Kakakku, Anugerah bagi Hidupku

417
Penulis (kiri) bersama kakak.
3/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – AWALNYA hari ini adalah salah satu hari yang serba salah untukku. Sejak minggu lalu, aku sudah mengiyakan untuk meeting dengan tim pelayanan di malam ini. Aku lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun kakakku. Kakakku bisu tuli dan tinggal sendiri di rumah warisan keluarga kami. Biasanya aku membawanya makan keluar untuk merayakan ulang tahunnya. Hari ini pun, dia mengingatkanku akan seremoni ini. Repotnya lagi, bos di kantor tanpa diduga mengadakan meeting di sore hari. Kemungkinan bisa merusak jadwalku malam ini.

Aku hitung-hitung, kalau Tuhan berkenan, semuanya masih bisa diatur. Tetapi permasalahan tidak semudah yang kukira. Kakakku sejak siang mengajak ke restoran XYZ. Aku bilang dibungkus saja ya. Dia tidak mau. Dia maunya makan di tempat. Meetingku di kantor juga tidak mendukung hitung-hitunganku. Meetingnya panjang dan lebar. Kemungkinan besar aku tidak bisa mengikuti meeting dengan tim pelayanan. Atau aku tidak bisa merayakan ulang tahun kakakku?

Kakakku bisu tuli sejak bayi. Pada waktu aku lahir, dia sudah bisu tuli. Maka orangtuaku memberi aku nama belakang “Saviordi”, dari kata “savior”, yang berarti “penyelamat”. Maksudnya adalah agar aku bisa menjadi penyelamat keluarga, karena punya kakak yang cacat. Aku sendiri masih merasa belum berhasil menjadi penyelamat keluarga. Yang menjadi penyelamat keluargaku adalah Tuhan Yesus sendiri.

Pada waktu kecil, setelah ayah kami meninggal, kakakku dimasukkan ke sekolah di Kota Solo, padahal kami tinggal di Jakarta. Sehingga kakakku harus tinggal terpisah dari keluarga dan menetap di asrama. Hanya satu-dua kali dalam setahun aku dan ibu pergi menjenguknya. Kakakku kurus tinggal di asrama. Mungkin hidupnya banyak kesedihan.

Ada satu peristiwa yang aku tidak habis mengerti di masa itu. Di suatu kunjungan, ibu mengajak kakak ke pasar dan membelikannya mobil-mobilan. Aku tidak dibelikan. Entah kenapa dalam  perjalanan kembali ke Jakarta, di bis aku menangis. Pada waktu itu aku periksa diri, apakah aku iri? Kupikir tidak. Karena aku sering dibelikan mainan karena tinggal bersama ibu, sedangkan kakakku jarang dibelikan sesuatu. Apakah jika hari itu aku dibelikan mainan aku tidak akan menangis? Kupikir bukan itu masalahnya. Entah apa yang terjadi padaku hari itu. Justru hari ini aku baru bisa mendefinisikan perasaanku di saat itu: pada waktu itu aku “terharu”. Aku terharu karena kasihan pada kakakku yang jarang dibelikan mainan, dan terharu pada ibuku yang dalam kehidupan pas-pasan memaksakan diri untuk membelikannya mainan.

Setelah ibuku meninggal, praktis aku menjadi kepala keluarga bagi kakak dan adikku. Kakakku yang karena cacatnya, sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Sesekali dia mendapat pekerjaan, tetapi tidak berlangsung lama. Mungkin orang-orang akan mengatakan bahwa kakakku adalah salibku yang harus kupikul sepanjang hidupku. Aku minta ampun pada Tuhan, karena aku tidak ingin menganggap kakakku sebagai “salib”. Karena kenyataannya, kakakku adalah salah satu anugerah bagi hidupku. Dalam kehidupan kakakku, aku melihat betapa baiknya Tuhan. Betapa banyak malaikat-malaikat yang Tuhan kirimkan untuk mendukung kehidupanan kakakku. Naik bis TransJakarta bisa gratis, karena pemerintah memberikan fasilitas bagi orang cacat. Pada waktu pompa air di rumahnya rusak, tim LDD Katedral Jakarta  mengumpulkan dana untuk membantunya. Berbagai sumbangan sering diterimanya, baik dari saudara, teman, gereja, maupun pemerintah. Terus menerus aku menyaksikan kebaikan Tuhan bagi kehidupan kakakku.

Akhirnya hari ini berlangsung indah. Selesai meeting di kantor, aku segera menjemput kakakku untuk membawanya ke restoran XYZ. Di restoran aku buka zoom untuk mengikuti meeting dengan tim pelayanan. Hanya terlambat 12 menit. Puji Tuhan. Setelah makan berdua, seperti biasa kami foto-foto di restoran. Semua berlangsung sempurna karena Tuhan yang atur.

Selamat ulang tahun kakakku. Semoga bahagia selalu. Gapapa ya kalau sekarang kakak belum bisa bicara. Semoga kelak di rumah Bapa di surga, kakak akan bisa bicara dengan lancar, dan kita akan panjang lebar membicarakan kebaikan Tuhan di sepanjang hidup kita.

Julius Saviordi
Alumni KPKS Santo Paulus Tangerang

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here