Misericordia et Misera

49
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – MISERICORDIA et Misera merupakan judul Surat Apostolik yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada bulan November 2016 sebagai Penutup Tahun Kerahiman. Misericordia et Misera berarti “Mercy with Misery” atau belaskasih dalam penderitaan. Paus Fransiskus mengambil istilah Misericordia et Misera ini dari perkataan yang digunakan oleh Santo Agustinus ketika dia menceritakan kembali kisah di Injil tentang Yesus yang bertemu dengan wanita yang kedapatan berzinah dan akan dihukum rajam oleh orang banyak (Yoh.7:53 – 8:11). Dalam situasi adanya penderitaan (yang dialami oleh wanita itu) justru Tuhan menunjukkan belas kasihannya.

Izinkan aku meminjam istilah dari judul Surat Apostolik Paus Fransiskus itu untuk membungkus tulisan kegelisahanku dalam memandang sisi lain efek pandemi Covid-19 ini. Aku  tertarik dengan istilah itu karena mengandung muatan pesan yang amat dalam dan mempunyai relevansi pada masa pandemi ini. Berbelaskasih dalam “penderitaan” di masa pandemi ini merupakan perbuatan mulia.  Banyak orang mengambil kesempatan dalam pandemi ini untuk menunjukkan belas kasih kepada sesamanya. Mereka yang ambil bagian dalan berbelas kasih ini tidak hanya mereka yang berkepunyaan (the have) namun justru ada banyak yang berkekurangan namun mampu menunjukkan belaskasih pada orang lain.  Mereka, kutemui di beberapa tempat.

Ananmese Kolektif

Ketika aku menjalani pekerjaan sebagai ojol, di sela-sela menunggu orderan masuk ke aplikasi, aku sering menemui beberapa pedagang kaki lima (PKL), di antaranya Pak Suyadi, penjual batagor grobak yang mangkal di selatan Ruma Sakit Panti Rapih, atau Pak Gondrong penjual mie ayam keliling yang mangkal di Jalan Colombo, Selatan UNY, atau sesekali mampir di angkringannya Mas Hari di dekat Mie Gacoan Babarsari, dan banyak lagi. Dari mulut mereka, aku mendengar sendiri berbagai celoteh,  cerita, keluh-kesah dan ratapan di kala pandemi. Muara cerita berujung pada pemasukan yang menurun drastis karena efek pandemi ini.

Meski sangat kecil penghasilannya tetapi mereka tetap bersyukur masih bisa bertahan hidup. Mereka bertiga hanyalah contoh representasi dari sekian ribu para PKL Yogjakarta yang terdampak langsung pandemi ini. Ada hal yang berbeda dan menarik dari cerita mereka yaitu ketika mereka sendiri mengalami kesulitan tetapi mereka masih bisa berbuat baik kepada orang lain, mereka masih bisa berbagi untuk tetangganya yang isoman, berbagi kepada saudara dan temannya yang membutuhkan.

Mereka tidak kemudian menjadi manusia egois di masa penderitaan ini tetapi justru berani meloncat, berbuat sesuatu dan berbagi kebahagiaan dalam penderitaan orang lain. Mereka adalah bagian dari manusia-manusia yang membagikan hidupnya untuk orang lain. Mereka menambah daftar panjang dalam katalog “migunani tumraping liyan” di masa pandemi ini selain deretan para dokter, tim medis atau nakes, relawan satgas, tim pengubur jenasah, penyumbang ransum bagi isoman, relawan shelter, dan lain-lain. Luar biasa !

Kisah-kisah kecil di atas menjadi deretan ingatan yang menambah warisan anamnese kolektifku tentang bagaimana manusia itu harus mampu “beranjak dari kemapanannya” bahkan “bangun dari ketidaknyamanannya” lalu bergegas menolong orang yang pada saat darurat butuh uluran tangan kita. Pada situasi darurat, dalam keadaan apapun, seekstrem sebuah bencana alam atau pandemi, struktur kehidupan dan paradigma kita harus dibongkar.  Darurat (bencana atau pandemi) berarti tunduk pada fakta dan realitas. Darurat bencana (pandemi) berarti tunduk pada fakta dan realitas (korban) kemanusiaan. Kemanusiaan itu menembus batas ideologi, religi, institusi, kategori, teritori dan bentuk dikotomi apapun di dunia ini, yang artinya ketika banyak korban datang minta pertolongan, tidak pandang bulu siapapun mereka, tidak perlu memandang siapa kita, kita mesti bergegas menolong mereka.

Kunci sederhana dari keberanian kita untuk tunduk pada kemanusiaan adalah kita harus mempunyai intuisi humanisme. Orang yang mempunyai intuisi humanisme adalah orang yang mempunyai ketajaman instingtif, kepekaan sosial dan solidaritas kemanusiaan sekaligus orang yang mempunyai nalar pikir lateral, tidak linear, meloncat ke samping, nggiwar, terbuka pada jalan alternatif, tidak kaku dan mampu menyesuaikan dengan segera pada kebutuhan kedaruratan. Bila semua itu kita punya, kita adalah bagian dari orang-orang yang berani menanggalkan status dan atribut untuk solider pada ketelanjangan mereka karena hempasan bencana.

