Mutiara Kasih Carolus: Berangkat dari Keprihatinan, Muncullah Benih Kepedulian

21
Pelatihan untuk perawatan bayi di Mutiara Kasih. (Foto: Dok MKC)

HIDUPKATOLIK.COM – ALUMNI Akademi Perawat St. Carolus mempunyai angan-angan yakni mendirikan sebuah kegiatan sosial untuk membantu para wanita putus sekolah, dan cita-cita untuk mendirikan lembaga pelatihan baby sitter dan caregiver. Impian luhur ini ada sejak kepengurusan Th. Sri Suhesti namun ketika itu belum terwujud.

Tahun 2005 situasi di Tanah Air memburuk. Musibah dan bencana terus terjadi hampir di seluruh tempat. Situasi tersebut mempengaruhi kondisi perekonomian, tidak sedikit perusahaan gulung tikar. Hal ini mengakibatkan jumlah pengangguran dan kemiskinan terus meningkat, dan banyak pelajar yang putus sekolah.

Gagasan mendirikan lembaga pelatihan diangkat kembali oleh Konsultan sekaligus Pengurus di Yayasan Pengembangan Manajemen Kesehatan (YPMK) Perdhaki dan Yayasan Pendidikan Kesehatan Sint Carolus (YPKC), Imelda Hoddy (alm) bersama Th. Sri Suhesti. Mereka melihat bahwa perlunya ada kerja sama antarpihak yang berkompeten mengatasi masalah yang terjadi, melalui langkah-langkah salah satunya memberikan pendidikan keterampilan kepada masyarakat yang kurang mampu, dalam waktu yang singkat dan dapat langsung bekerja, dengan biaya yang ringan dan dapat diangsur setelah mereka bekerja.

Gagasan ini awalnya tidak langsung diterima. Namun, Imelda Hoddy dan Th. Sri Suhesti meyakinkan semua pihak bahwa kegiatan ini akan berjalan dan bisa membantu banyak pihak. Usaha tidak mengkhianati hasil. Akhirnya, para Pengurus YPKC dan YPMK setuju untuk bekerja sama  membentuk sutau lembaga yang mempunyai kegiatan untuk melatih dan menempatkan tenaga Pengasuh Bayi – Anak (baby sitter) / Pendamping Orang Sakit – Lansia (caregiver). Lembaga ini dikenal dengan nama Mutiara Kasih (MK).

Berbadan Hukum

Sejak berdiri pada September 2006 sampai April 2018 MK menempati Eks Rumah Bersalin St. Anna di Cijantung, Jakarta Timur. Seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi serta rencana pengembangan wilayah Cijantung, maka MK harus meninggalkan Wisma Santa Anna. MK meyakini bahwa Tuhan sendiri yang menuntun dan menunjukkan tempat operasional kegiatan MK yang baru di Jl. Tegalan, Matraman, Jakarta Timur. Dikarenakan lokasi MK menjadi lebih dekat dengan YPKC sebagai pendiri, dan komunikasi lebih mudah sehingga terbukalah pembicaraan untuk memajukan usaha ini dengan membentuk badan usaha yang berbadan hukum.

 

Dari kiri ke kanan: Sr. Lely CB, Agustin M. Hidayati, Romo Christophorus Offerus Lamen Sani di Klinik Puli Toben, Susteran Carolus Borromeus, Adonara, Keuskupan Larantuka. (Foto: Dok MKC)

MK semakin dipercaya oleh masyarakat dan juga pemerintah. Penghargaan dan pengakuan terus menghampiri Mutiara Kasih, juara dalam berbagai lomba  dan dipercaya sebagai tempat uji kompetensi (TUK) dan mendapat nilai Akreditasi A adalah wujud pengakuan bahwa keberadaan Mutiara Kasih mulai diperhitungkan. Maka pada usianya yang ke-15 tahun ini, Mutiara Kasih memantabkan diri  menjadi badan usaha yang lebih resmi. Setelah melalui berbagai proses, pada tanggal 1 Juli 2020 ditanda tanganilah akta notaris pembentukan PT. Mutiara Kasih Carolus (MKC)

Jemput Bola

Ketika MKC berusia dua tahun, tahun 2008, lembaga ini memilih Romo Christophorus Offerus Lamen Sani, akrab disapa Romo Christo, sebagai Pembina Rohani MKC. Ketika itu Romo Christo sedang berkarya di Paroki St. Thomas, Kelapa Dua, Depok dan MKC masih menempati lokasi di Cinjantung. Menurut Romo Christo, MKC memilih dirinya atas pertimbangan bahwa peserta pelatihan MKC kebanyakan dari Nusa Tenggara Timur.  Sehingga pengurus MKC mencari imam yang berlatarbelakang sama agar imam tersebut bisa memahami karakter, sifat dan cara berpikir peserta. Sekaligus dapat membimbing mereka dengan cara yang lebih sesuai dengan situasi adatnya.

