RINDU ROMO STORMAN

49

HIDUPKATOLIK.COM – “SUATU hari aku akan mengatakan kepada romo muda itu, berhentilah memamerkan gaya hidupnya,” kata Jaka mengawali percakapan di suatu pagi.

“Kenapa begitu,” sahut Martin yang duduk tepat di depannya sambil menghisap sebatang rokok yang baru saja dinyalakannya.

“Bagaimana tidak, ini kan masa orang susah, tak terhitung berapa ribu orang yang kehilangan pekerjaannya karena wabah gila ini.”

“Kau sendiri kan dipecat gara-gara virus edan yang entah kapan akan hilang ini, dan hingga kini kau pun tak punya kerja pasti,” kata-kata Jaka terus mengalir.

Martin yang mendengar perkataan Jaka pun hanya tersenyum. Tak tahan, ia pun ikut menimpali.

“Memang apa yang kau lihat dari romo muda kita itu,” sahut Martin, “bukankah ia ramah, dan banyak anak OMK pun banyak yang suka padanya, terutama yang putri.”

“Bayangkan, semalam di grup OMK ia pamer babi panggang sebagai menu makan. Katanya, di pastoran ada pesta ulang tahun romo paroki.”

“Apa dia tidak berpikir, di grup Whatsapp itu kan ada orang macam kau, yang tak punya kerja, yang harus bersusah payah mencari makan. Ingin pamer kukira romo muda itu.”

“Sudahlah, dia kan tidak minta dari kau, atau mencuri. Mengapa kau harus protes, memang ada masalah apa kau dengannya,” timpal Martin.

“Tak ada, aku tak punya masalah dengannya. Aku juga tak melarangnya makan makanan sultan itu, aku juga tidak iri. Tapi, tidak seharusnya ia melakukan itu di saat semacam ini.

“Tak perlu juga dia mengirimkan fotonya ke kita semua. Bahkan aku lihat, ia juga menaruh foto itu di story Whatsapp-nya. Apa dia tidak berpikir, mungkin ada juga umat miskin yang melihat dia memamerkan babi panggang itu.”

***

Obrolan di Sabtu pagi itu semakin seru dengan kedatangan Ansel. Setelah memesan segelas kopi, ia langsung bergabung dengan kedua teman yang lain, meriung di warung kopi di seberang Gereja Paroki Santa Maria Assumpta itu.

“Ah kukira itu lah enaknya menjadi romo. Minggu lalu aku lihat sepatu barunya, saat ia naik sepeda bersama seorang romo muda lain dan beberapa OMK. Kukira mahal juga harganya, juga sepedanya itu, yang kudengar pemberian dari pak Hartono, pengusaha terkenal itu,” sahut Ansel.

“Kau iri barang kali Jaka,” lanjut Martin.

“Bukan iri, maksudku, di masa pandemi ini, bukankah banyak umat yang hidupnya menjadi semakin susah. Janda di rumah kecil di pojok jalan itu misalnya, bukankah dua bulan lalu kita sendiri yang mengantar bantuan sembako untuknya. Kau tau sendiri bagaimana hidupnya. Kudengar tak ada lagi bantuan yang diberikan lagi kepadanya kini.”

“Bukankah seharusnya para romo itu ikut memikirkan kehidupan janda-janda semacam itu. Padahal rumahnya hanya sepelemparan batu saja dari pastoran,” kata Jaka sambil bersungut mukanya.

“Haha, memangnya kau berani Jaka, mengatakan kepada romo muda kita itu. Kau tak ingat, bagaimana romo itu memperlakukan Rendy, setelah anak itu tak sengaja menuangkan segelas kopi ke kaos romo itu. Sampai saat ini, kukira romo itu masih tak mau menjawab sapaan Rendy, kalau kebetulan keduanya bertemu,” ujar Martin.

“Nah itulah, bukankah seharusnya romo itu menjadi lebih empati dibanding kita,” timpal Jaka.

“Kalian ingat dengan Romo Van Storman, yang mengajak kita piknik ke pantai. Kau pasti ingat baju apa yang ia pakai saat itu, entah sudah berapa lama usia baju itu, sebab ibuku sudah pernah melihat romo itu memakai baju yang sama, bahkan sebelum ibuku menikah dengan ayahku,” kata Jaka.

