Saat Italia Juara Euro, Terkenang Kenangan Tak Terlupakan di Kota Abadi

196
Hotel tempat kami menginap. Dulunya hotel ini adalah biara. (Foto: Ist.)

HIDUPKATOLIK.COM – KERIUHAN sukacita rakyat Italia di plaza-plaza dan jalan-jalan Kota Roma, sesaat setelah  Italia juara di Euro 2020, membuat saya terkenang perjalanan ke Kota Abadi ini delapan tahun lalu. Tepatnya 20 Juni 2013 sore, kami keluarga berjumlah tujuh orang berangkat dari bandara Hamburg, Jerman.

Perjalanan ziarah kali ini memang sekalian menengok anak yang kuliah di Jerman. Kami menggunakan pesawat EasyJet, budget airline, dengan tarif sekitar dua juta rupiah per orang. Setelah terbang sekitar dua jam, pesawat mendarat mulus di runway Bandara Fiumicino, Roma (bandara  yang umumnya melayani penerbangan antara negara Eropa).

Keluar dari Terminal 2, langit masih cukup terang, padahal sudah sekitar pukul 7 malam. Suster Valen, seorang suster Putri Karmel yang sedang kuliah di Kota Abadi ini, telah menyambut dengan senyum dan tawa gembira. Anak kami yang mengenal suster, memang sudah janjian jauh hari dan bahkan minta tolong dicarikan taksi dan hotel.

Dengan ramah, kami diterima seorang suster penerima tamu (keempat dari kanan) di pintu utama hotel. (Foto: Dokpri)

Setelah saling menyapa, kami dibawa oleh Suster Valen menuju area parkir menuju taksi. Dan… seorang lelaki tinggi muda, berdasi dan berjas hitam rapi sekali dengan ramah menyambut kami, bahkan membantu kami membawa koper. Surprise juga, lelaki keren ini ternyata supir taksi kami. Berikutnya kami diarahkan ke minibus mewah merk Mercy. Wow benar-benar kejutan. Baru pertama kali kami naik minibus mewah seperti ini. Waktu itu saya hitung sewa talsi ini dari bandara ke hotel, sekitar 700 ribu. Tidak terlalu mahal juga, karena kami bertujuh plus suster.

Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan relatif lancar, sekitar satu jam 15 menit, kami tiba di Hotel Operaie della Croce, yang sangat unik.  Karena hotel ini, bangunan lima lantai plus rubanah, semula adalah biara susteran.

Di beberapa negara Eropa memang terjadi tren perubahan fungsi biara-biara dan gereja-gereja tua. Sebagai contoh di Kota Maastricht, Belanda, dekat perbatasan dengan Jerman, ada gereja tua yang beralih fungsi menjadi toko buku modern lengkap dengan café di bagian yang dulunya adalah altar.

Masih di Belanda, ada resort milik pengusaha Indonesia, lengkap dengan lapangan berkuda dan istalnya, ternyata dulunya adalah biara. Selain di Belanda, hal ini juga terjadi di negara-negara Eropa lainnya. Bahkan di Roma yang berbatasan dengan Vatikan, sebagai pusat Gereja Katolik Roma, kondisi memprihatinkan ini juga terjadi.

Cukup banyak biara-biara tua yang berubah fungsi menjadi hotel. Biara kekurangan biarawan-biarawati, sehingga kosong. Untuk mengatasi ini, ada biara yang dijual, namun ada juga yang hanya beralih fungsi. Hotel yang kami inap waktu itu, termasuk hanya beralih fungsi. Pengelola hotel ditangani oleh para suster yang semuanya sudah lanjut usia.

Saat itu kami disambut dua orang suster yang sangat ramah dan penuh senyum, walaupun mereka hanya dapat berbahasa Italia. Untung saja kami didampingi Suster Valen sehingga komunikasi lancar dan penuh canda.

Unik, karena hotel ini berbeda dengan hotel pada umumnya. Kami tidak menemukan TV baik di kamar maupun di lobby.  Juga tidak ada AC, lift, fasilitas gym, atau lounge mewah. Bangunan biara tetap dipertahankan apa adanya. Sehingga semua serba sederhana. Namun sangat bersih dan nyaman. Satu fasilitas yang sangat jarang kita jumpai di hotel biasa, adalah kapel. Bahkan ada dua kapel di hotel ini. Yang satu cukup besar, mungkin dapat menampung sekitar 60 orang. Satunya kapel kecil, lebih cocok sebagai ruang doa untuk 10 orang.

Saat kami berkunjung, kapel ini tetap dipertahankan. (Foto: Ist.)

Yang juga unik, di meja ruang tamu saya tidak menemukan majalah ataupun koran, yang saya temukan adalah satu buku tebal dan besar, hardcover. Pada halaman muka ada foto seorang Bapak Paus bertubuh gemuk. Karena saya suka membaca, maka saya buka-buka buku ini. Sayang judul dan isi ditulis dalam Bahasa Italia, yang saya tidak paham.

Namun ada satu kata dari judul yang mudah dibaca karena merupakan nama Sri Paus ini, tertulis Giovanni XXIII. Saat itu saya sungguh tidak tahu paus siapa ini, kok namanya sangat asing. Belakangan saya baru tahu, ternyata  Giovanni (Italia) = John (Inggris) = Johanes (Indonesia). Ternyata ini buku riwayat hidup Paus pencetus Konsili Vatikan II. Tokoh yang dipakai Tuhan untuk mengubah wajah Gereja Katolik secara besar-besaran.

Paus Yohanes XXIII (Foto: Ist.)

Kami semua merasa bersyukur dapat menginap di hotel unik dan mengesankan ini. Pengalaman yang akan terus menjadi kenangan bagi kami. Walau sisi lain kami juga sedih dan prihatin akan kondisi panggilan di negara-negara yang dulu sangat subur akan panggilan dan bahkan melimpah sehingga banyak melakukan misi ke mana-mana, termasuk ke Indonesia. Kondisi umat juga memprihatinkan. Jumlah umat yang menghadiri Misa makin lama makin berkurang, membuat gereja lengang saat Misa.

Kami menikmati sejenak kebersamaan di halaman belakang hotal. (Foto: Dokpri)

Semoga kondisi ini terus menerus dapat dijadikan pelajaran bagi Gereja Katolik di Indonesia. Kita sebagai bagian Gereja Indonesia juga dapat berperan, bagaimana kita mendampingi pertumbuhan iman anak cucu kita, sangat menentukan masa depan Gereja. Semoga  sepuluh atau dua tahun mendatang, Gereja di negara kita tercinta ini tetap bertumbuh dan menghasilkan banyak buah.

Fidensius Gunawan, Kontributor, Alumni KPKS Tangerang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here