Menjadi Saudara bagi Kaum Disabilitas

63
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – PADA tanggal 10 April 2021, sepuluh pemuda melangkahkan kaki dengan gagah menuju ke Aula Paroki Hati Kudus Kramat, Jakarta Pusat. Setiap langkah itu diiringi tarikan napas yang tak teratur, ditambah lagi dengan jantung yang kian berdebar kencang. Mereka itu adalah para saudara muda Fransiskan yang akan mengikuti Kursus Bahasa Isyarat bersama tim KOMPAK, sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang social karitatif, khususnya bagi kaum disabilitas. Ketika tim tersebut tiba, mereka mengajari banyak hal kepada kesepuluh saudara tersebut perihal dasar-dasar berbahasa isyarat, secara khusus bahasa isyarat para tuna rungu. Bahasa isyarat yang dipelajari menggunakan dua jenis, yaitu jenis Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dan jenis Amerika (ASL).

Sebagai salah seorang yang mengikuti kursus bahasa isyarat, saya awalnya merasa khawatir. Pasalnya, belajar bahasa isyarat tidak seperti saat saya mempelajari Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Saya harus menyelaraskan gerakan tangan dan gerakan mulut saya ketika menyampaikan kata-kata. Bahkan, tak kurang juga raut wajah saya harus memberi ekspresi yang sesuai dengan apa yang didengar. Penyatuan antara gerakan tangan, gerakan mulut, dan mimik wajah bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan secara serempak. Namun, saya percaya di balik segala kekhawatiran itu, pasti ada jalan untuk mengalahkannya.

Saya ingat kata ketua tim KOMPAK, Ibu Sheny, bahwa “para kaum disabilitas menganggap bahwa bahasa mereka bukanlah bahasa yang aneh. Bagi mereka, bahasa mereka itu layaknya bahasa yang kita ucapkan sehari-hari. Sehingga, jika kita salah mempelajari bahasa mereka, kita akan dikritik habis-habisan”. Perkataan Ibu Sheny memang tepat adanya. Ketika ada salah seorang saudara yang salah menggerakan tangannya, maka pengajar Bahasa isyarat yang adalah juga seorang tuna rungu akan segera mengkritiknya. Akan tetapi, jika benar, mereka akan mengangkat jari jempolnya ke arah kita sambil mengangguk atau pun mengatakan “Ya”

Pada 23 Mei 2021, saya harus mengakhiri kursus ini dengan sebuah ujian. Ujian ini amat menegangkan karena menghadirkan 4 orang tuna rungu baru sebagai juri. Saya dan saudara lainnya harus menginterpretasikan apa yang kami dengar kepada para juri tersebut dengan gerakan tangan, mulut, dan mimik wajah yang sesuai. Saya amat gugup berhadapan dengan para juri yang notabene kaum disablitas yang baru saya temui. Jika ada gerakan saya yang salah, para juri akan menunjukan wajah tidak senang, bahkan menggelengkan kepala. Akan tetapi, jika gerakan saya benar, kepala mereka akan mengangguk, jari jempol diangkat, sambil menebar senyum tipis-manis. Seakan-akan, saya sedang berada di ruangan ujian skripsi. Beruntung bahwa saya mampu melaluinya dengan cukup baik.

Pengalaman mengikuti kursus bahasa isyarat amat mengesankan sekaligus memberi saya banyak pelajaran. Saya menyadari bahwa kehadiran kaum disabilitas kerap kali kurang dihargai oleh keluarga, kerabat, bahkan masyarakat. Tak jarang orang menertawai mereka tatkala mereka mencoba berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa mereka. Saya bersyukur bisa mempelajari bahasa kaum disabilitas, walaupun hanya bahasa kaum tuna rungu. Namun, dengan itu, saya mampu memahami bagaimana para kaum disabilitas ingin agar kita menganggap mereka sebagai saudara apa adanya. Misalnya, ketika saya berbicara dengan seorang tuna rungu dengan memakai bahasa isyarat dan tidak memperhatikannya saat sedang berbicara, ia akan menganggap saya tidak menghargai kehadirannya.

Maka, pemahaman bahasa isyarat sering saya interpretasikan dalam keseharian saya sampai sekarang ini, terutama ketika bertemu kaum disabillitas. Misalnya, ketika ngobrol dengan Candra, seorang lelaki paruh baya yang mengalami tuna rungu dan kini bekerja di Paroki Hati Kudus Kramat. Setiap pagi dan sore, saya sering ngobrol dengannya, walaupun topik yang kami bicarakan cukup mudah, mulai dari soal makanan hingga menyangkut mimpi. Hal itu membuat kami saling bersahabat satu sama lain. Selain itu, ketika saya sedang jogging sore hari, saya biasa bertemu dengan beberapa kaum disabilitas di jalanan. Saya akan mengambil waktu sejenak untuk berkenalan dengan mereka. Bagi saya, pengalaman itu amat menyentuh hati saya.

Jika bertolak lebih dalam, saya juga tidak bisa melupakan semangat persaudaraan yang telah dibangun oleh St. Fransiskus dari Assisi. Suatu ketika, saat ia bertemu dengan orang kusta, ia segera memeluk orang kusta itu serta merawatnya dengan penuh kasihan. Setelah perjumpaan dengan orang kusta itu, Fransiskus menuliskan dalam wasiatnya, “apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan” (Was 3). Kisah St. Fransiskus itu membantu saya untuk merefleksikan kehadiran saya sebagai seorang pengikut St. Fransiskus di tengah dunia. Kehadiran saya di tengah masyarakat bukan hanya sekadar menunjukkan bahwa saya adalah seorang biarawan Fransiskan, tetapi kehadiran saya mesti membawa nuansa persaudaraan bagi banyak orang, terutama mereka yang dianggap lemah, miskin, dan dikucilkan dalam masyarakat.

Akhirnya, belajar bahasa isyarat merupakan langkah awal bagi saya untuk menjangkau para kaum disabilitas yang selama ini mendapat pengucilan dalam keluarga dan masyarakat. Saya mesti menjadi saudara bagi kaum disabilitas. Untuk sampai pada persaudaraan yang merangkul kaum disabilitas itu, saya harus menyangkal keegoisan dan keangkuhan dalam diri. Sebab, saya percaya bahwa Tuhan sedang memanggil dan menerangi langkah saya untuk mencapai kekudusan sebagaimana yang dikehendaki-Nya bagi kita semua, dengan menjadi saudara bagi mereka yang dianggap hina dan dina.

Felisian Novendro Ambal, OFM
Mahasiswa Semester III Prodi Filsafat Keilahian di STF Driyarkara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here