Tatkala Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX Tidak Diberi Kesempatan Menolak

304
Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX (Foto: Dokpri)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM Usai berlutut dan keluar dari kapel Kedutaan Vatikan, hanya satu kalimat yang dapat terucap dari bibirnya.

SETELAH penantian yang cukup panjang pada 3 Juli 2021 yang lalu, akhirnya terpilihlah Uskup Padang yang baru yakni Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX. “Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan saya. Ada rasa yang aneh. Saya merasa kecil sekali tetapi merasa dekat dengan semua,” ungkap kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 15 November 2968 ini ketika mengumumkan secara tidak resmi penunjukannya di dalam Komunitas Serikat Xaverian. Seketika suasana Perayaan 100 Tahun Serikat Xaverian di kapel Wisma Xaverian Bintaro, Tengerang Selatan, Banten, terasa hangat. Kabar sukacita, tak hanya bagi umat Keuskupan Padang, tapi bagi Serikat Xaverian tentunya!

Sebagai manusia biasa, Mgr. Ruby, demikian disapa akrab sekarang,  juga sempat merasa takut apalagi ketika sudah mulai mengetahui rencana pengangkatannya sebagai uskup. Pada panggilan yang kedua dari Mgr. Piero Pioppo, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Ruby sudah memikirkan segala macam penolakan. Ketakutan ini berasal dari perasaannya yang merasa tidak cukup mengenal Padang.

Ia sendiri juga memiliki minim pengalaman pastoral. Satu-satunya pengalaman pastoralnya adalah ketika ia masih berstatus seorang frater dan menjalani Tahun Orientasi Misi (TOM) di Kepulauan Mentawai, Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat. Selebihnya, setelah meraih gelar Doktor bidang Kitab Suci dari Universitas Kepausan Gregoriana, Roma, ia lebih banyak terjun di dunia pendidikan Kitab Suci. Ia sendiri adalah salah satu dosen di STF Driyarkara ketika dipilih sebagai uskup.

Dalam ketakutannya ini, satu kata yang menurutnya merangkum perjumpaannya dengan Mgr. Pioppo yakni ketaatan. Segala macam penolakannya tersebut gagal diungkapkannya sebab Mgr. Pioppo ternyata tidak memberinya kesempatan untuk bicara. “Bapak Suci mau ini diterima dengan ketaatan,” jelas Mgr. Ruby menirukan ucapan Mgr. Pioppo. Maka, ketika kembali dari berdoa di kapel, hanya sebuah kalimat yang terucap oleh Mgr. Ruby, sederhana tetapi sekaligus indah dan memang demikian adanya, yakni, “Dengan bantuan rahmat Tuhan saya bersedia.”

Mgr. Ruby pulang dengan perasaan takut yang masih menggelayuti hatinya. Ia kemudian membaca sebuah audiensi Paus. Di dalam audiensi ini, bacaan yang digunakan adalah mengenai Yesus yang berdoa untuk Petrus. Paus memberi penekanan bahwa kita tidak perlu takut sebab Yesus sendiri berdoa untuk kamu. “Yesus saja berdoa untuk saya, mengapa saya harus takut?” kata Mgr. Ruby yang telah mendapatkan kekuatannya dari Yesus sendiri.

***

“Seorang anak laki-laki harus menjadi pastor,” adalah sebuah janji yang diucapkan oleh orangtua Mgr. Ruby di hadapan Bunda Maria ketika mereka memutuskan untuk menikah. Hal ini baru diketahui oleh Mgr. Ruby kemudian karena memang hal ini tidak pernah diceritakan. Selain itu, orangtua Mgr. Ruby memang tidak pernah menanyakan kepadanya apakah ia ingin menjadi pastor apalagi mengarahkannya atau menyuruhnya menjadi seorang pastor.

Kebebasan yang kreatif diberikan oleh sang ayah, Michael Mustomo Solichin (alm.) yang tetap memperhatikan kegemaran anaknya dan mendukung perkembangannya. Perpustakaan kecil sudah dimiliki oleh Ruby kecil dari hobinya membaca banyak buku dan berlangganan majalah sejak umur empat tahun.

Dalam perhatiannya sang ayah juga mengetahui kegemaran lain putranya yang senang menggambar, mencorat-coret mulai dari tembok sampai lemari pakaian mereka. Maka pada hari ulang tahunnya, sang ayah memberi hadiah yang sederhana namun spesial yakni sebuah papan tulis.

Di papan tulis ini Ruby kecil menghabiskan waktu. Dunia imajinasinya diisi dalam papan tulis tersebut dengan gambar tangannya. Gambar-gambar tersebut hidup ketika sang bocah menggambarnya sambil bercerita kepada dirinya sendiri.

Dalam kebebasan dan dukungan ini, saat kelas IV SD, ia telah memperlihatkan pilihannya sendiri untuk menjadi seorang misdinar. Masih terkenang olehnya, bagaimana semangat dan antusiasme yang dimilikinya dalam tugas pertamanya sebagai misdinar di Gereja St. Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Katedral Semarang.

Pukul empat dini hari, ketika hari masih dingin dan gelap, ia telah bangun dan diantar oleh sang ibu, Lidwina Dwiyani, karena tidak tega melihat semangatnya itu. Benar saja bahwa ketika mereka sampai di sana, suasana masih sangat kosong dan sepi, belum ada orang lain yang datang.

Kekecewaan sempat muncul karena rekan misdinar yang ditunggu-tunggu ternyata tidak hadir. Ketika kemudian ada koster yang membantu menemaninya bertugas, semangatnya yang belum padam pun kembali menyala, menghadirkan pemandangan lucu di altar di mana ia yang sangat kecil tugas berdampingan dengan sang koster yang sangat tinggi.

