Ziarah ke Portiuncula, Pengalaman yang Tak Terlukiskan dengan Kata-kata

75
Para peziarah di depan Basilika Santa Maria degli Angeli yang ingin menerima Indulgensi Portiuncula. Foto diambil tahun 2018.

HIDUPKATOLIK.COM – Basilika Maria degli Angeli di Kota Assisi adalah salah satu tempat ziarah yang diminati orang muda dari penjuru Italia dan negara-negara Eropa. Setiap tanggal 1-2 Agustus, sebelum masa pandemi, berbondong-bondong orang muda Katolik datang ke Basilika yang di dalamnya terdapat satu kapel yang sangat bersejarah bagi Santo Fransiskus dan para pengikutnya hingga kini. Mereka ingin memperoleh berkat Indulgensi Portiuncula. Berikut ini cuplikan pengalaman dua orang Indonesia yang pernah berziarah ke Basilika ini.

Sdr. Gabriel Benediktus Benteng Kurniadi Singarimbun, OFMConv
Hakim Tribunal KAM & Dosen Hukum Gereja di STP St. Bonaventura KAM:
Bahagia Menjadi Dina

Nama Basilika Santa Perawan Maria dari Para Malaikat dan Porciuncula sering terdengar semenjak Masa Postulan hingga masa frater di STFT St. Yohanes Pematangsiantar, Sumatera Utara. Pada saat itu muncul rasa penasaran sekaligus kerinduan ingin mengunjungi tempat itu.

Pada tahun 2006 dan 2019 saya berkesempatan mengunjungi dan berziarah ke Basilika itu. Dalam sejarah, Basilika Porciuncula adalah sebuah gereja kecil (kapel) yang dikelilingi hutan dan merupakan gereja ketiga yang St. Fransiskus setelah dia mendengar suara yang berasal dari salib berkata “perbaikilah Gereja-Ku” pada saat berdoa di Gereja San Damiano.

Meskipun kecil, tempat ini menjadi tempat bersejarah (rohani) dan momen penting bagi panggilan Fransiskus dan juga saya, karena, pertama, pada bulan Februari tahun 1208, hati Fransiskus sangat bergelora dan dipenuhi dengan sukacita saat mendengarkan Injil “Pergilah dan Wartakanlah Kerajaan Allah sudah dekat. Jangan kamu membawa emas, perak ataupun bekal. Apa yang kalian terima dengan cuma-cuma, berikanlah juga dengan cuma-cuma” lalu dia berkata dalam hati “inilah yang kuinginkan, ini yang ingin kulaksanakan dengan segenap hati”.

Kedua, tempat Fransiskus menerima para saudara awal yang ingin bergabung dengannya dan mengutus para saudara mewartakan Damai. Di sini juga Kapitel I para saudara. Ketiga, pada hari Minggu Palma (tahun 1211) malam, Fransiskus menerima Santa Klara dari Assisi dan membaktikan dirinya kepada Tuhan.

Keempat, pada tahun 1216, pada saat Fransiskus tenggelam dalam doa dan kontemplasi, dia melihat altar yang bercahaya berkilauan dan Bunda Maria di sebelah kanan altar dikelilingi para malaikat. Dalam doa ini terjadi komunikasi antara Fransiskus dengan Tuhan. Tuhan berkata “apa yang kamu kehendaki bagi keselamatan jiwa-jiwa? Maka Fransiskus menjawab, “Bapa yang Kudus, meskipun aku adalah pendosa yang malang, kumohon dengan sangat bagi para pentobat dan mengaku dosa yang mengunjungi tempat ini, Engkau menganugerahkan berlimpah kemurahan ampun atas semua kesalahan dan dosa.”

Dalam “kekecilannya”, Porciuncula menjadi tempat perjumpaan antara yang ilahi dan manusiawi, tenggelam dalam keheningan doa dan kontemplasi, dialog antara seorang aku dan Engkau, wartakanlah Injil dan beritakanlah damai, wartakanlah pendamaian dengan sesama dan Allah demi keselamatan jiwa-jiwa. Suatu perjumpaan yang membuahkan panggilan hidup mengikuti Kristus secara radikal “apa yang kamu terima secara cum-cuma, berikanlah juga secara cuma-cuma” dan keselamatan bagi banyak jiwa.

Sebagai Fransiskan, semoga pengalaman Porciuncula bisa menjadi kekuatan dalam panggilan. Pertama, bahagia menjadi “kecil, dina”. Tidak sedikit orang takut menjadi “kecil, dina” karena dianggap bodoh, lemah dan tak berguna. Dalam kedinaan, seorang fransiskan menjadi sarana dan saksi kemuliaan dan kebesaran Tuhan, mengandalkan Tuhan dalam kehidupan nyata sehingga meskipun lemah, aku kuat (2Kor. 12:10). Kedua, bersyukur, dalam kedinaanku, Tuhan memakai diriku untuk berbagi kemurahan hati-Nya lewat pelayanan di tempat perutusan. Ketiga, berbangga, karena dalam kedinaanku, semoga bisa menjadi sarana rekonsiliasi bagi lingkungan, sesama dan Tuhan sehingga banyak jiwa-jiwa mengalami keselamatan.

Maria Clarissa
Praktisi Yoga, tinggal di Jakarta:
Tak Tergambarkan

“Sejak saya menikah tahun 1997, hampir setahun 2 kali saya ke Italia. Alm suami saya asli orang Italia dari kota kecil Bastia sebelah Utara Assisi. Maka ketika saya di Italia, saya sangat sering mampir ke Assisi. Kebetulan stasiun kereta Bastia ada di belakang rumah. Assisi hanya sejauh satu stasiun saja dari Bastia. Letak Portiuncula sangat dekat dengan stasiun kereta Assisi, sehingga sangat mudah bagi saya untuk sekadar mampir. Saya sangat suka berada di dalam Portiuncula.

Tempat ini lebih sebuah kapel kecil yang berada di tengah-tengah basilika Santa Maria degli Angeli. Di bagian depan terlihat lukisan fresco yg sangat indah, tetapi interiornya sangat sederhana.  Dindingnya dibangun dengan batu kasar berbentuk persegi, yang diambil dari Gunung Subasio, yang dipasang oleh Fransiskus sendiri ketika memperbaiki gereja kecil tersebut. Di dalamnya hanya ada 8-10 tempat duduk. Karena keterbatasan tempat duduk, kalau sedang ramai biasanya orang-orang berdiri, kadang ada juga yg duduk di lantai.

Saya sendiri lebih suka  datang di saat-saat sepi, melewati waktu di sana dengan melakukan refleksi hening. Ada rasa yang sulit saya gambarkan dengan kata-kata ketika berada di sana, tempat di mana Fransiskus pernah berada, menyentuh dinding yang pernah dibangunnya, dan melewati pintu di mana orang suci itu pernah lewat.”

FHS

HIDUP, Edisi No.30, Tahun ke-75, Minggu 25 Juli 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here