Romo Karl-Edmund Pier: Setengah Abad Memperjuangkan Inkulturasi

72
Romo Karl-Edmund Prier (Foto: HIDUP/Karina/Chrisyantika)

HIDUPKATOLIK.COM – DESEMBER 2019, “nakhoda” PML, Daerah Istimewa Yogyakarta, Romo Karl-Edmund Prier, SJ merayakan pesta 50 tahun tahbisan imamat. Tahun ini, giliran PML yang merayakan sukacita pesta emas tersebut.  PML merupakan bagian dari Yayasan Pusat Kateketik (PUSKAT) yang didirikan oleh Serikat Yesus (SJ) pada tahun 1971.

Lembaga ini terkenal memperjuangkan musik Indonesia  atau inkulturasi yang menurut Romo Prier berarti membuat musik yang berpangkal pada budaya asli yang dihayati karena itu merupakan identitas sebagai musik Gereja Indonesia.  Berikut petikan wawancara dengan kelahiran Weinheim, Jerman, 18 September 1937 ini saat dikunjungi HIDUP di PML, Jumat, 28/5/2021.

Bagaimana peran PML di Indonesia sampai saat ini?

Mula-mula, PML didirikan 50 tahun yang lalu untuk merealisir pembaruan musik liturgi, secara khusus musik inkulturasi. Intinya PML mengisi suatu kekosongan.  Asalnya dari kekosongan. 50 tahun yang lalu setelah Konsili Vatikan II, itu belum ada lagu-lagu baru. Awalnya kita melayani dengan menerjemahkan lagu dari luar kemudian mulai menciptakan baru dengan mengadakan lokakarya  untuk mengundang orang lain. Maka, lokakarya diadakan di daerah-daerah. Kami berhenti dulu karena pandemi namun undangan sudah ada dari Flores untuk buat lokarya, juga GKI Semarang.

PML berjuang dalam meningkatkan mutu musik Gereja. Maka PML mengadakan Kursus Musik Gereja, Kursus Organ Gereja Jarak Jauh (KOGJJ), Kursus Organ dan Vokal Anak (ORVO) untuk siswa kelas 1 – 6 SD dan Kursus Organ dan Ansamble “Con Brio”  untuk para siswa kelas 1 -3 SMP. Jadi dapat dikatakan PML satu-satunya instansi yang mendidik organis Gereja. Mungkin lembaga lain yang mendidik main organ juga tapi mostly itu pop sehingga PML tidak sama.

Musik Gereja harus hidup. Kami memproduksi buku-buku agar sejak dini yang bermain organ itu tangan kirinya ikut bergerak tidak hanya menahan dan tidak malas memencet tuts. Buku-buku yang kami produksi juga salah satunya materi tentang menjadi organis Gereja. Intinya, tidak sekadar main musik, tapi dengan hati. Ya, liturgi itu membutuhkan hati, tidak asal bunyi.

PML menyediakan berbagai macam kursus, beberapa di antaranya ada Kursus Organ dan Vokal Anak (ORVO) siswa kelas 1-6 SD dan Kursus Organ dan Ansamble “Con Brio”  siswa kelas 1-3 SMP. Bagaimana membuat kursus ini menjadi menyenangkan untuk anak-anak serta remaja?

Tentu, materi kursus untuk anak-anak dan cara penyampaiannya berbeda. Cara mengajarnya serta lagu-lagunya. Kursus ini ada agar minat, bakat bermusik itu dipupuk dari dini. Kursus “Con Brio” juga diajari bejara musik gamelan dan alat musik lainnya sebagai perkenalan musik inkluturasi para generasi muda.

Sejauh yang kami lihat, usia tingkat 1-3 SMP memang ada yang kurang tertarik sama gamelan, tapi ketika mereka mau mencoba memainkan, mereka menjadi antusias. Apalagi setelah mereka menciptakan bunyi bersama.

Pemilihan lagu disesuaikan dengan jiwanya anak-anak dan remaja. Beberapa karyawan saya juga pengajar, salah satunya Dominikus Danan Murdyantoro, biasanya yang melatih gamelan (karawitan), lalu Yohanes Wahyudi mengajar angklung. Ya, ini nampaknya bahwa PML selalu akan jalan.

Dua tahun lalu (2019), PML kehilangan sosok Paul Widyawan. Bagaimana situasi PML kala itu dan apa rencana ke depan?

