Spirit Misioner, 70 Tahun Xaverian di Indonesia

86
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – CARITAS Christi Urget Nos (Kasih Kristus memdorong kami). Adagium ini merupakan salah satu ‘sari pati’ dari spiritualitas para pastor Serikat Misionaris Xaverian (SX). Karena terdorong oleh semangat itulah, delapan orang pater misionaris perdana tiba di Tanah Air 70 tahun lalu.

Datangnya mereka ke sini pun sesungguhnya di luar rencana mereka. Awalnya, mereka ingin mewartakan Kabar Gembira di negeri Tirai Bambu. Namun, mereka diusir dari sana. Mereka melarikan diri. Mereka mengarahkan perjalanan mereka tak lagi balik ke tanah airnya, Italia tetapi ke bumi Nusantara ini. Berlabuh di Belawan, dari sana mereka melanjutkan perjalanan misi ke Padang, Sumatera Barat.

Tak dinyana. Benih sabda Tuhan tumbuh subur. Setelah kedatangan delapan orang, menyusul pater-pater dari Italia untuk mengembangkan karya misi tak hanya di Sumatera Barat. Mereka merambah ke Riau dan Sumatera Utara bagian Timur.

Ke Kepulauan Mentawai pun mereka berlayar. Sungguh luar biasa. Benih sabda Tuhan pun diterima oleh penduduk setempat yang pada saat itu masih terisolir. Kepulauan ini kini telah berubah drastis. Tak hanya jumlah umat dan bangunan gereja yang bertambah. Benih panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati pun bertumbuh.

Dan, lagi serikat yang didirikan Santo Guido Maria Conforti ini pun, selain melayani beberapa paroki di Keuskupan Agung Jakarta, juga membuka rumah pendidikan bagi calon-calon misionaris dari Indonesia. Kini, putra-putra Xavarian dari Indonesia telah menjadi misionaris di pelbagai negara di dunia. Bahkan, seorang Xaverian asal Indonesia belum lama ini diangkat Vatikan menjadi Uskup Keuskupan Padang.

Ya, karya misi (ad gentes – kepada bangsa-bangsa) menjadi salah satu ciri serikat ini. Mereka harus keluar dari budaya dan bangsa sendiri untuk mewartakan firman Tuhan kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Adalah kewajiban bagi mereka untuk pergi dan pergi  ke medan misi yang tergolong medan yang tidak mudah. Di Chad misalnya, para Xaverian harus berjibaku membantu penduduk yang masih dililit persoalan ekonomi. Jangankan bedeng sederhana, ‘gereja’ pun masih di bawah pohon yang rindang. Namun, sekali lagi, kabar keselamatan Kristus harus diwartakan kepada mereka.

Xaverian tentu saja bukan satu-satunya tarekat di Tanah Air yang menuai panenan. Banyak kongregasi lain juga mengalami hal yang sama. Jika dahulu para misionaris datang ke Nusantara, sekarang sebaliknya, para misionaris dari Nusantara yang bertolak ke pelbagai negara di dunia, termasuk ke negara-negara Eropa yang dahulu mengirim begitu banyak misionaris.

Paus Fransiskus dalam Sinode Para Uskup 2021-2023 mengangkat kembali semangat misi Gereja sebagai bahan permenungan umat Katolik sedunia. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan kembali. Bagaimana misi Gereja dilakukan kini dan ke depan di tengah perubahan dunia yang tak terprediksi dan tantangan yang sangat dinamis di era digital ini.

Xaverian hanyalah satu satu dari ‘sekrup kecil’ Gereja dalam menanggapi dan mengimplementasikan semangat misioner Gereja universal itu.

HIDUP, Edisi No. 48, Tahun ke-75, Minggu, 28 November 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here