Mengapa Saya Merasa Tidak Berdaya?

169
Para tunawisma sedang mengantre pembagian makanan. (Foto dari website benedikt-labre.de)
5/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – “Persembahan kepada Tuhan bukan hanya soal materi, melainkan hati yang penuh cinta dan pemberian diri (waktu dan tenaga untuk menolong dan mendoakan) bagi sesama.” (Sr. Bene Xavier MSsR, 6 November 2021)

Sejak berada di Kota Munich, Jerman saya bekerja pada malam hari (pukul 19.00-24.00) berkeliling Kota Munich dengan mobil untuk membagikan makanan, minuman, pakaian (jaket, kaos kaki, topi, sarung tangan untuk penghangat) dan kantung tidur untuk para tunawisma. Makanan yang dibagikan adalah sumbangan dari beberapa komunitas biara di Munich, sedangkan pakaian merupakan donasi yang datang dari umat.

Saya bersama seorang rekan mengunjungi 11 titik, yang merupakan lokasi para tunawisma “mangkal”. Pada titik-titik yang kami kunjungi hingga pukul 22.00 biasanya mereka sudah menunggu kehadiran kami. Sedangkan pada titik-titik yang kami kunjungi di atas pukul 22.00, kami harus membangunkan mereka dari tidurnya.

Sambil membagikan roti, menuangkan teh panas untuk mereka minum di tengah dinginnya musim gugur, saya juga bercakap-cakap dengan mereka. Dari tatapan mata mereka, tersirat kepedihan, kesepian yang mereka alami. Namun kami bisa tetap bergembira bersama. Kadang kami tertawa bersama, tidak jarang pula bernyanyi atau sekedar menari kecil sambil diiringi musik.

Tugas yang saya lakukan bukan sekadar membagikan makanan dan minuman, tapi lebih dalam dari itu, membawa hati dengan cinta untuk mereka. Sebab yang mereka butuhkan bukan sekadar makanan dan minuman untuk mengobati rasa lapar, tapi lebih pada kehadiran seorang teman untuk sekedar bertegur sapa, bercerita, syukur-syukur juga bisa tertawa bersama.

Seringkali hati saya menangis, melihat mereka setiap hari tidur di emperan toko, di balik gardu listrik, di jalur tepi sungai dengan suhu yang sangat dingin (di tengah malam hingga dini hari bisa mencapai -2°C).  Kami datang dan membangunkan mereka, dan mereka akan dengan gembira bangun lalu menyantap roti dan teh panas. Beberapa tetap memilih tidur dan kami meninggalkan makanan di samping mereka.

Selesai mengerjakan itu semua tentu saja secara fisik saya merasa lelah, bekerja di malam hari, harus mengangkut makanan dan minuman, ditambah lagi cuaca yang sangat dingin. Tapi hati terasa sangat damai dan bahagia. Dalam hening tengah malam saya merenungkan, inilah jawaban yang Tuhan berikan ketika saya merasa “tidak berdaya.”

Suasana malam yang dingin di Kota Munich, Jerman. (Foto: Sr. Bene Xavier MSsR)

Mengapa saya merasa tidak berdaya?

Semasa kecil saya sering mengatakan dalam doa, “Tuhan, saya ingin jadi orang kaya.” Bukan tanpa alasan saya berdoa demikian. Kesulitan ekonomi yang dialami keluarga kami setelah meninggalnya ayah membuat saya merasa kesulitan untuk menyelesaikan studi. Maka saya bercita-cita menjadi orang kaya agar bisa membantu pendidikan anak-anak karena saya tidak mau melihat anak-anak kesulitan untuk studi dengan sebab alasan ekonomi.

Pada akhirnya ketika saya dewasa, Tuhan kabulkan doa saya. Saya memiliki karier yang bagus hingga penghasilan yang saya peroleh dapat saya gunakan untuk membantu studi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Apa yang saya berikan pada sesama, itulah persembahan dan ungkapan syukur saya pada Tuhan.

Namun di awal masa hidup membiara, kadang saya mengalami konflik batin. Situasi berbanding terbalik.Hal ini terjadi ketika saya tahu ada banyak orang kesulitan dan saya tidak bisa membantu apa-apa karena saya sendiri tidak punya uang. Saya merasa tertekan, merasa tidak berdaya, merasa bersalah karena tidak bisa membantu apa-apa. Dalam doa Tuhan menenangkan saya.

Setiap kali saya mendoakan mereka yang sedang kesulitan, suara hati saya mengatakan, inilah yang dapat kamu lakukan, inilah persembahanmu. Kamu memberikan waktu dalam hidupmu untuk mendoakan mereka yang kesulitan. Biarlah Tuhan mengirim orang lain untuk menolong mereka yang kesulitan. Hingga pelan-pelan Tuhan berikan saya kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi sesama, bukan dengan uang, melainkan pemberian diri (waktu, doa, tenaga).

Hati Seorang Pemberi

Ketika masih berada di Wina, Austria saya bekerja di sebuah toko fashion (sosial) yang seluruh hasil penjualannya digunakan untuk penyediaan rumah singgah bagi para tunawisma. Kini di Munich, Jerman saya mengunjungi para tunawisma. Ketika saya merasa tidak berdaya karena tidak memiliki uang untuk membantu mereka yang kesulitan, Tuhan berikan jalan pada saya untuk tetap bisa membantu sesama yang kesulitan.

Uang ataupun pemberian diri (waktu dan tenaga) sama baiknya. Sebab uang itu kita peroleh juga dengan pengorbanan waktu dan tenaga untuk kemudian diberikan bagi yang membutuhkan bantuan. Seperti seorang janda miskin yang memberi dari ketidakpunyaannya, setiap dari kita, di balik kekurangan, pasti punya sesuatu untuk dibagikan kepada sesama, entah itu berupa materi, waktu dan tenaga. Yang terpenting adalah semua yang diberikan didasari hati yang penuh cinta, itulah hati seorang pemberi.

Sr. Bene Xavier, MSsR dari Munich, Jerman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here