Uskp Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM: Inisiatif Allah yang Penuh Kasih

72

Minggu, 11 Juli 2021 Minggu Biasa XV, Am. 7:12-15; Mzm. 85:9ab, 10, 11-12, 13-14; Ef. 1:3-14; Mrk. 6:7-13

KETIGA bacaan pada hari Minggu ini menyajikan kepada kita sesuatu yang serupa sekaligus penting. Diingatkan, bahwa dalam hal relasi Allah dengan kita manusia, Allahlah yang lebih dahulu berinisiatif membangun relasi, melaksanakan karya keselamatan, mengikutsertakan kita dalam karya keselamatan dengan memilih dan mengutus kita. Nabi Amos (Bacaan Pertama) mengakui, bahwa ia bukan nabi, tidak termasuk golongan para nabi, melainkan hanya seorang peternak dan pemungut ara hutan. Tetapi “Tuhanlah yang mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba; Tuhan berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel” (Am. 7: 15). Demikian pula dalam Injil Markus dikisahkan, bahwa Yesus Kristuslah yang berinisiatif memanggil kedua belas murid dan bukan sebaliknya. “Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat …” (Mrk. 6:7-13).

Refleksi lebih luas dan dalam tentang inisiatif Allah kita temukan dalam Bacaan Kedua dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus. Penulis surat ini mengingatkan kita agar tidak lupa untuk senantiasa bersyukur atas rentetan inisiatif kasih Allah yang murah hati kepada kita. Allahlah yang “telah memilih kita sebelum dunia dijadikan” (Ef. 1:4). Dalam kasih, Ia “telah menentukan kita menjadi anak-Nya, … sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (Ef. 1:5), yang tidak lain adalah “rencana kerelaan yang dari semula ditetapkan-Nya di dalam Kristus” (Ef. 1:9). Allah jugalah yang – dalam Kristus – berinisiatif “mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di surga” Ef. 1:3); Dan memberi jaminan – dalam Roh Kudus – bahwa kita akan memperoleh seluruh warisan” (Ef. 1:14).

Kiranya ayat-ayat yang indah di atas mengandung pesan yang penting dan membantu kita memberi makna yang khas bagi tiga keutamaan dasar yaitu iman, kasih dan harapan. Beriman Kristiani, menjadi pemeluk agama kristiani tidak berarti pertama-tama kita harus melakukan peraturan, kewajiban tertentu agar pantas di hadapan Allah, agar mendapat anugerah keselamatan. Beriman kristiani berarti terutama mengalami dan mengakui, bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, melimpahkan aneka ragam anugerah keselamatan secara gratis, tanpa jasa dari kita, bahkan ketika kita masih berdosa. Karena itu, beriman Kristiani hanya dapat dihayati dan dihidupi dalam kerendahan hati dan penuh syukur.

Bila yang pertama dalam agama kristiani bukan kewajiban untuk melakukan perintah dan peraturan; Bila sebaliknya yang pertama adalah pengalaman dikasihi oleh Allah, maka kebajikan dan tindakan cinta kasih bukan sebuah beban yang harus dipenuhi agar berkenan pada Allah. Kebajikan dan tindakan cinta kasih lebih dihayati sebagai ungkapan syukur untuk membagikan apa yang telah dialami, yaitu kasih dari Allah itu sendiri. Kepada kita telah diberikan terlebih dahulu, apa yang kemudian ‘harus’ kita lakukan, yaitu mengasihi sesama, bahkan musuh sekalipun. Kebajikan dan perintah cinta kasih hendaknya kita terima dalam horison perjumpaan dengan Dia yang telah lebih dahulu bermurah hati. Karena itu tindakan cinta kasih – sebagaimana halnya tindakan beriman – juga kita laksanakan dan hayati sebagai ungkapan syukur dan dalam kerendahan hati.

Bahwa Allah “telah memilih kita sebelum dunia dijadikan”, telah “menentukan kita menjadi anak-Nya” dan “mengaruniakan segala berkat rohani di surga” serta “memberi jaminan dalam Roh Kudus”: Itu semua menjadi landasan kuat untuk senantiasa memelihara harapan. Adapun harapan itu lebih dari sekadar perasaan optimis. Kalau menurut perhitungan manusiawi, kita berhadapan dengan aneka kesulitan dan keterbatasan, selayaknya kita kehilangan optimisme dan menjadi pesimis. Tetapi dalam situasi seperti itu pun kita tetap harus dan akan mampu memelihara harapan. Tugas yang dipercayakan sebagai nabi (seperti Amos), sebagai yang dipanggil dan diutus (seperti kedua belas rasul) seringkali membawa konsekuensi yang tidak mudah, melampaui kemampuan kita sebagai manusia. Tetapi harapan tetap tidak boleh hilang, mengingat inisiatif kasih Allah yang melimpah.

“Beriman Kristiani hanya dapat dihayati dan dihidupi dalam kerendahan hati dan penuh syukur.

HIDUP, Edisi No.28, Tahun ke-75, Minggu, 11 Juli 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here