Di tahun-tahun awal, Romo Christo sangat kagum melihat MKC melalui para pengurusnya memmpunyai komitmen yang luar biasa dan berani kunjungan ke daerah-daerah untuk mendapatkan respons mengenai pelatihan ini. Sungguh luar biasa. “Istilah yang saya sering sebut itu, MKC berani jemput bola,” terangnya. Romo Christo pun ikut turun gunung bersama MKC di tahun 2009 mereka berkunjung ke Keuskupan Agung Palembang. Mulia dari bertemu dengan Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ hingga menemui keluarga-keluarga yang anaknya berpotensi ikut pelatihan. “Dari Bapa Uskup sendiri saat itu merasa berterima kasih atas kedatangan MKC. Apalagi kami sampai menyapa keluarga di sana. Kami sifatnya menginformasikan bahwa lembaga ini membantu orang muda untuk mendapatkan keterampilan serta mendapatkan kesempatan bekerja,” ungkap Romo Christo.

Selama mendampingi MKC, Romo Christo tidak pernah melupakan ketika menemani MKC bertemu dengan para imam di Dekenat Adonara, Keuskupan Larantuka, bahkan lanjut berkunjung ke rumah Romo Chrito di daerah Lamalota. “Saya menemukan adanya misionaris awam yang bisa tembus melewati teritorial paroki. Ini menarik sekali. Saya yang seorang imam tidak mampu menyapa umat sampai pelosok. MKC itu seperti Yesus yang datang ke kota-kota, mewartakan sekaligus menyembuhkan. Para pengurus ini latar belakangnya kesehatan ya. Waktu sampai di rumah saya, kakak saya itu sakit dan dibantu disembuhkan karena mereka membawa obat,” kenangnya.

Selain itu, MKC ini ibarat sebuah pohon.  Romo Christo dan para pengurus menuturkan kata kuncinya, mulai dari sebuah benih. Berangkat dari keprihatinan, muncullah benih kepedulian. Benih ini lantas ditanam dalam sebuah bejana. Pengurus dan berbagai pihak-pihak terkait berjuang untuk merawat dan memupuknya. Tanpa putus asa. Lambat laun, bertumbuh dan berkembang. “Kita melihat ini ibarat pohon ya ditanam, tumbuh, berbuah kemudian dipanen,” tambah Vikaris Parokial Santa Faustina Kowslska , Tajur Halang, Keuskupan Bogor ini.

Misi Hingga Akhir Zaman

Sebagai pembina rohani, Romo Christo hendak menekankan kepada MKC untuk rencana ke depan. Ketika dihubungi HIDUP melalui daring, 18/8/2021, Romo Christo mengutip Matius 9: 37-38: Maka, katanya kepada murid-murid-Nya, tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan empunya tuaian, supaya Ia mengirim pekerja-pekerja untuk tuaian itu. “Ini yang menjadi tugas bagi MKC, tidak hanya untuk lima tahun ke depan tapi hingga akhir dunia,” terangnya.

Dalam buku Buah Buah Mutiara Kasih (2016), disebutkan bahwa dalam rangka

menyongsong lima tahun ketiga, yakni pada ulang tahun ke lima belas MKC

yang jatuh pada 1 September 2021, hal penting yang akan diangkat adalah “Mutiara Kasih Memanen”. Bagi Romo Christo, arti dari musim panen MKC itu seperti dikatakan dalam Injil Markus 4: 29: Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.

Romo Christophorus Offerus Lamen Sani (Foto: Dok MKC)

“Berdasarkan data dalam lima tahun pertama, MKC   telah melakukan pelatihan 31 dan dalam sepuluh tahun, terdapat 29 angkatan dengan total pesertanya sebanyak 923. Jadi sudah sembilan ratus lebih. Kendati demikian,  seperti Yesus  mengutus murid-muridNya  pergi berdua-dua, mendahului-Nya ke setiap kota  dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.

“Yang dilakukan MKC menjawab kebutuhan manusia di mana saja, kapan saja.  Di tengah pandemi ini, saya juga berharap, MKC seperti Gereja pada umumnya, terus berkarya. Kita ingat Paus Fransiskus berpesan, bahwa situasi yang berat ini jangan sampai menghalangi kita untuk terus mewartakan sabda Allah,” pungkas imam diosesan kelahiran Flores, 26 Juni 1958 ini.

Karina Chrisyantia/Felicia Permata Hanggu

HIDUP, Edisi No. 35, Tahun ke-75, Minggu, 29 Agustus 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here