertanggung jawab atas pilhan imannya. Dalam karya klasik yang layak disebut sebagai magnum opus-nya, On Being a Christian (1984, aslinya Christ sein, 1974), sejak halaman pertama Küng merumuskan pertanyaan dasar yang sampai sekarang (dan akan terus) bergema: “Mengapa seseorang harus menjadi Kristen? Mengapa bukan menjadi manusia, sungguh-sungguh manusia? Mengapa, selain menjadi manusia, kita perlu menjadi Kristen? Apakah ada sesuatu yang lebih dengan menjadi Kristen ketimbang sekadar menjadi manusia?”

Hanya saja, di kalangan para teolog Katolik, buku Küng tidak disambut hangat. Pada 1976, terbit kumpulan esai di Jerman yang ditulis antara lain oleh Karl Rahner dan Ratzinger yang sangat kritis terhadap buku itu. Kritik Ratzinger di situ, seperti dilaporkan John L. Allen, Jr., koresponden NCR (National Catholic Reporter) di Roma (28 September 2005), sangat pedas. Ia menganggap buku Küng justru menodai landasan iman Kristen, dipenuhi arogansi intelektual, dan teologinya tidak berdasar.

Tentu saja penilaian Ratzinger itu membuat Küng berang dan perpecahan keduanya sudah tidak terjembatani lagi. Karena itu banyak harapan muncul saat pertemuan historis Paus Benediktus XVI dengan Küng pada 24 September 2005. Tetapi semua harapan itu kandas, termasuk harapan Küng sendiri. Kepada Der Spiegel (21 September 2011), yang mewawancarainya saat Paus berkunjung ke Berlin, Küng mengisahkan pertemuannya selama empat jam di rumah peristirahatan Paus di Castel Gandolfo, memang berlangsung akrab.

“Pada waktu itu, saya berharap momen itu akan menandai era keterbukaan baru,” kata Küng. “Tapi harapan itu kandas. Kami berkorespondensi beberapa kali. Namun sanksi terhadap saya, yakni pencabutan ijin mengajar saya, tetap berlaku.” Küng menilai, kunjungan Paus tidak akan berdampak banyak pada krisis yang dihadapi kekristenan di Barat. Ia malah menyebut kebijakan Paus sebagai “Putinisasi” dan membandingkan Paus dengan Vladimir Putin yang memusatkan kekuasaan di tangannya!

Nantinya, ia akan menaruh harapan besar pada Paus Fransiskus. Kepada Jimmy Burns dari The Tablet yang mewawancarainya tak lama setelah Kardinal Jorge Mario Bergoglio terpilih, Küng menuturkan harapannya: “Paus asal Argentina ini langsung memulai masa kepausan dengan gaya yang baru, dengan bahasa yang lugas dan kesederhaaannya. Ia menunjukkan dirinya sebagai manusia biasa, dengan meminta orang lain mendoakan dirinya” (The Tablet, 1 Februari 2014). Bahkan, menurut obituari yang ditulis Christopher Lamb di The Tablet (6 April 2021), pada 2016 Paus Fransiskus sepakat dengan usulan Küng untuk membuka dialog soal doktrin infalibilitas Paus.

Warisan Ganda

Wafatnya Küng mengakhiri “pertarungan” dua figur yang sudah menghiasi sejarah Gereja selama lebih dari setengah abad. Dan orang mulai melihat, jangan-jangan pertarungan itu, sebenarnya, mencerminkan wajah ganda Gereja di abad ke-20 dan kini memasuki milenium baru. Pada satu sisi, wajah Gereja yang didorong untuk terus menerus memperbarui dan membuka diri pada perkembangan dunia pasca Konsili Vatikan II; pada sisi lain, wajah Gereja yang tetap harus menjaga ajaran dan panggilan dasarnya dari Kristus sebagai tanda sakramental kehadiran Allah.

Küng mungkin mewakili sisi pertama dari wajah Gereja itu. Kita tahu, setelah kritik tajam terhadap buku On Being a Christian, Küng mencurahkan energi dan perhatiannya pada upaya membangun “Etika Global”, ekumenisme, dan dialog antar-agama maupun antarperadaban. Itulah warisan Küng yang utama dan akan selalu dikenang, karena ia meletakkan diktum pertama, bahwa tidak mungkin ada perdamaian tanpa saling pengertian antaragama. Tetapi, dari sudut lain, ziarah antaragama yang dijalani Küng, bisa dibilang, juga melanjutkan pertanyaan dasar tadi. Sebab bagaimana mempertanggungjawabkan pilihan untuk mengikuti Kristus dewasa ini, mau tak mau, harus bergumul dengan kenyataan pluralitas keagamaan. To be religious today is to be inter-religious, diktum kedua Küng.

Sementara Ratzinger, mungkin, mewakili sisi kedua dari wajah Gereja. Tak lama setelah menjabat sebagai Paus, buku karangannya terbit, Jesus of Nazareth (2007). Ini merupakan buku pertama dari trilogi yang menelusuri figur Yesus Kristus dan maknanya bagi kita.  Sudah banyak ulasan mengenai karya trilogi itu. Namun yang paling menarik bagi saya, adalah pengantar yang ditulis Paus sendiri dalam jilid pertama. Baginya, buku yang ia tulis merupakan “pencarian personal dalam usaha menemukan wajah Tuhan (Mzm 27:8)” dan “bukan ajaran resmi Gereja”. Karena itu, tulis Paus, “setiap orang boleh membantah saya. Saya hanya memohon agar pembaca memberi simpati, yang merupakan prasyarat saling memahami.” Sejauh saya tahu, ini buku pertama yang ditulis seorang Paus tanpa harus “berlindung” di balik wibawa magisterium!

Dan jika dibaca secara teliti, karya Paus itu, sebenarnya, merupakan sisi lain untuk menjawab pertanyaan dasar Küng. Jika Küng mengambil semacam detour lewat pergumulan kiwari dan dialog antaragama, Ratzinger menggali khasanah khas kekristenan yang sangat luas untuk memahami karya penebusan Allah dalam diri Yesus Kristus.

Persis itulah wajah ganda Gereja yang kini kita warisi dan hidupi.***

 

Trisno S. Sutanto, Esais, pernah belajar di STF Driyarkara, Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here