Uskup Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM: Datang dan Percaya kepada-Nya

97

HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 01 Agustus 2021 Minggu Biasa XVIII, Kel 16:2-4, 12-15; Mzm 78:3, 4bc, 23-24, 25, 54; Ef 4:17, 20-24; Yoh 6:24-35

BACAAN Pertama hari ini berbicara tentang kebutuhan amat mendasar manusia, yaitu makanan. Umat Israel yang telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir mengeluh kepada Musa, karena di padang gurun tidak ada makanan. “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan” (Kel. 16:3). Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya. Ia memberi mereka makanan, berupa roti. “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari,…” (Kel. 16:4). Kepada umat yang ragu, Musa berkata: “Inilah roti yang diberikan Tuhan kepadamu menjadi makananmu” (Kel. 16:15). Kita diajak untuk bersyukur atas anugerah makanan dan kehidupan yang diberikan hingga kini, juga di masa-masa yang sulit karena pandemi Covid-19 ini.

Injil hari ini juga berbicara tentang makanan dan mengajak kita merenungkan lebih jauh tentang makanan yang sejati, yang tidak dapat binasa. “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal …” (Yoh. 6:27). Seperti orang banyak dalam Injil, kita ingin mendapatkan makanan yang sejati itu. “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa” (Yoh. 6:34). Apakah yang dimaksud dengan makanan yang sejati itu? Yang tidak dapat binasa? Makanan yang sejati itu, roti yang tidak dapat binasa itu tidak lain adalah Yesus Kristus sendiri. “Kata Yesus kepada mereka: Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35).

Ada dua hal penting yang disampaikan penginjil Yohanes. Pertama, ialah bahwa Yesus sendirilah roti hidup. Kedua, ialah tentang bagaimana kita dapat memperoleh roti hidup itu, sehingga kita tidak lapar dan haus lagi. Bahwa Yesus sendiri adalah roti hidup, dapat kita lihat dari seluruh hidup dan karya-Nya di dunia. Ia selalu membawa kehidupan bagi siapapun yang dijumpai. Ia menyembuhkan yang sakit, menghibur yang menderita, mengampuni yang berdosa. Ia adalah roti hidup. Bukan karena Ia tidak mengalami kematian. Ia mengalami penderitaan dan kematian. Tetapi sebagai roti hidup Ia menunjukkan bagaimana menghadapi kematian dengan penuh iman serta harapan dan dengan demikian mengalahkannya. Kebangkitan merupakan mahkota kemenangan-Nya atas kematian.

Bagaimana kita dapat ikut ambil bagian dalam roti hidup itu? Supaya tidak lapar lagi, kita perlu datang kepada Yesus. Dan supaya tidak haus lagi kita harus percaya kepada-Nya. Hanya dengan datang dan percaya pada Yesus kita akan mendapatkan makanan sejati, sehingga kita memperoleh hidup yang kekal, mengalahkan maut, musuh kehidupan.

Bagaimana kita dapat ‘datang dan percaya’ kepada Yesus? Bacaan kedua memberi petunjuk lebih rinci. Datang dan percaya kepada Yesus berarti “belajar mengenal” (Ef. 4:20) Dia, “mendengar dan menerima pengajaran di dalam Dia” (Ef. 4:21). Itu semua membawa konsekuensi, bahwa kita “harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan” (Ef. 4: 22); bahwa “roh dan pikiran kita dibaharui” (Ef. 4: 23).  Dengan kata lain: Datang dan percaya kepada Yesus bukanlah sikap yang pasif dan saleh belaka. Datang dan percaya kepada Yesus menuntut pertobatan, perubahan orientasi hidup dari yang lama menuju yang baru. Kita “mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:24).

Yesus Kristuslah roti hidup. Hanya dalam persatuan dengan pribadi-Nyalah terdapat makanan yang tidak dapat binasa, hidup yang kekal. Lebih dari itu: selama di dunia Ia telah menunjukkan suatu cara hidup khas yang dapat mengalahkan kematian, musuh terbesar kehidupan. Karena itu kita juga perlu mengenakan cara hidup yang sama seperti Kristus, kalau kita ingin mendapatkan makanan yang membuat kita tidak lapar lagi dan minuman yang membuat kita tidak haus lagi. Kita perlu datang dan percaya kepada-Nya.

Datang dan percaya kepada Yesus bukanlah sikap yang pasif dan saleh belaka melainkan menuntut pertobatan.”

HIDUP, No. 31, Tahun ke-75, Minggu, 1 Agustus 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here