***

Matahari semakin terik, seiring semakin jauh ia meninggalkan timur kota. Suara burung-burung yang hinggap di pohon-pohon akasia di depan gereja pun semakin riuh bersaut. Warung kopi yang satu jam yang lalu hanya ada Jaka, Martin, dan Ansel, kini sudah bertambah lima atau enam orang di sana, mereka di depan meja-muja kecil di warung itu.

Di meja tempat Jaka, Martin, dan Ansel duduk, ketiganya lalu mengenang Romo Storman, yang bertugas di paroki itu beberpa tahun silam. Penjual kopi di depan gereja itu, yang agamanya Islam dan bukan Katolik, bahkan masih mengingat, imam itu selalu datang ke warungnya setiap sore hari, hanya untuk menanyakan kabarnya. Penjual itu juga ingat, saat putrinya hampir-hampir tak bisa menyelesaikan sekolahnya di SMK bercat hijau di samping Pasar Seroja, karena tak ada lagi biaya. Bukankah Romo Storman yang lalu membantunya.

“Aku juga kangen padanya, Jaka. Romo Storman lah juga yang menyelamatkan keluargaku, saat ayahku hampir-hampir meninggalkan ibuku dengan wanita teman kantornya itu,” kenang Martin.

“Itulah, aku hanya ingin, mereka, romo-romo itu, lebih banyak peduli pada orang-orang di sekitar gereja. Aku lebih bangga melihat romo yang setiap kali datang ke rumah-rumah umat miskin, meski mereka tak membawa apapun untuk mereka, daripada melihat mereka mamerkan foto mereka berpindah-pindah tempat wisata di masa pandemi virus korona seperti saat ini,” kata Jaka melanjutkan.

***

Kopi di gelas milik Martin yang tadi penuh, saat ini tinggal setengahnya. Sosok mantan ketua OMK, yang baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai pegawai bank itu, lalu menatap ke arah papan nama gereja tepat di depannya. Di papan nama itu tertulis jelas nama pelindungnya, Santa Maria Assumpta.

Bayangnya, kalau Ibu Yesus itu hidup di masa susah seperti ini, barangkali ia akan bisa membantu orang-orang yang kini mencari sesuap nasi saja menjadi terlalu susah dilakukan. Mungkin, orang kudus itu akan meminta kepada Putra-nya, untuk membuat mukjizat, seperti yang pernah dilakukannya di hadapan 5000-an orang di dekat Bethsaida.

“Tapi yang kulihat kini, memang lebih banyak romo yang bangga kalau dia bisa jalan-jalan ke banyak tempat wisata di Eropa, dari pada yang menunjukkan perhatiannya pada pendidikan anak-anak, yang tiap hari mengamen di sekitar Pasar Seroja itu,” keluh Ansel.

“Benar katamu, sebenarnya aku pun tak melarang, romo-romo itu mengenakan pakaian seperti apa dan berapa pun harganya. Mungkin aku hanya rindu pada seorang romo seperti Romo Storman itu. Entah lah, semoga saja keluhku ini hanya sebatas prasangka, janganlah mereka menjadi tergoda pada dunia yang kita sendiri kadang sudah lelah menghadapinya,” kata Jaka.

Jalan di depan gereja di tepian kota itu memang tak terlalu ramai, apalagi di siang hari yang terik seperti saat itu. Suara motor yang setiap saat berlalu, menjadikan hari-hari lebih semarak. Di saat itulah, ketiga anak muda itu pun beranjak dari warung kopi tempat mereka meriung itu.

Barangkali, omongan mereka pun tidak memiliki arti apa-apa dan mungkin juga akan segera dilupakan, seperti kata Jaka yang ingin menegur romo muda di parokinya itu. Satu lagi yang tersisa, adalah kerinduan pada romo, seperti Romo Storman, yang juga rela membantu orang-orang seperti penjual kopi di depan gereja itu.

Oleh Antonius E. Sugiyanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here