Semenjak kami tahu, Paul sakit, ya kami sudah menduga adanya kemungkinan perubahan. Awalnya kami juga tidak tahu apa yang akan dibuat setelah Paul berpulang tetapi sekarang sudah jelas. Mengenai Paduan Suara Vocalista Sonora akan dilanjutkan karena untuk membawa lagu-lagu baru. Kemudian bahwa inkulturasi yang dirintis dan diperjuangkan oleh Paul, jelas masih menjadi tugas kami untuk melanjutkannya. Begitu juga dengan lokakarya akan jalan terus, karena pandemic, jadi belum dilaksanakan kembali.

Memang, kami sangat kehilangan Almarhum. Seperti ada lubang di PML dan dengan demikian PML harus sadar menambal lubang tersebut. Kami memulai dengan menggali tulisan-tulisan Paul lalu dibukukan sebanyak tiga jilid, sehingga tidak hilang. PML harus jalan terus. Nantinya, orang yang akan menggantikan saya pun sudah harus bisa membuat aransemen sehingga ada sesuatu yang baru. Kami juga merekrut dua tenaga baru yang memang hatinya di PML. Semoga dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Paul.

Apa yang diharapkan untuk PML dalam usia ke-50 ini?

Pertama-tama, saya berharap PML bisa bekerja sama lebih intens dengan semua pihak, contoh dengan Komisi Liturgi (Komlit) Jakarta lalu dengan keuskupan-keuskupan, generasi muda, juga dengan golongan lintas agama. Kedua, bahwa penghargaan budaya di Indonesia menjadi lebih peka. Menurut saya, tidak perlu malu kalau kita mempunyai lagu-lagu daerah, misalkan dari Flores, Maluku, dan sebagainya. Kita menimba dari kekayaan daerah-daerah.  Justru lagu-lagu seperti itu harus dimainkan dengan baik.

Romo Karl-Edmund Pier, SJ (di tengah, mengenakan topi abu-abu) bersama para karyawan PML dan Toko PUSKAT.
(Foto: Dok. Pusat Musik Liturgi)

Kemudian, teknik vokal juga perlu diasah.  Maka itu, saya berharap musik Gereja yang kita buat itu menyentuh hati, membangkitkan semangat dan saya kira itu tepat bahwa cara bermusik yang diajarkan di PML adalah penjiwaan, sampai membuat hati orang tergerak. Ini adalah kunci dan modal kami untuk masa depan. Visi PML memperjuangkan musik yang khas Indonesia (lagu dan alat musik tradisional), terutama musik ibadat seni dengan syair berbobot, yang menyentuh hati (afektif) karena berakar dalam kekayaan musik tradisional sehingga menjadi pegangan iman untuk hidup di zaman sekarang demi kemuliaan Allah dan damai bagi umat manusia.

Di samping itu, saya sangat berharap segenap warga Gereja menghargai budaya dan tidak

melihat ke luar. Semoga selalu mempunyai hati, mempunyai kepedulian terhadap musik asli dan budaya Indonesia.

Lima puluh tahun berkutat dengan inkulturasi, apakah PML tidak bosan, Romo?

Menurut saya, perjuangan PML selama 50 tahun mengalami pekembangan. Salah satunya eksperimen insidental yakni ketika Vocalista Sonora menyanyikan lagu “Raja Agung” dengan aransemen SATB homofon, menjadi “profesional” dalam Lokakarya Komposisi bersama  Liberti Manik (1977-1979).

Selain itu, inkulturasi di PML tidak hanya terdiri dari lokakarya komposisi. Kami mencari bunyi dari alat musik tradisional yang terdapat di PML untuk mengiringi lagu inkulturasi termasuk juga di sini iringan lagu pentas Vocalista Sonora, membuat iringan organ khas gaya Jawa, Batak, Dayak, dan lainnya. Kemudian alat musik tersebut juga kami pakai untuk  iringan lagu Mazmur alternatif yang berganti-gantian tiap pagi dalam ibadat bersama semua karyawan PML termasuk karyawan Toko PUSKAT.

Akhirnya inkulturasi dirumuskan dalam seri buku ilmiah berjudul Inkulturasi Musik Liturgi yang dipakai beberapa mahasiswa sebagai sumber pustaka menulis skripsi. Artinya, selama 50 tahun menangani inkulturasi tidak sama, tidak pernah membosankan karena ini suatu proses hidup.

Karina Chrisyantia

HIDUP, No.27, Tahun ke-75, Minggu, 4 Juli 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here