Merusak Salib dan Makam Umatku, Membuatku Semakin Katolik

378
Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka (kedua dari kiri) meninjau sejumlah makam yang dirusak.(Foto: Ist.)
5/5 - (1 vote)
HIDUPKATOLIK.COM – DUA BELAS makam Kristiani di Solo dirusak pada tanggal 16 Juni 2021. Dari 12 makam itu ada juga makam umat Katolik yang dirusak (bdk. voi.id, 21 Juni 2021). Berulang kali umat Katolik khususnya di Indonesia selalu mengalami penindasan baik itu secara verbal melalui kebohongan dan fitnah yang diutarakan didepan jemaat mereka yang mendengarkan kotbah atau ceramah, bom bunuh diri, pelarangan pembangunan atau renovasi rumah ibadah, penolakan pemakaman maupun yang ingin kontrak rumah atau ngekos hingga pengrusakan salib dan makam.
Pahit getirnya menjadi seorang Katolik di Indonesia sudah dialami dan terus dialami dalam aneka bentuk yang lain. Namun semua itu bukannya melemahkan iman ataupun memporak porandakan persekutuan umat Katolik, tetapi justru semakin menguatkan dan meneguhkan persekutuan umat Katolik.
Dengan kata lain penindasan apapun yang dialami oleh umat Katolik justru semakin menegaskan dan meneguhkan ke-Katolik-an yang 100% dan ke-Indonesia-an yang 100%. Artinya dengan segala bentuk pengrusakan simbol-simbol agama Katolik, justru menjadi jalan untuk mewartakan kebenaran ajaran iman Gereja Katolik sekaligus mempertegas keberdaan Gereja Katolik sebagai Garam dan Terang dunia (Bdk. Mat 5:13-16).
Berhadapan dengan setiap bentuk penindasan persekutuan umat Katolik justru semakin kuat bukan untuk membangun sebuah kekuatan demo berjemaah, melainkan untuk persatuan dan kesatuan NKRI. Dalam kesatuan itu suara cinta, kasih dan perdamaian diwartakan melalui doa dan pengampunan.
Dengan segala bentuk kekerasan yang dialami oleh Gereja Katolik, sejatinya menjadi jalan untuk menegaskan iman Katolik bahwa apapun yang dilakukan terhadap Gereja Katolik tidak akan pernah menghancurkan persatuan umat Katolik karena Yesus Kristus sendiri menjadi batu penjuru (Bdk. Kis 4:11) dan Roh Kudus selalu menyertai peziarahan umat Katolik di dunia termasuk doa Bunda Maria sebagai Bunda Gereja.
Foto untuk ilustrasi saja (Kopong Tuan MSF)
Meskipun tindakan merusak simbol-simbol agama Katolik adalah tindakan yang tidak terpuji dan boleh dikatakan sebagai tindakan biadap karena para arwahpun mendapatkan tindakan intoleran, di sisi lain saya mau mengatakan kepada mereka bahwa tindakan kalian yang merusak, kami yang menuai berkat karena dari Salib Yesus menjadi Jalan, Kebenaran dan Hidup (Bdk. Yoh 14:6) untuk menuntun semakin banyak orang mengikuti Dia dan dari makam Yesus bangkit membawa kedamaian dan damai sejaterah bagi semua orang untuk menjadi pengikut-Nya.
RP Yohanes Kopong Tuan, MSF, Misionaris MSF di Filipina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here