Kekritisan, Mengapa Kini Makin Diperlukan

40
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – DALAM survei Badan Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada tahun 2019 tentang minat baca, Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara. Orang Indonesia menghabiskan sekitar sembilan jam sehari di depan gawainya. Angka ini berbanding terbalik dengan data pengguna internet di negeri ini yang menempati posisi kelima. Survei ini patut membuat kita khawatir dengan masa depan bangsa ini. Menkominfo dalam lamannya mengungkap keprihatinan, “Coba saja bayangkan, ilmu minimalis, malas baca buku, tetapi sangat suka menatap layar gadget berjam-jam, ditambah paling cerewet di media sosial pula. Jangan heran, jika Indonesia jadi sasaran empuk untuk info provokasi, hoaks dan fitnah” (Kominfo.go.id).

Dalam bukunya, Frame Analysis, Erving Goffman melihat bahwa pengalaman konkret itu amat rentan untuk dipalsukan dan dieksploitasi. Masyarakat kita penuh dengan proses pembingkaian sosial yang subyektif guna mendukung sebuah kebohongan yang bisa jadi merusak (Bab 12). Pembingkaian sosial atau usaha untuk mempengaruhi orang lain melihat realitas dari sudut pandang yang sama itu netral, bisa positif, bisa negatif. Namun, dalam kecenderungan merusak hidup masyarakat, amat terasa akhir-akhir ini. Melalui pembingkaian sosial tertentu, masyarakat dibuat semakin malas berfikir, lalu secara sentimentil dan memutuskan banyak hal atas dasar ikatan-ikatan primordial (ikatan-ikatan paling dasar – suku, agama, dan sebagainya). Sangatlah mengkhawatirkan ketika masyarakat kehilangan nalar kritis. Masyarakat kita menjadi mudah sekali dipecah belah.

Bingkai Sosial

Saya bertugas di bidang dialog lintas iman. Dalam pertemuan-pertemuan dengan umat, saya menemukan dua pembingkaian sosial yang mengusik umat Katolik. Kata pertama adalah kata Minoritas. Menurut KBBI, minoritas adalah golongan sosial yang jumlah warganya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan golongan lain dalam suatu masyarakat dan karena itu didiskriminasikan oleh golongan lain itu. Kata ini digunakan untuk mendobrak diskriminasi, misalnya saja terhadap kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Dalam konteks Indonesia, kata minoritas ini mulai diterima untuk menunjuk umat Katolik. Tentu ini adalah bagian dari proses panjang sehingga kita mulai menerimanya sebagai kebenaran. Padahal, umat Katolik di Indonesia memang berjumlah kecil, tetapi tidak didiskriminasi karena kekecilannya. Kita diakui sebagai sesama warga negara (pemilu dihitung sama, hak di hadapan hukum sama, dan sebagainya). Maka, sebutan minoritas ini semestinya tidak menjadi bagian dari identifikasi diri orang Katolik. Kita memang berjumlah kecil, tetapi kita adalah sama-sama warga Negara Indonesia.

Kata kedua adalah kata Kafir. KBBI mengartikan kata ini sebagai orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya. Ungkapan ini hanya menunjuk kepada orang di luar Islam, tanpa ada ada makna merendahkan mirip dengan kata Infideles (orang tidak beriman) dalam Gereja kita. Sayangnya ada pembingkaian sosial yang menunjuk pada berbeda agama dan posisinya lebih rendah. Tanpa ada upaya kritis, semakin meranalah orang Katolik di negeri ini.

Berpikir Kritis

Minat membaca dan menganalisis suatu hal bisa jadi salah satu pintu masuk untuk lebih mampu membaca pembingkaian sosial. Dua hal yang bisa dilakukan adalah langkah verivikasi dan falsifikasi. Verifikasi adalah upaya pemeriksaan tentang laporan, pernyataan, perhitungan. Verifikasi menghindarkan kita dari berbagai macam hasutan yang seringkali lahir dari pembingkaian sosial. Sementara Falsifikasi artinya pengguguran suatu teori (bingkai sosial) melalui fakta-fakta. Contohnya, ketika karena kenyataan terorisme orang Katolik sampai pada ketakutan berlebih kepada orang Islam, lalu melalui perjumpaan dilihatlah lebih dekat kehidupan orang Islam. Faktanya lebih banyak saudara-saudari yang baik di kalangan Muslim.

Melalui Falsifikasi dan Verifikasi, kita dibantu untuk mengenali bingkai-bingkai sosial dan menghindar dari kemungkinan yang merusak. Ke depan, kemampuan berpikir kritis amat diperlukan. Gereja Katolik, dari zaman ke zaman, dikenal oleh karena kemampuan berpikir kritisnya. Semoga kita tidak menyumbang kepada sikap-sikap sentimentil di masyarakat, tetapi menyumbang kemampuan bernalar kritis di dalamnya. Tetap gunakan akal kritis kita untuk menyelamatkan Indonesia.

“Tanpa ada upaya kritis, semakin meranalah orang Katolik di negeri ini.”

Romo Martinus Joko Lelono, Pr, Pastor Paroki St. Mikael Pangkalan TNI-AU Adisutjipto/Doktor Bidang Lintas Agama ICRS, Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here