Yesus Disalib, Bukan Dirajam

32
Ilustrasi (Dok. coldcasechristianity.com)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Romo Kris, kenapa Yesus disalibkan bukan dirajam? Saya
membaca beberapa sumber, penyaliban bukan tradisi hukuman Yahudi tetapi tradisi hukuman Romawi. Mohon penjelasan. (Maruli, Medan)

Penginji Markus melaporkan bahwa penguasa Romawi membawa Yesus untuk disalibkan, dan alasan yang dikemukakan adalah sebab Dia disebut sebagai raja orang Yahudi (Lih. Mrk.15:22-26). Memang penyaliban biasa dilakukan bagi mereka yang dianggap sebagai pemberontak, mereka yang dipandang memberikan perlawanan politis.

Kisah yang terkenal dalam sejarah Romawi adalah penyaliban atas Spartacus, budak pemberontak beserta para pengikutnya di tahun 71 SM. Namun biasanya dijatuhan bukan kepada warga Romawi. Akan tetapi sejauh bisa ditelusuri hukuman penyaliban sudah diberlakukan lama, bahkan dikatakan sejak masa Persia abad VI SM, seperti pada masa raja Persia Darius, yang kemudian dari sini tersebar sebagai bentuk hukuman di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Dikatakan Kaisar Konstantinus baru pada tahun 337 Masehi menghapuskan hukuman salib, kemudian menggunakan salib sebagai tanda kemenangan, mendorong bakti penghormatan akan salib Yesus.

Hukuman penyaliban digambarkan sebagai pohon atau tiang kayu untuk menggantungkan seorang penjahat, setelah terlebih dahulu dicambuk. Penyaliban sengaja dibuat ditempat terbuka dan dipertontonkan sebagai peringatan agar kejahatan yang dimaksudkan tidak lagi dibuat sekaligus pula tindak pelecehan atas mereka yang dihukum itu. Akan tetapi kalau kita melihat Kitab Ulangan, penggambaran mengenai penyaliban sudah bisa pula kita temukan, “…dihukum mati, kemudian kaugantungkan dia pada sebuah tiang” (Lih Ul. 21:22; Yos. 8:29; 10:26; 2 Sam. 21:9). Maka betapapun hukuman yang biasa dipakai dalam hukum Yahudi adalah dengan merajam, namun bisa kita lihat sudah dipraktekkan pula. Bahkan dicatat seorang pemimpin Yudea, Janneus di abad 1 SM menyalibkan 800 pemberontak.

Tradisi Yahudi sebenarnya lebih menggenal penghukuman dengan merajam, memenggal kepala, membakar ataupun mencekik. Hukuman dengan melempari batu, bentuk merajam dikeluhkan Yesus dibuat bangsa Yahudi kepada utusan Allah (Lih. Luk. 13:34), bahkan Yesus pernah dicoba untuk dilempari batu (Lih. Yoh. 8:59; 10:31), atau juga bisa kita lihat dari kisah perempuan yang dikatakan ketahuan berbuat zinah (Lih. Yoh. 8:7). Pemenggalan kepala bisa kita lihat dari kisah kematian Yohanes Pembaptis (Lih. Mrk. 6:24-25; Mat. 14:8-10). Hukuman mati tersebut diberlakukan untuk kejahatan yang berat, pembunuhan, pelanggaranan hukum sabat demikian pula penghujatan akan Allah, bahkan pula perzinahan.

Kisah sengsara Yesus menggambarkan bahwa Yesus ditangkap dan diadili oleh Sanhedrin, dijatuhi hukuman oleh Pilatus dan disalibkan oleh tentara Romawi. Para pemuka Yahudi menuduh-Nya menghujat Allah, namun mereka membawa kepada Pilatus dengan mengatakan bahwa Yesus mengaku sebagai raja orang Yahudi. Para pemuka Yahudi membawa kepada Pilatus sebab dia yang berkuasa untuk menjatuhkan hukuman mati, maka mereka menuntut pada penyaliban Yesus. Bisa kita simak di sini bahwa hukuman Yesus dijatuhkan bukan sekadar berdasarkan hukum agama, namun pula hukum sipil yang berlaku saat itu. Yesus dianggap tidak saja mengancam otoritas keagamaan namun pula otoritas politik. Yesus tidak saja menghujat Allah namun pula menganggu stabilitas kesatuan bangsa.

Hal ini kemudian menjadi suatu tanda serta pesan, karena salib pada saat itu dipandang sebagai batu sandungan, suatu kutukan ataupun suatu kebodohan (Lih. Gal. 3:13; 5:11; 1 Kor.1:23 ). Pemberitaan akan salib pun dianggap suatu kebodohan bagi banyak orang (Lih. 1 Kor. 1:18). Mengakui seseorang yang mati disalib sebagai Tuhan adalah sesuatu yang kontradiktif, tidak masuk akal, baik bagi orang Yahudi maupun bagi yang bukan Yahudi. Markus pun mencatat bahwa pengakuan pertama akan Keallahan Yesus datang dari kepala pasukan Romawi, saat menyaksikan wafat Yesus (Lih. Mrk. 15:39).

Yesus disalibkan dan bukan dirajam, sebab di dalamnya termuat pesan, bahwa yang dianggap bodoh oleh dunia dipilih Allah untuk memalukan yang kuat, menjadi lebih berhikmat (Lih.1 Kor. 1:25-27). Yesus sendiri menubuatkan penyaliban tersebut
(Lih. Mat 16:21; Mrk. 8:31), bahkan menempatkan memanggul salib sebagai syarat mengikuti-Nya (Lih. Mat. 16:24; Mrk. 8:34;Luk 9:23). Salib adalah tanda dan pesan, kesaksian dan identitas.

HIDUP NO.19, 9 Mei 2021

 

Romo T. Krispurwana Cahyadi, SJ 
(Teolog Dogmatik)

 

Silakan kirim pertanyaan Anda ke: [email protected] atau WhatsApp 0812.9295.5952. Kami menjamin kerahasiaan identitas Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here