***

Ketika sang ayah tercinta mulai jatuh sakit, keadaan ekonomi keluarga memburuk hingga membuat separuh dari rumah mereka harus dijual untuk pengobatan sang ayah. Meskipun segala usaha tersebut telah dilakukan, Tuhan ternyata telah memiliki rencana yang berbeda. Sang ayah pun meninggal dunia ketika ia masih berstatus sebagai pelajar SMP. Bersama dengan seorang kakaknya, ia harus pindah ke Muntilan, dititipkan bersama kakek, Budi Utomo (Oei Tjoe Gwan) dan nenek dari ibu.

Kakek dan neneknya adalah penganut agama Buddha yang taat. Mereka bahkan menjadi salah satu penderma ketika Vihara Mendut dibangun. Karena kedekatan mereka dengan para biksu tersebut, sebelum para biksu memiliki vihara, mereka seringkali menginap di rumah. Maka sejak kecil Mgr. Ruby sudah terbiasa bertemu dengan para biksu tersebut. Sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan dekorasi berwarna kuning dan penuh dengan patung pun ada di rumah mereka. Ruby kecil pun seringkali melakukan meditasi di ruangan tersebut.

Meski hidup di tengah suasana yang kental dengan agama Buddha, panggilan Mgr. Ruby justru muncul di Muntilan. Panggilan pertamanya ternyata bukanlah menjadi seorang pastor melainkan seorang bruder. Hal ini dirasakannya setiap pagi dalam perjalananya ke Katedral Semarang, ia sering melihat bruder-bruder FIC yang memang tinggal di belakang gereja.

Meskipun begitu, panggilannya menjadi bruder tidak pernah terwujud. Sampai kemudian pada suatu waktu, para bruder dari Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, datang untuk promosi panggilan. Saat itu, ternyata kemudian hanya kelas dari Ruby yang mulai remaja tidak memiliki calon untuk masuk Seminari Mertoyudan. Mgr. Ruby, yang saat itu sedang melaksanakan tugasnya sebagai ketua kelas, terpilih karena nilainya yang bagus dan menonjol, pun ditanya mengenai hal tersebut. “Tulis saja nama saya,” begitu ia menjawab saat itu dan akhirnya masuk ke Seminari Mertoyudan.

***

Setelah ditahbiskan sebagai imam pada 7 Juli 1997, Pastor Ruby menjalankan studi Lisensiat Kitab Suci di Institut Biblicum di Roma pada tahun 1997-2001. Praktisnya kemudian ilmu Kitab Suci menjadi spesialisasinya.

Seusai Pendidikan di Roma, ia kemudian mengajar Kitab Suci di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta dan Seminari Tinggi Bandung (2001-2007). Dari sana, ia masih melanjutkan pendidikannya dan menjalani program doktorat di Universitas Kepausan Gregoriana, Roma (2007-2012).

Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX (tengah) bersama para frater Skolastikat Serikat Xaverian di Wisma Xaverian, Jakarta Pusat. (Foto: Dok Wisma Xaverian)

Ia lalu kembali ke Indonesia dan ditugaskan untuk menjadi pengajar dan Wakil Ketua Bidang Akademik di STF Driyarkara di samping menjadi rektor dan formator di Skolastikat Xaverian di Jakarta.

Sejak masih belajar di Driyarkara, ia juga punya perhatian khusus pada bidang sosial dan politik. Maka, meskipun bidang Kitab Suci menjadi spesialisasinya, ia menyempatkan juga memberi perhatian pada filsafat sosial dan teologi pembebasan. Atas perhatiannya ini, pada tahun 1996, ia sempat menulis sebuah buku yang berjudul “Paradigma Asia: pertautan kemiskinan dan kereligiusan dalam teologi Aloysius Pieris”.

Sebagai seorang yang tergabung dalam Serikat Misionaris Xaverian, Mgr. Ruby tentu saja juga merindukan untuk bermisi dan berkarya bagi orang-orang miskin dan tersingkir sesuai kharisma khas Serikat Xaverian.

Selama menjadi Rektor Skolastikat Xaverian, hati misionarisnya telah merindukan agar selepas tugasnya tersebut dapat segera punya tugas misi di negara lain. Tak disangka ternyata ia malah mendapat penunjukan sebagai uskup untuk Keuskupan Padang.

Dengan ketaatan, ia pada akhirnya menerima bahwa misinya yang sekarang adalah di tengah umat Allah di Keuskupan Padang yang memang telah lama menantikan seorang gembala utama sejak Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap dipanggil Tuhan tahun 2019.

Keuskupan Padang sendiri juga memiliki tempat yang spesial di hati Serikat Xaverian. Di tanah Minang inilah para misionaris pertama Serikat Xaverian menginjakkan tapak kaki di Indonesia 70 tahun silam. Sejak itu, telah banyak karya-karya para misionaris Serikat Xaverian yang dilakukan di Padang.

Maka bagi Mgr. Ruby, misinya di Keuskupan Padang ini adalah sebuah tugas yang dirasakannya tidak pernah lepas dari misi Serikat Xaverian. Ini merupakan rahmat penugasan khusus Serikat Xaverian dalam peringatan 70 tahun kehadiran mereka di Indonesia.

Fr. Andreas Wijaya, SX, Skolastikat Serikat Xaverian, Jakarta

HIDUP, Edisi No. 40, Tahun ke-75, Minggu, 3 Oktober 2021 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here