Uskup Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR: Raja yang Melayani Laksana Hamba

88
5/5 - (1 vote)

HIDUPAKTOLIK.COM – Renungan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, 21 November 2021, Dan.7:13-14; Mzm.93:1ab, 1c-2,5; Why.1:5-8; Yoh.18:33b-37

UMAT beriman terkasih, dengan sengaja renungan tentang Kristus Raja Semesta Alam saya buat tanpa lebih dahulu membaca kutipan Kitab Suci untuk pesta ini, Minggu terakhir tahun liturgi 2021. Saya bertitik tolak pada makna ‘adventus’ yang berarti ‘kedatangan’ Putra Allah ke tengah-tengah dunia untuk menjalankan misi Allah menyelamatkan seluruh alam semesta yang diciptakan-Nya melalui Sang Sabda.

Dengan berbagai cara, Allah datang kepada kita manusia ciptaan-Nya, kapan saja dan di mana saja. Tetapi, kedatangan-Nya yang terlaksana melalui kelahiran Putra-Nya yang menjadi manusia kita kenal sebagai kedatangan pertama. Sedangkan kedatangan kedua, yang merupakan harapan kita yang pasti, ialah kedatangan sebagai Raja Semesta Alam yang dianugerahi kekuasaan abadi oleh Bapa. Kedua kedatangan ini merupakan peristiwa-peristiwa yang menentukan nasib seluruh ciptaan. Dengan demikian, istilah ‘adven’ atau ‘adventus’ (kedatangan) adalah ‘kata kunci’ yang menunjuk peran dan makna keberadaan Putra Allah yang senantiasa ‘menuju’ kepada kita.

Kedatangan pertama sudah terjadi melalui kelahiran Kristus di Betlehem. Kedatangan ini bercorak kesederhanaan meskipun ‘Yang Datang’ adalah Yang Mahatinggi berperan sebagai putra manusia yang membumi. Kedatangan ini boleh dilihat sebagai kedatangan untuk menyapa bumi dan segala isinya yang sedang dalam proses untuk dijadikan dijadikan ‘baru’. Meskipun Kristus begitu mulia, Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan melayani. Ajakan St. Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi 2:5-8, memberikan gambaran tentang proses dan makna kedatangan ini: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Selanjutnya, kedatangan kedua adalah kedatangan dalam serba kemuliaan, karena dalam kedatangan pertama Putra Allah telah taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib. Maka seperti kata St. Paulus (Flp. 2: 9-11): “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya Nama di atas segala nama, supaya dalam Nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengakui: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.” Kalau dilihat dari kacamata sejarah boleh dikatakan bahwa kedatangan Yesus yang serba mulia adalah akibat dari kedatangan pertama yang serba sederhana. Sebagai Raja yang mulia, Yesus Kristus adalah Yang Sulung dari segala ciptaan (Kol. 1:15 dst.) dan yang berkuasa atas raja-raja bumi (Why. 1:5a), namun kemuliaan-Nya bukan karena kita sebagai ciptaan memuliakan-Nya, tetapi karena ketaatan-Nya yang penuh kerendahan hati kepada Bapa-Nya di surga. Sedangkan kita memuliakan Dia demi keselamatan kita dan pembaharuan semesta alam.

Jika ditanyakan makna kedatangan pertama dan kedua bagi kita para murid Yesus, maka jawabannya terdapat pada ajakan St. Paulus, bahwa selama masa kedatangan Putra Allah, yang kita lihat sebagai masa penantian kedatangan Sang Raja, kita manusia harus menaruh pikiran dan perasaan seperti yang terdapat pada Kristus Yesus. Ajakan Paulus rasa-rasanya sejalan dengan tuntutan Tuhan Yesus kepada kita pada ‘penghakiman terakhir’ (Lih. Mt. 25,31 dst.).

Ia telah menjadi ‘domba’ yang dikorbankan pada kayu salib demi pelayanan-Nya untuk keselamatan seluruh ciptaan. Kalau Tuhan Yesus yang adalah Putra Allah dan Raja Semesta Alam bersikap rendah hati dan mengakui kita sebagai sesama saudara yang dilayani, apalagi kita murid-Nya. Ingat! Kelemahan kita manusia yang menjadi pokok-pangkal dosa ialah ‘mau menjadi seperti Allah’ (Kej. 3:5), yang tentu saja berbeda dengan keutamaan untuk ‘ikut ambil-bagian pada keilahian-Nya’.

Ingat! Kelemahan kita manusia yang menjadi pokok-pangkal dosa ialah ‘mau menjadi seperti Allah’!

HIDUP, Edisi No. 48, Minggu, 21 November 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here