HIDUPKATOLIK.COM – Menutup rangkaian Retret Pastores Keuskupan Agung Merauke (KAMe) tahun 2026, Uskup Padang, Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui kekuatan persaudaraan imamat. Dalam homili yang dibawakan dengan penuh kehangatan, Uskup menekankan bahwa kemajuan fisik paroki tidak akan berarti tanpa kehadiran komunitas imam yang solid dan saling memiliki.

Uskup Rubi mengawali homilinya dengan rasa haru manakala mendengar sharing dari Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus C. Mandagi, MSC dan para imam selama retret. Uskup Rubi mengakui bahwa pembangunan fisik di Keuskupan telah menampakkan wujudnya, namun tantangan yang lebih besar adalah membangun SDM. “Menentukan (hidupnya keuskupan) adalah persaudaraan imam-imam. Dari situ mulai terasa hidup dan terasa memiliki, bukan hanya oleh para imam, tetapi juga oleh umat,” ungkap Uskup Rubi.
Uskup Rubi menyoroti kebijakan penggabungan beberapa paroki demi efisiensi pelayanan, yang hanya bisa berjalan dengan baik jika didasari oleh sinergi antar-pastor.
Sebagai seorang doktor di bidang Kitab Suci, Uskup Rubi mengingatkan para imam untuk selalu mendasarkan pelayanan dan khotbah pada teks suci, bukan sekadar cerita tanpa isi. Ia sempat berseloroh melalui anekdot tentang kekeliruan kutipan Kitab Suci yang sering terjadi, seraya mengingatkan bahwa seorang pastor harus tetap setia membaca dan merenungkan firman di tengah kesibukan apa pun.

Merefleksikan Bacaan Injil tentang perumpamaan benih yang tumbuh (Mrk. 4:26-34), ia mengajak para imam untuk memeriksa “jenis tanah” di dalam hati mereka. Ia memperingatkan agar rahmat imamat tidak terjepit oleh semak belukar kepentingan pribadi yang membuat hidup tidak berbuah.
Mengutip teks asli dari perumpamaan biji sesawi, Uskup Rubi memberikan penekanan menarik pada kata “bersarang”. Ia menjelaskan bahwa Gereja dan persaudaraan imamat seharusnya tidak hanya menjadi tempat “bernaung” atau mencari kenyamanan (perlindungan), tetapi menjadi tempat di mana burung-burung “bersarang”, sebuah tempat yang pro-kreatif untuk melahirkan kehidupan baru.

“Persaudaraan yang kuat akan menarik orang untuk masuk. Namun, jangan jadikan ini hanya tempat mencari pendukung atau sekadar mencari makan. Tujuannya adalah melatih diri dan mendidik generasi penerus agar mereka melihat keteladanan, bukan kepentingan sendiri,” tegasnya.
Di hadapan para seminaris yang hadir, Uskup Rubi berpesan agar rumah-rumah pembinaan menjadi tempat persemaian spiritualitas yang menakjubkan. Ia meyakini bahwa meski benih yang ditabur tampak kecil seperti biji sesawi, Tuhanlah sang petani utama yang akan menyelesaikan dan menyempurnakan karya yang telah dimulai.
Misa penutupan ini diakhiri dengan berkat pengutusan, membawa semangat baru bagi para pastores Keuskupan Agung Merauke untuk kembali ke medan karya dengan hati yang lebih subur bagi panenan Tuhan. Sang Gembala Agung memberkati senantiasa semua orang yang memuliakan nama-Nya lewat pelayanan kasih tulus satu dengan yang lain di tanah Anim Ha ini.
Laporan Pastor Yohanis Elia Sugianto, peserta Retret Pastores Keuskupan Agung Merauke (KAMe) tahun 2026