Nilai Dasar Kehidupan

Fakta efek darurat pandemi ini, tidak hanya membangunkan kembali tetapi memupuk kesadaran kita akan nilai-nilai dasar perikehidupan. Sejarah dunia, sejarah bangsa kita, teladan para pahlawan, semua ajaran agama  di dunia,  mempunyai muara pesan moral yang sama supaya kita menghargai dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan lebih mulia lagi, memperjuangkannya di tengah dunia yang penuh dengan ratapan. Bukankah arti pembebasan itu menyelamatkan sebanyak mungkin orang yang sedang dilanda ratap tangis juga. Bila dalam situasi darurat akibat sebuah bencana, kita tidak berani tunduk pada kemanusiaan, maka semua konsep nilai dan ajaran kolektif yang tertanam dalam diri kita selama ini tidak ada artinya. Hemat kata, semua itu tong kosong.

Kita sebagai orang  beriman  bahkan berpendidikan, dalam menghadapi sebuah tragedi, seharusnya tidak terkungkung pada status kotak-kotak, tidak kaku dengan struktur lembaga, tidak diam dengan keprihatinan, tidak tanggung dalam pelayanan, tidak setengah-setengah dalam pengorbanan, tidak ragu untuk bertindak, dan tidak takut untuk memperjuangkan. Justru sebalikya, mestinya kita menjadi bagian dari orang-orang terdepan dalam menyongsong mereka yang datang minta pertolongan. Bukankah kita pernah dididik oleh sebuah ideologi kearifan lokal sederhana yang dimiliki oleh masyarakat sejak jaman dulu yaitu urip kui kudu lung tinulung. Lung tinulung adalah agama bumi. Bumi kita mengajarkan supaya kita saling menolong. Dan yang namanya menolong itu tidak perlu dengan sarat apapun. Menolong berarti menghargai dan menerima Tuhan yang sedang lewat melalui rupa-rupa keadaan manusia yang dirundung ratapan. Menolong berarti membela sisi kemanusiaan Tuhan dan manusia.

Pengalaman peduli pada sesama di masa pandemi ini menjadi penegasan bahwa kita harus menjadi orang yang memiliki rasa perikemanusiaan. Memiliki berarti tidak hanya sekedar peka tetapi sekaligus berinisiatif dan proaktif untuk bertindak. Kehadiran pandemi ini  merupakan sebuah pengalaman tremendum et fascinocum yaitu pengalaman yang menggetarkan sekaligus mengagumkan, mengerikan sekaligus begitu indah.  Semua orang yang berani menyongsong pandemi ini dengan tidak ciut nyali dan bersembunyi (karena paranoid) namun justru menerima, bersahabat dan berbuat susuatu untuk sesamanya merupakan sebentuk aktualisasi diri dari manifesto doktrin sederhana “…iman, harapan dan kasih, dan yang terbesar dari ketiganya adalah kasih”. Dalam konteks pandemi ini, aku  membahasakan kasih dengan adagium baru yaitu “tunduk pada kemanusiaan”. Tunduk, aku artikan bukan sebagai tanda kalah dan mengalah namun jauh dari itu yaitu justru menaruh hormat dan memanggil diri untuk berbuat dan bertindak. Boleh meminjam perkataan inspiratif Dalai Lama : “… jika air mata kita tidak menuntun kita untuk bertindak maka kita telah kehilangan alasan kemanusiaan kita yaitu kasih sayang”.

Wajah Korban

Akhir kata, menurutku, siapapun yang berbuat baik dan merealisasikan kasih sayang di masa pandemi ini adalah  mereka yang tunduk pada kemanusiaan. Perbuatan kecil yang menunjukkan diri berani  tunduk pada kemanusiaan merupakan pengalaman yang transendental sekaligus imanen, laku hidup yang harmoni di hadapan vertikal dan horisontal.

Tunduk pada kemanusiaan berarti menangkap Allah yang hadir pada wajah-wajah para korban yang butuh pertolongan, makanan, minuman dan penginapan (penginapan: shelter atau rumah tinggal untuk isoman). Dalam hal ini, Allah hadir melalui wajah korban pandemi yang ngeri namun menghadirkan kesempatan bagi setiap orang untuk berbagi. Mari kita tunduk pada kemanusiaan. Mari kita berbelaskasih dalam penderitaan orang lain. Misericordia et Misera !

jika air mata kita tidak menuntun kita untuk bertindak maka kita telah kehilangan alasan kemanusiaan kita yaitu kasih sayang”.

 Goro Hendratmoko, Penyuluh Agama Katolik Non PNS Kemenag DIY/Ketua Komunitas SEKOCI Jogja Driver Ojol Jogja

HIDUP, Edisi No. 43, Tahun ke-75, Minggu, 24 Oktober 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here