Cinta untuk Rumah-Mu Menghanguskan Aku

97
4/5 - (4 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – “Tidak peduli seberapa berat kesulitanmu, cinta tetap butuh pengorbanan.” (Sr. Bene Xavier, 17 November 2021)

“Gunung kan kudaki, lautan kan kuseberangi,” begitulah seringkali kita dengar ungkapan yang menggambarkan perasaan orang yang sedang jatuh cinta. Artinya, tidak ada kekuatan lain yang melebihi cinta, bahkan untuk sesuatu yang rasanya mustahil. Mendaki gunung atau menyeberangi lautan tentu bukan hal yang mudah, tapi atas dasar cinta bisa saja orang lupa akan ketidakmampuannya dan melihat segala sesuatu mungkin untuk dilakukan. Lalu bagaimana saya membuktikan cinta saya pada sesama dan pada Tuhan?

Sejak berada di Kota Munich, Jerman hampir setiap pagi saya mengikuti Perayaan Ekaristi di Heilig Geist Kirche (Gereja Roh Kudus). Tidak ada seorang pun yang saya kenal di gereja ini. Tapi intensitas kehadiran satu sama lain, saya rasa membuat kami saling “mengenal” tanpa kenal dengan sebenarnya. Setidaknya saya yakin bahwa kami mengenali dari ciri-ciri fisik, oh laki-laki yang selalu berjaket kuning, oh perempuan tua berambut pirang yang selalu mengenakan mantila hitam, oh seorang ibu yang selalu membawa tas belanjaan, oh pemuda rapih yang selalu duduk di sisi kiri depan, oh si dia, dan seterusnya.

Siapa sosok yang menarik dan sangat menyentuh hati saya dalam Perayaan Ekaristi di Heilig Geist Kirche? Pertama kali mengikuti Perayaan Ekaristi di sana, hati saya amat tersentuh dengan pastor tua yang menggunakan tongkat. Terlebih ketika pembagian komuni, ia harus berjuang, tangan kanan memegang tongkat, tangan kiri membawa sibori. Ia harus menyelipkan tongkatnya agar bisa memberi komuni pada umat, lalu kembali memegang tongkatnya untuk menuju ke arah umat selanjutnya. Begitu seterusnya. Ya, sesuai protokol covid yang berlaku, bukan umat yang mendatangi pastor, sebaliknya si pastor yang harus berkeliling membagikan komuni. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan pastor tersebut untuk memimpin Ekaristi dan membagikan komuni dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.

Pada Perayaan Ekaristi di hari-hari berikutnya, hati saya tersentuh melihat seorang lelaki yang hanya memiliki satu kaki (kanan). Ia berdiri dan berjalan dengan menggunakan tongkat. Setiap hari ia juga menghadiri Perayaan Ekaristi di gereja tersebut. Kesetiaan lelaki berkaki satu itu membuktikan perjuangan hidupnya yang tidak mudah. Dengan satu kaki ia tetap menuju rumah Tuhan setiap hari. Seringkali kita yang memiliki kondisi kaki lengkap, bahkan memiliki kendaraan, masih saja punya alasan untuk tidak pergi ke gereja.

Sosok berikutnya yang sangat menyentuh hati saya adalah dua orang yang selalu datang bersama. Seorang perempuan duduk di kursi roda dan tampak tak bisa bergerak sama sekali, bahkan mungkin ia juga tidak dapat melihat atau mendengar. Seluruh tubuhnya tertutup selimut tebal dan menggunakan dua buah topi tebal. Ia selalu didampingi seorang lelaki yang setia mendorong kursi rodanya dan selalu membisikkan di telinga perempuan itu setiap kali bagian umat menjawab. Begitu juga saat konsekrasi dan Doa Bapa Kami, saya lihat lelaki itu mendekatkan bibirnya ke telinga si perempuan dan membisikkan sesuatu. Hati saya tersentuh melihat kesetiaan lelaki itu membawa perempuan berkursi roda setiap hari ke gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi. Banyak di antara kita yang mungkin memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa dan lebih memilih memanggil prodiakon untuk membawakan komuni bagi si pasien daripada berusaha membawanya ke gereja.

Gereja Roh Kudus, Munich, Jerman

Dari ketiga (atau empat) sosok tersebut yang saya lihat setiap hari di gereja, membuat saya teringat akan ayat Kitab Suci, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku” (Mazmur 69:10). Saya yakin, baik si pastor tua bertongkat, lelaki berkaki satu dan lelaki yang setia membawa perempuan berkursi roda, memiliki cinta yang begitu besar pada Tuhan dan juga pada sesama. Saya juga yakin, atas dasar cinta kepada Tuhan dan kepada sesama, maka pastor itu tetap setia memimpin Perayaan Ekaristi dan lelaki itu setia membawa si perempuan ke gereja setiap hari. Setidaknya hal itu dapat terlihat dari kesetiaan mereka hadir dalam Ekaristi setiap hari meskipun memiliki keterbatasan fisik.

Seperti Zakheus, seorang kepala pemungut cukai bertubuh pendek yang berusaha memanjat sebuah pohon ara hanya untuk dapat melihat Yesus (Lukas 19:1-10). Yesus sangat menghargai dan mengapresiasi iman dan usaha nyata yang dilakukan Zakheus hingga Ia meminta untuk datang ke rumah Zakheus dan mengatakan “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham,” (Lukas 19:9). Dalam doa pun saya memohon semoga Tuhan perhatikan doa dan harapan mereka (pastor bertongkat, lelaki berkaki satu, lelaki dan perempuan berkursi roda) sebab saya yakin orang-orang seperti merekalah yang telah sungguh “mendaki gunung” dan “menyeberangi lautan” demi cintanya kepada sesama dan kepada Tuhan.

Apakah saya masih akan memaklumi keterbatasan saya, ataukah saya akan melakukan pengorbanan untuk menunjukkan cinta pada sesama dan Tuhan?

Sr. Bene Xavier, MSsR dari Munich, Jerman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here